Saturday, October 1, 2022

Cerita Tentang Tenis Lapangan : Dari Olahraga Telapak Tangan Hingga Favorit Para Bangsawan

Pensiunnya Roger Federer beberapa waktu lalu membuat "gempar" para penikmat olahraga dunia, terutama penggemar tenis lapangan. Pecinta olahraga mana yang tak kenal dia. Sang Master, The King, The GOAT, serta banyak gelar dan julukan lain yang disematkan pada pria berkebangsaan Swiss tersebut. Legenda Tenis Lapangan ini telah membuat orang banyak jatuh cinta pada tenis lapangan, olahraga yang telah membesarkan namanya.
Roger Federed (via scotsman(dot)com)
Laver Cup 2022 kemarin menjadi pertandingan resmi ATPnya yang terakhir. ATP (Association of Tennis Professionals) merupakan wadah perkumpulan para petenis profesional berkumpul. Roger Federer yang berada dalam tim Eropa berduet dengan rival sekaligus sahabatnya, Rafael Nadal. Meski tak menang, namun pertandingan itu menjadi sangat emosional. The last dance, begitu para fans menyebutnya.

Tenis Lapangan (atau familiar dengan sebutan tenis) merupakan salah satu olahraga populer di dunia. Data world atlas menempatkan tenis sebagai olahraga favorit nomor 4 dunia dengan 1 miliar orang penggemar. Tapi sebelum mengulik lebih jauh, mari kita cari tau seluk beluk tentang olahraga populer ini.

Apa itu Tenis Lapangan?
Meski sudah begitu populer, namun tak ada salahnya kita menjelaskan secara singkat mengenai olahraga ini. Kali aja ada yang belum tahu, ye kan? Tenis Lapangan merupakan olahraga yang menggunakan raket dan bola kecil (kami masyarakat Natuna menyebutnya dengan bola kasti) sebagai alat permainannya, permainan ini dimainkan di lapangan berukuran persegi panjang dan dipisahkan dengan net setinggi kurang lebih satu meter yang melintang di tengah-tengah lapangan.
Tenis Lapangan (via thredbo(dot)com(dot)au)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Tenis Lapangan adalah permainan yang menggunakan bola (sebesar kepalan) sebagai benda yang dipukul dan raket sebagai pemukulnya, dimainkan oleh dua pemain (dua pasang), di lapangan yang dibatasi oleh jaring setinggi kira-kira satu meter. Sementara itu pengertian tenis lapangan atau lawn tennis menurut Encyclopedia Britannica adalah permainan di mana dua pemain berlawanan (tunggal) atau pasangan (ganda) menggunakan raket yang diikat dengan kencang untuk memukul bola dengan ukuran, berat, dan memantul di atas jaring (net) di lapangan berbentuk persegi panjang.

Sejarah Tenis Lapangan
Sejarah tenis lapangan menurut laman tennistheme sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Para peneliti olahraga menemukan bukti-bukti bahwa cikal bakal permainan tenis lapangan sudah dimainkan sejak zaman Yunani Kuno.

Lalu dikembangkan menjadi permainan bola tangan yang berkembang di Prancis pada abad 12 dengan sebutan "paume" yang berarti telapak tangan. Dalam beberapa tahun, "paume" menjelma menjadi "jeu de paume" yang berarti permainan telapak tangan. Permainan ini pertama kali dibuat oleh para biarawan Eropa sebagai hiburan pada acara resmi. Awalnya bola dipukul dengan tangan, lalu berinovasi dengan sarung tangan kulit. Sarung tangan kulit ini berganti dengan pegangan adaptif agar menjadi efektif saat memukul dan servis bola. Ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya raket tenis. Tak hanya raket, bola tenis dalam sejarahnya juga mengalami berbagai perkembangan. Bola tenis pertama terbuat dari kayu, lalu berkembang dengan diisi bahan selulosa agar mudah untuk memantul.
Cikal Bakal Permainan Tenis (via tennistheme(dot)com)
Permainan ini menjadi populer di kalangan biarawan selama abad 14. Meski gereja induk kecewa, namun permainan ini berkembang dan menyebar, serta menjadi populer di Eropa. Terlebih lagi permainan ini diadopsi oleh keluarga kerajaan.

Salah satu raja yang 'gila' akan permainan ini adalah Raja Prancis Louis X, ia menjadi orang pertama yang membangun arena permainan ini di dalam ruangan (indoor) dengan gaya modern, ini dilakukan karena sang Raja tidak suka main di luar. Desain lapangannya menjadi acuan dan menyebar di seluruh istana Kerajaan di Eropa. 
Raja Prancis Louis X, via theeuropeanmiddleages(dot)com
Namun sayang, pada bulan Juni 1316, Raja Louis X meninggal setelah bermain "jeu de paume". Beberapa sumber menyebutkan ia meninggal karena kelelahan karena setelah pertandingan yang melelahkan ia meminum banyak anggur dingin yang menyebabkab radang paru-paru, ada pula yang beranggapan bahwa ia diracun. Namun, kematian Raja Prancis ini tak meredam popularitas permainan tenis, permainan ini terus berkembang.

