Saturday, March 20, 2021

Ragam Cerita di Pulau Maguk

Pulau Maguk merupakan satu dari sekian banyak pulau yang berada di wilayah administrasi kecamatan Bunguran Utara. Kecamatan yang terletak di sisi barat Pulau Bunguran ini memiliki view alam yang luar biasa. Banyak tempat-tempat indah yang tersebar di wilayah kecamatan ini. Pantai-pantai berpasir putih, laut yang jernih, hingga pulau-pulau kecil nan eksostis.


Kemarin, tepatnya tanggal 13 - 14 Maret 2021, kami mendapat undangan untuk mengikuti fun camping dari rekan-rekan komunitas di sana. Mbecite kelarik namanya. Sebuah komunitas baru yang memberi warna berbeda dalam dinamika kehidupan muda-mudi di Kelarik.

Perjalanan kami dari Ranai dimulai agak pagi menjelang siang. Memakan waktu 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata, melewati kecamatan Bunguran Tengah dan kecamatan Bunguran Batubi kecamatan, serta beragam bentuk jalan (yang berlubang) membuat isi perut meronta minta jatahnya. Akhirnya, setelah tiba dan sambil menunggu rekan-rekan lain, kami mengisi kekosongan perut yang terguncang-guncang selama perjalanan tadi.


Cerita Pertama, Menunggu

Siang hari, setelah perut dan tenaga kembali terisi, kami menuju titik kumpul di Pelabuhan Tanjung Bakdai, salah satu pintu masuk wilayah Kelarik lewat jalur laut. Di sana sudah menunggu Kapal Motor Nelayan Mina Maritim yang akan mengantar kami menuju Pulau Maguk. 

Pelabuhan Tanjung Bakdai

Satu persatu para peserta mulai datang menuju kapal membawa bekal dan perlengkapan masing-masing. Panitia juga menyiapkan air bersih yang diisi dalam jerigen-jerigen dan galon-galon, kayu bakar, serta peralatan kemah yang lain. Segala peralatan dibawa dari Kelarik mengingat di Pulau Maguk belum terdapat fasilitas yang memadai. 

Sudah jam 1 siang, belum ada tampak akan jalan, sementara peralatan di kapal sudah penuh dan peserta pun sudah ramai dan siap agaknya. Ada beberapa yang lalu lalang menjemput sebagian rekan lain dan mengantarkan peralatan yang ketinggalan. Saya dan teman-teman memilih untuk duduk di atas "atap" kapal, menjadi turis dadakan terkena sengatan matahari yang menyapa dengan manjanya. Jam 2 siang, jam 3 sore, kapal Mina Maritim ini masih diam saja. Masih belum ada tanda-tanda akan menarik sauh. Peserta sudah terlihat gelisah, ada yang lalu lalang, sampai ada yang menggerutu sendiri.

Cekrek dulu

Barulah jam 4 sore perjalanan dimulai. Mesin kapal dihidupkan, sauh ditarik, tambatan tali dilepas. Perjalanan dari pelabuhan Tanjung Bakdai menuju Pulau Maguk memakan waktu hampir 1 jam. Lama perjalanan tak begitu terasa, karena ditemani oleh pemandangan indah pulau-pulau kecil yang terserak di dekat wilayah Bunguran Utara ini. Tanjung Payung, Pulau Nanggal, Pulau Seluan dan Pulau Selaut adalah sedikit dari sekian banyak panorama alam yang kami nikmati selama perjalanan.

Kapal Mina Maritim berlayar pelan tapi pasti, mengangkut sekitar 40 orang penumpang yang akan mengikuti "kemah suke suke" yang jadi tema acara kali ini. Nama kemah suke suke diambil dari terjemahan fun camping, acara ini ditaja oleh Komunitas Mbecite Kelarik yang didukung oleh komunitas kami, Kompasbenua. Selain itu, turut juga komunitas Natunasastra, Lensa Natuna