Selama abad 16 hingga 18, permainan jeu de paume mendapat perhatian oleh para Raja dan Bangsawan. Para pemain Prancis akan memulai permainan ini dengan meneriakkan kata Tenez! yang berarti Mainkan! Dan inilah awal dari kata Tenis berasal. Beberapa juga menyebutnya dengan real tennis dan royal tennis.

Abad 16 juga menandakan dimulainya perkembangan olahraga tenis dengan masif. Pada tahun 1530an, Raja Inggris Henry VIII membangun lapangan tenis di Hampton Court Palace. Selang setengah abad berikutnya, yaitu sekitar tahun 1583, raket tenis pertama dibuat dan dikenalkan di Italia.
Hampton Cort Palace (via pinterest(dot)co(dot)uk)
Dalam literatur lain menyebutkan, kata tenis berasal dari sebuah tempat di tepi sungai Nil bernama Tinnis. Pada sumber yang sama juga menyebutkan asal kata raket berasal dari rahat (bahasa Arab yang berarti telapak tangan).
Tenis semakin berkembang pada abad 19. Pada tahun 1870, di distrik Wimbledon didirikan All England Croquet Club. Pada masa ini, olahraga tenis masih merupakan permainan dalam ruangan yang dimainkan orang-orang kaya. Seiring berjalannya waktu All England Croquet Club berubah menjadi All England Tennis and Croquet Club dan menjadi klub tenis pertama di dunia.
Permainan Tenis di dalam ruangan, via tennistheme 
Tahun 1873, seorang bernama Mayor Walter Wingfield menciptakan versi tenis yang bisa dimainkan di luar ruangan di halaman rumput. Permainan itu disebut 'Sphairistike' (bahasa Yunani yang berarti "bermain bola") dan pertama kali memperkenalkannya ke Wales (UK). Permainan ini dimainkan dengan waktu yang ditunjukkan pada jam pasir di halaman rumput Manor House oleh orang-orang kaya Inggris, tempat dimana tenis dewasa ini berkembang.

Wingfield menjelaskan permainan Sphairistike yakni pada sebuah tempat dengan dua tiang, jaring, raket, dan bola karet India, ditambah dengan peraturan-peraturan permainan. Pada masa ini, Wingfield sudah memulai memainkan tenis modern. Seiring berjalannya waktu, penyebutan Lawn Tennis (tenis rumput) dipilih untuk digunakan dari pada Sphairistike, dan Wingfield mulai mengganti sebutan olahraga itu dengan lawn tennis.
Wingfield dan ilustrasi permainan sphairistike
Penggunaan kata Lawn Tennis (Tenis Rumput) masih terus digunakan meski dewasa ini lapangan tenis sudah mulai bervariasi. Organisasi Tenis Internasional juga mengawali namanya dengan ILTF (International Lawn Tennis Federation) dan berganti menjadi ITF (International Tennis Federation). Penggunaan kata Lawn Tennis juga sampai ke Indonesia, organisasi induk tenis Indonesia hingga detik ini masih bernama PELTI (Persatuan Lawn Tennis Indonesia), baik sejarah ITF dan PELTI akan kita bahas kemudian, ok!



Sumber:
https://www.tennistheme.com/tennishistory.html
https://deepublishstore.com/materi/tenis-lapangan/
https://bobo.grid.id/

Wednesday, August 17, 2022

Ini Dia 7 Pulau Eksotik yang Harus Dikunjungi Saat Kamu di Natuna

Bergeografiskan kepulauan menjadikan wilayah Natuna memiliki ratusan pulau yang tersebar di Laut Natuna Utara. Gugusan kepulauan ini terbagi menjadi tiga di antaranya gugusan Natuna Besar, gugusan Natuna Utara, dan gugusan Natuna Selatan. Menurut data, Kabupaten Natuna memiliki 154 pulau, dan yang baru berpenghuni hanya sekitar 27 pulau saja. Sisanya kosong, atau sebagai tempat singgah nelayan dan beberapa membuat pondok kecil di sana.

Selain ratusan pulau, Natuna juga dianugerahi laut dan pantai yang indah, dan jika dipadukan dengan pulau-pulau ini akan menjadi combo mantap untuk menikmati alamnya yang luar biasa. Ratusan pulau indah nan eksotik yang tersebar di laut bak mutiara yang bedelau, menjadikan siapapun yang di dekatnya akan terpanan dan terpukau.

Nah, kesempatan kali ini saya akan spil tujuh pulau eksotik di Natuna. Kali ini yang dapat giliran adalah pulau-pulau di sekitar pulau Bunguran Besar, ygy. Pulau-pulau lainnya akan menyusul pada part-part berikut (insya Allah). Apa saja 7 pulau itu? Jom!!!

1. Pulau Senua
Pulau yang terletak di wilayah Kecamatan Bunguran Timur ini memiliki bentuk unik karena menyerupai orang hamil yang sedang berbaring. Jika ingin ke Pulau Senua, rute yang sering dilalui adalah lewat pelabuhan Teluk Baruk di Desa Sepempang yang berjarak sekitar 5 km saja dari pusat Kota Ranai. Di pelabuhan Teluk Baruk banyak tersedia mutur, kapal kecil yang biasa digunakan sebagai transportasi yang melayani rute ke Pulau Senua. Perjalanan dari pelabuhan Teluk Baruk ke Pulau Senua memakan waktu 20 - 30 menit saja, dan selama perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan indah alam di sisi timur pulau Bunguran.
Pulau Senue
Pulau Senua memiliki pasir pantai yang putih yang berkilau. Lautnya juga penuh dengan bebatuan karang yang indah, aktivitas snorkling dan diving sangat direkomendasikan di sini. Pulau ini juga merupakan salah satu Situs Geologi (geosite) dari Geopark Natuna. Keragaman geologi yang dimilikinya menjadi dasar pulau ini ditetapkan sebagai warisan geologi dengan usia bebatuan mencapai puluhan juta tahun. Selain sebagai geosite, pulau ini merupakan salah satu pulau terluar milik Republik Indonesia yang ditetapkan melalui Keputusan Presien.

2. Pulau Kukop
Masih di sisi timur pulau Bunguran, Pulau Kukop berada di wilayah kecamatan Bunguran Selatan, Desa Cemaga Utara. Salah satu jalan menuju pulau ini adalah lewat pelabuhan Kota Tua Penagi. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 40-60 menit dengan melewati muara sungai Pering/sungai Balau.
Pulau Kukop (foto: Mandhes)
Pulau Kukop dikelilingi oleh pantai berpasir putih. Pulau ini tiada berpenghuni, namun terdapat kebun kelapa yang tersusun rapi milik warga. Berkemah di pulau Kukop sangat direkomendasikan. Tidak ada karang di pulau ini sehingga aktivitas yang bisa dilakukan hanya berenang menikmati segarnya air laut Natuna.

3. Pulau Aka
Lokasinya terletak di Desa Cemaga, Kcamatan Bunguran Selatan, sekitar 25 km dari pusat Kota Ranai. Pulau Aka merupakan saah satu pulau yang terdekat dari Pulau Bunguran Besar, hanya berjarak 100 meter dan sudah terhubung dengan pelabuhan.
Pulau Aka (foto: Mandhes)
Aka berarti Akar, dahulu di tepian pantai Pualu Bunguran Besar ini terdapat sebuah pohon Penage yang besar. Saking besarnya pohon itu, akarnya merambat sampai ke pulau kecil di dekatnya. Pohon Penage ini menjadi awal nama kampung Cemaga, dan akar pohon yang merambat hingga ke pulau menjadi asal mula penamaan Pulau Aka (Akar). Pulau Aka tidaklah luas, hanya seluas kurang lebih 500 m2 dan didominasi oleh bebatuan. Meskipun kecil, pulau Aka memiliki bebatuan dengan usia paling tua di Natuna untuk saat ini, sehingga pulau ini juga ditetapkan sebagai situs geopark Natuna seperti pulau Senua.

4. Pulau Panjong
Sekarang kita bergeser ke arah utara Pulau Bunguran Besar. Pulau Panjong, terletak di Desa Teuk Buton, Kecamatan Bunguran Utara. Panjong berarti Panjang, pulau ini membentang kurang lebih 2 km dan merupakan 1 dari dua pulau milik Desa Teluk Buton. Pulau Panjang terdiri dari bebatuan yang lebih banyak ditemukan di sebelah utara, hingga area berpasir di sebelah selatan. 
Pulau Panjong (foto: Mandhes)
Menuju Pulau Panjang memakan waktu sekitar 60 menit berkendara dari Kota menuju pelabuhan desa, lalu menyebrang dengan mutur sekitar 15 menit untuk mencapai pulau panjang ini. Di sekililing pulau banyak terdapat karang sehingga bagus untuk kamu kamu yang menyukai aktivitas maritim. Pulau Panjong berdekatan dengan Pulau Pindek dan situs Geopark Tanjung Datuk.

5. Pulau Setanau
Pulau Setanau berada di sebelah selatan Pulau Bunguran Besar, tepatnya berada di wilayah administrasi Kecamatan Pulau Tiga. Pulau Setanau merupakan satu dari sekian banyak pulau yang berada dalam gugusan Pulau Tiga, termasu dalam grup pulau-pulau Natuna Besar.
Pulau Setanau (foto: Mandhes)
Dari pusat Kota Ranai kita bisa menuju ke pelabuhan Lampa dengan waktu tempuh sekitar 60 menit. Dari pelabuhan Lampa, kita bisa menuju Pulau Setanau dengan lama perjalanan sekitar 30 menit dengan mutur, melintasi Selat Lampa dengan pemandangannya yang indah. Sama seperti Pulau Senue dan Pulau Aka, Pulau Setanau juga merupakan situs geopark Natuna dengan kekayaan geologinya yakni bebatuan dari kerak samudera yang berusia 188juta tahun.

6. Pulau Penganak
Pulau ini kecil nan eksotis berikutnya datang dari sisi barat Pulau Bunguran Besar. Tap, Pulau Penganak namanya, berada di wilayah administrasi Desa Kelarik Kecamatan Bunguran Utara. Puau Penganak merupakan satu dari sekian banyak pulau-pulau kecil di Kelarik. Tentunya dengan pemandangan indah yang memanjakan mata. Kelarik dahulu merupakan kampung tua, jarak Kelarik ke Kota Ranai berkisar 60km dan dapat ditempuh dalam waktu 60 - 90 menit. 
Pulau Penganak (Foto: Syafrizal)
Rute menuju Pulau Penganak bisa dilakukan lewat pelabuhan-pelabuhan yang ada di Kelarik, yang sering digunakan adalah Pelabuhan Tanjung Ba'dai. Dari pelabuhan ke Pulau Penganak hanya memakan waktu 20 menit saja. Pulau Penganak banyak ditumbuhi pohon kelapa dan dikelilingi pasir putih. Terdapat banyak karang di sekitarnya namun dengan kondisi yang kurang baik. Namun jangan khawatir untuk kelaparan jika sedang berkemah di pulau ini, sebab laut sekitar Pulau Penganak merupakan surga bagi para pencari ikan. Selain itu, lautnya juga ramah jika kita ingin berenang, karena pasirnya cenderung landai.

7. Pulau Maguk
Pulau terakhir dalam pembahasan ini terletak masih di sisi barat Pulau Bunguran. Kali ini berada di wilayah Desa Kelarik Utara, Kecamatan Bunguran Utara. Jalan terdekat menuju Pulau Maguk adalah dari Pelabuhan Mabai yang memakan waktu 20 - 30 menit degan mutur. 
Pulau Maguk (foto: Mandhes)
Pulau Maguk merupakan pulau kecil seluas kurang lebih 200 m2. Ditumbuhi oleh tanaman liar dan dikelilingi pasir putih. Laut sekitar Pulau Maguk dikelilingi oleh bebatuan karang, namun banyak yang rusak oleh aktivitas manusia. Beberapa karang yang bagus masih bisa ditemui, pas untuk kamu kamu yang suka snorkling dan diving. Selain memiliki pemandangan indah, dan jika beruntung kita bisa melihat penyu bertelur di pulau ini. 

Nah, itu tadi 7 pulau eksotis yang ada di Natuna. Saat ini baru bisa dijelaskan 7 pulau, semoga tulisan ini berlanjut ke bagian-bagian berikutnya hingga tuntas 154 pulau, ya. Aamiin. Postingan ini juga merupakan "challenge" dari rekan-rekan Blogger Kepri dalam memeriahkan HUT ke 77 RI, yakni membuat tulisan dengan tema serba tujuh. Okey sip. Babay!!





 

Friday, May 20, 2022

Mantau Kekah, Cara Asyik Baru Menikmati Desa Wisata Mekar Jaya

Bicara tentang keanekaragaman hayati, Natuna memiliki potensi yang luar biasa. Beragam jenis flora dan fauna bisa ditemukan di daerah ini, beberapa di antaranya ada yang berada dalam status langka, beberapa yang lain ada yang hanya bisa ditemukan di Natuna, dan ada pula yang memiliki "hak paten" berupa nama-nama daerah di Natuna dalam sebutan ilmiahnya. Ada Leptobrachella serasanae, spesies katak kecil yang ditemukan di pulau Serasan. Dan ada juga Presbytis natunae, primata unik yang hanya ditemukan di Natuna.
Kekah di Desa Mekar Jaya
Presbytis natunae merupakan primata endemik Natuna, masyarakat Natuna menyebutnya Kekah. Habitatnya paling banyak tersebar di beberapa tempat di pulau Bunguran Besar. Batu Sindu, Sedarat Baru, Bandarsyah, Sungai Ulu, dan Mekar Jaya merupakan beberapa tempat yang diduga sebagai rumah dari si Kekah ini. Hewan ini tergolong langka, maka melestarikannya merupakan hal yang perlu dilakukan.

Kekah merupakan hewan pemalu yang hidup berkelompok, tubuhnya berwarna hitam dan berekor panjang, terdapat bulu berwarna putih di badan dan matanya sehingga terlihat seperti menggunakan rompi dan kacamata, lucu dan unik. Kekah dewasa memiliki taring panjang yang ia gunakan untuk membuka biji karet yang merupakan makanan favoritnya.

Karena langka, Kekah jadi bernilai tinggi, banyak yang ingin memeliharanya, untung saja "perburuan" Kekah belum masif terlihat. Namun tetap perlu waspada, sebab jika terus diburu akan mempengaruhi populasi hewan endemik Natuna ini. Saya dari kecil dulu jarang sekali melihat Kekah secara langsung, pernah secara tak sengaja di Batu Sindu, namun hanya sebentar, si Kekah langsung menghilang dalam belantara hutan. Dan dahulu juga tidak sepeduli seperti saat ini terhadap kelestarian Kekah.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin mengerti bahwa keberadaan Kekah memang harus dilestarikan. Pembangunan yang sedikit banyak telah membuat habitat asli Kekah juga tergerus pelan-pelan. Padahal, jika "dimanfaatkan", keberadaan Kekah di Natuna menghasilkan banyak peluang, penelitian dan wisata adalah beberapa dari sekian banyak potensi yang "dihasilkan" oleh si Kekah. Dan Desa Mekar Jaya, Bunguran Barat menyadari itu.

Beberapa waktu lalu, saya kembali mengunjungi desa ini. Sebuah desa yang terletak di bagian barat daya Pulau Bunguran Besar. Butuh waktu sekitar 90an menit dari pusat kota untuk mencapai desa Mekar Jaya. Cek Gu Ahdiani, inisiator kegiatan "mantau kekah" di Desa Mekar Jaya sudah menunggu kami di rumahnya. Setelah santai sejenak, kami langsung ke "inti acara" mengapa saya ke sini: melihat Kekah. Namun sebelumnya, kami diajak untuk mengitari sungai sambil makan siang di atas spitbut (perahu cepat) di tengah sungai dan hutan bakau. Lauk ikan balado menjadi menu terlezat hai itu.
Cek Gu Ahdiani (baju loreng) sang inisiator mantau kekah.
Menurut Cek Gu Ahdiani, Kekah di desa Mekar Jaya biasanya keluar dari sarang untuk mencari makan pada pagi hari sekitar pukul 5.30 - 9, dan sore hari sekitar pukul 3 - 6. Oleh karena itu kami diajak jalan-jalan di sekitar hutan mangrovenya terlebih dahulu sembari mengisi waktu.

Saat kami pulang dari makan siang, dalam perjalanan dari dermaga menuju kediaman Cek Gu, kami diberitahu warga bahwa ada segerombolan Kekah yang sedang nangkring di pohon karet. Warga ini memberitahukan kami dengan bahasa isyarat dari mulutnya, seakan-akan paham betul jika membuat gaduh gerombolan Kekah ini akan lari kabur. Setelah mendapat informasi tersebut, kami lalu melanjutkan perjalanan. Namun pandanganku tiba-tiba teralihkan oleh sekawanan Kekah yang sedang asyik makan di kebun karet milik warga. Karena teralu exited, saya sedikit berteriak sehingga membuat sekawanan Kekah tersebut ikut panik. Dan akhirnya, karena sifat pemalunya tersebut, mereka kembali ke hutan.
Beberapa kekah muda melompat di antara pepohonan karet menuju ke dalam hutan, sementara induk kekah yang menggendong bayinya terlihat sangat panik, seperti bingung antara lari menyelamatkan diri sementara ada bayi yang ia embok (gendong). Seekor Kekah, sepertinya sang Alfa, melompat kesana kemari memastikan anggotanya selamat, ia yang terlihat paling sibuk dalam rombongan itu. Teriakan Kekah bersaut-sautan, berkomunikasi, memberi komando untuk menyelamatkan diri.

Saya merasa bersalah, karena kehebohan yang sedikit tadi membuat mereka lari. Benar-benar Kekah ini hewan pemalu, jika keberadaannya diketahui, ia akan kembali ke sarangnya lagi. Padahal jika sedikit tenang dan sikap sedikit tak peduli, rombongan Kekah ini akan tetap santai menikmati makan siangnya. Sebab tempat kami menemukan Kekah ini hanya berjarak 50 meter saja dari rumah dan aktivitas warga. Namun alhamdulillah, kami mendapat beberapa gambar dan video Kekah, hingga rekaman suaranya, asli dari alam, "fresh from the oven".
Bisa melihat Kekah merupakan target utama, dan itu telah tercapai. Kami pulang ke kediaman Cek Gu dan beristirahat sejenak. Sambil berdiskusi ringan. Cek Gu berkata bahwa ada ratusan ekor Kekah di Mekar Jaya, dan terbagi dalam beberapa kelompok, dan ada beberapa tempat favorit Kekah di desa ini, kebun karet warga tadi salah satunya. Selain karet, Kekah juga menyukai rambutan dan buah matoa.
Mantau Kekah
Dalam kegiatan mantau Kekah, kita harus jeli melihat di sekitaran pohon, karena selain pemalu, Kekah juga ahli kamuflase, sulit menemukannya ketika ia berada di pepohonan kalau mereka tidak bergerak. Dan kita juga harus tenang ketika mengetahui keberadaannya. Karena jika sedikit heboh saja, si Kekah akan kabur menghilang.
Esok harinya di pagi hari, kami mencoba mantau Kekah lagi, kali ini di lokasi yang berbeda, salah satu tempat favorit Kekah. Namun pagi itu sepertinya kami belum hoki untuk menemukan sekelompok kekah di tempat ini. Malah kami menemukannya di lokasi kemarin, dan diduga masih dengan kelompok kekah yang sama dengan yang kami temui kemarin.

Pertemuan kedua dengan mereka ini tak saya sia-siakan. Saya lebih tenang, selow dan sedikit berwibawa 😄. Seperti tak terjadi apa-apa, namun teropong dan kamera saya standby untuk mengambil potret mereka. Beberapa gambar telah kami dapati, rasanya puas sekali, melihat langsung, mendengar suaranya, dan mendapatkan hasil jepretannya. Benar-benar pengalaman baru yang luar biasa. 
Ciluk, baaaaaa
Setelah dari lokasi ini, kami diajak oleh Cek Gu ke satu lokasi lagi. Sebuah kebun yang akan direncanakan untuk menjadi basecamp mantau kekah, dimana kelak di sini akan ditanam berbagai tanaman buah untuk memancing Kekah datang lalu kita bisa memantaunya sambil bersantai di pondok dan menikmati alam. Ini merupakan rencana Cek Gu dalam program mantau Kekah ke depan. Kami sangat mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan untuk menjaga kelestarian hewan Natuna yang ikonik ini.

Semoga keberadaan Kekah tetap lestari. Sehingga bisa memperkenalkan negeri, bahwa tempat kita juga kaya akan keanekaragaman hayati.



Kekah, 
Dunianya beratapkan langit, 
jangan dikurung dalam kandang yang sempit.
Geraknya melompat di antara pohon dan batang, 
jangan dikekang dengan mengikatnya di tiang.
Biarkan mereka di hidup bebas di belantara hutan,
bukan untuk dijualbelikan.
Biarkan mereka nikmati alam,
sebagaimana kita juga ingin hidup tentram.

--------------------------------

instagram : @mantau_kekah

Wednesday, May 18, 2022

Ragam Cara Asyik Mengisi Liburan Produktif di Desa Mekar Jaya

Setelah sebulan berpuasa dan dilengkapi dengan kegembiraan di bulan syawal, saya rasa harus kembali melakukan banyak kegiatan biar produktif seperti kata orang-orang. Saat itu juga saya memutar otak memikirkan kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mengisi libur panjang kali ini. Lama juga mengingat satu demi satu tempat-tempat menarik di sekitaran kota untuk bisa dikunjungi. Memang, Kota Ranai dimana tempatku tinggal ini dikelilingi oleh tempat-tempat menakjubkan, mulai dari pantai, pulau, gunung hingga hutan.

Setelah memilah dan memilih, pilihan saya tertuju pada Desa Mekar Jaya. Desa ini sudah pernah saya review dalam tulisan saya terdahulu tentang wisata mangrovenya yang indah. Wisata alternatif yang digagas oleh para pemuda desa dalam menggali potensi alamnya. Hasilnya, meskipun terletak di sudut barat daya Pulau Bunguran ini, Desa Mekar Jaya banyak dikenal hingga saat ini, baik oleh para wisatawan, hingga peneliti. Desa Mekar Jaya juga masuk dalam 300 besar dalam acara Anugerah Desa Wisata Indonesia tahun 2022 ini. Kece gilee.!

Saya kagum dengan pemuda dan masyarakat desa ini yang tak henti-hentinya bergerak untuk menggali potensi yang ada. Selain tanaman bakau dan kuliner ketamnya yang lezat, Desa Mekar Jaya masih banyak menyimpan potensi alam yang harus lebih giat lagi digali, yang nantinya jika dikelola dengan baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi penduduknya.

Hutan bakau yang dijadikan wisata mangrove Mekar Jaya merupakan potensi wisata dan penelitian serta konservasi. Di desa ini juga banyak tersimpan berbagai macam barang antik yang kerap ditemui warga. Beberapa waktu lalu warga bersama dengan Disdikbud Natuna mengidentifikasikan peti mati kuno yang disinyalir berusia ratusan tahun. Ini menandakan desa Mekar Jaya merupakan perkampungan tua di masa lampau, dan bisa jadi pula merupakan peradaban awal di pulau Bunguran.

Lalu, desa yang dikelilingi hutan dengan pepohonan besar ini juga merupakan rumah bagi Kekah Natuna (Presbytis natunae). Primata sejenis langur ini dijadikan ikon untuk branding Natuna. Dan "istananya" berada di Desa Mekar Jaya ini. Hal ini juga yang dimanfaatkan oleh warga setempat untuk memanfaatkan potensi alamnya, mendatangkan tamu baik itu untuk berwisata maupun meneliti dengan mengenalkan paket Mantau Kekah.

Yap, Mantau Kekah merupakan sebuah paket dan aktivitas baru yang ditawarkan di Desa Wisata Mekar Jaya. Setelah memutuskan untuk pergi kesini, saya lantas menghubungi local hero, Pak Ahdiani yang akrab saya panggil Cek Gu. Menginfokan bahwa kami akan mengunjungi desa Mekar Jaya diakhir pekan untuk Mantau Kekah. Cek Gu "merestui" dan kami pun berangkat menuju ke sana.

Perjalanan dari Ranai Kota kami mulai pukul 8 pagi. Menuju Desa Mekar Jaya menempuh waktu kurang lebih 90 menit berkendara dengan kecepatan rata-rata. Rute yang dilewati adalah pesisir timur pulau Bunguran hingga melewati Kecamatan Bunguran Selatan. Lalu belok ke arah barat ketika menemui kantor PLN di Pian Tengah. Dari simpang PLN Pian Tengah menuju Desa Mekar Jaya yang berjarak 9 km itu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 15-20 menit dikarenakan kondisi jalan yang kurang memadai.
Bebuel nabuk (bincang santai) dengan Cek Gu
Setelah sampai di Desa Mekar Jaya kami sudah ditunggu Cek Gu di rumahnya. Bertamu sebentar sambil "sungkem" dan menikmati tambul raye (kue lebaran) karena masih dalam suasana syawal. Juga sambil ngobrol-ngobrol ringan seraya melepas lelah. Kemudian kegiatan kami langsung dimulai. Kali ini belum untuk mantau kekah, karena menurut Cek Gu, kekah akan keluar mencari makan sekitar pukul 3-5 sore hari, dan pukul 6-9 pagi harinya. Jadi kegiatan kami kali ini adalah menelusuri sungai di menuju hutan Desa yang masuk dalam hutan kawasan zona kuning dan hijau. Menuju kesana menggunakan spitbut/jungkong mesin (speedboat). 
Menelusuri hutan desa.
Turun dari pelabuhan Mekar Jaya Mangrove Park, kami menuju muara dan masuk ke wilayah dusun Sebuton, memasuki Sungai Temeghang dan Sungai Mak Keghak. Menelusuri sungai-sungai berdinding bakau merupakan cara asyik pertama dalam menikmati libur panjang akhir pekan ini. Bonus dari perjalanan menyusuri sungai ini adalah kami bisa melihat langsung buaya yang sedang "ngetem" di antara pohon bakau, dan sempat kami abadikan.
Potret buaya di sungai Temeghang.
Buaya yang terlihat masih remaja ini diperkirakan memiliki panjang 1 meter. Dengan tenang ia berada di antara pepohonan bakau, yang terlihat hanya moncong dan matanya. Setelah mendapatkan beberapa gambar, sang buaya pun menghilang, menyelam entah kemana. Saya pribadi baru kali pertama melihat buaya di alam seperti ini. Sangat heng (hoki) betul hari ini bisa melihat dan mengabadikan hewan karnivora yang terkenal ganas ini.

Cara asyik kedua dalam menikmati liburan kali ini adalah: makan siang di atas spitbut. Setelah mendapat foto buaya di pepohonan bakau tadi, Cek Gu mematikan mesinnya dan mengikat spitbut di pohon bakau yang baru tumbuh, terlihat dari diameternya yang tak begitu besar.
Makan siang di atas spibuut. (foto: @ahdiani_mt)


"Makan siang", begitu katanya memecah keheningan seraya mengeluarkan rantang plastik yang sudah disiapkan di bawah tempat duduk spitbut. Lauk ikan asam pedas dan sambal teri menjadi menu makan siang kali ini. Terlihat sederhana, namun momennya yang luar biasa menjadikan makan siang ini begitu lezat tiada tara. Makan siang di atas perahu di tengah-tengah hutan bakau akan memberikan sensasi tersendiri. Ditemani alunan musik alam dari suara gemercik air dan binatang-binatang penghuni hutan bakau akan jadi pengalaman tak terlupakan yang kelak akan dibawa pulang.

Setelah makan siang, kami menuju ke Tebing Tinggi. Tempat ini merupakan lokasi dimana peti mati kuno ditemukan warga, lalu penemian ini dilanjutkan dengan dilaporkan kepada pemerintah. Selesai dari Tebing Tinggi, kami pulang untuk beristirahat sejenak, kembali menyusuri sungai Aek Botang menuju dermaga Mekar Jaya Mangrove Park. Saat perjalanan dari dermaga menuju rumah Cek Gu, seorang warga desa memberitahukan kami bahwa ada segerombolan Kekah yang sedang nongkrong di pepohonan karet. 
Mantau Kekah (foto: @mantau_kekah)
Keluarga kekah
Sontak saya mengikuti arah yang warga desa isyaratkan dengan bibirnya tersebut. Dan benar saja, satu ekor, dua ekor, dan lebih dari lima ekor Kekah sedang nongkrong dengan santainya di pepohonan karet, padahal ada aktivitas warga dengan jarak sekitar 50 meter saja. Kejutan tak terduga ini kami manfaatkan untuk mengambil beberapa gambar Kekah, tak bisa banyak karena kehadiran kami terdeteksi oleh mereka, sehingga mereka langsung "membubarkan diri".

Cara asyik menikmati libur panjang yang ketiga adalah mengarungi laut berburu foto burung. Desa Mekar Jaya ini secara admnistrasi berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Bunguran Barat, Kecamatan yang berpusat di Pulau Sedanau ini memiliki potensi alam yang juga luar biasa. Salah satunya adalah Pulau Kembang, Pulau ini berada dalam administrasi Kelurahan Sedanau. Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari dermaga Mekar Jaya Mangrove Park untuk sampai ke pulau ini dengan spitbut. Pulau Kembang merupakan rumah bagi raturan spesies burung yang diantaranya berada dalam kategori terancam punah. Selain itu karang-karang yang mengelilingi pulau ini sangat indah terlihat dari atas spitbut karena air laut di puau ini sangat jernih.
Cekrek cekrek burung merpati
Kami mengitari pulau dengan pelan sambil mengamat burung-burung yang terbang kesana kemari. Matahari yang perlahan kembali ke peraduan membuat burung-burung ini juga kembali ke sarangnya setelah "bermain-main" seharian. Banyak burung yang kami dapati potretnya, dan diantaranya ada burung Pergam Perak yang saat ini statusnya kritis alias terancam punah. Setelah puas jepret-jepret hewan-hewan penguasa langit ini kami kembali ke Mekar Jaya saat matahari sudah mulai terbenam.
Senja di laut Bunguran Barat
Pagi harinya, masih dalam agenda Mantau Kekah. Kami kembali mendapati kekah di lokasi pertama yang kami temui kemarin, setelah memutar-mutar lokasi dimana mereka biasa nongkrong. Kata Cek Gu, mendapati Kekah ini untung-untungan, terkadang bisa ramai seperti kemarin, terkadang juga zonk tidak terlihat sama sekali. Kekah merupakan hewan pemalu yang jago kamuflase, sehingga saat mencarinya pandangan kita harus tajam dan teliti. Pagi ini kami hanya mendapati beberapa potret Kekah yang lumayan epik. Namun tak banyak karena mereka dengan cepat kembali ke hutan.

Setelah itu, kami kembali ke kediaman Cek Gu,
Selesai?
Belum ternyata.

Sampai di rumah, Cek Gu kembali mengajak kami ke satu lokasi lagi. Lokasi yang akan ia jadikan posko pengamatan kelompok Kekah. Lokasi ini terletak di tanah miliknya dan rencana akan ditanam beberapa tanaman yang menjadi makanan di Kekah untuk memancing ia datang. Sebagai penutup, kami ditawari teh khas Desa Mekar Jaya. Nama teh kahwe, kahwe berarti kopi dalam bahasa Melayu. Teh kahwe berasal dari daun kopi yang tumbuh di tanah Mekar Jaya. Rasanya nikmat dengan tekstur yang khas. Dan ini cara asyik yang ke empat.
Teh Kahwe khas Mekar Jaya
Mekar Jaya, desa dengan lokasi yang terpencil namun miliki potensi yang tak kecil. Wisata mangrove, wisata maritim, wisata budaya, hutan kawasan, konservasi sumber daya alam, merupakan beberapa potensi yang tampak dari desa yang berlokasi di barat daya Pulau Bunguran ini. 

Satu lagi yang bikin saya terkesan adalah ketika kemarin saat kami diberitahu warga mengenai keberadaan Kekah, ini mengindikasikan bahwa warga setempat secara tak sengaja ikut mendukung aktivitas mantau kekah yang digagas oleh Ce Gu. Mantau kekah ini juga masuk dalam paket wisata sehari di Natuna Dive Resort, lo.


Nah, nanti jika ingin melihat secara langsung hewan endemik Natuna ini di alamnya, maka Desa Mekar Jaya merupakan pilihan tepat. Mantau Kekah kegiatan utamanya, ditambah beragam "bonus" lainnya akan didapati juga. Jadi, jom ke Natuna, song gi Mekar Jaya!




Nb : info lebih lanjut tentang Mantau Kekah bisa kunjungi akun ig nya di @mantau_kekah ya.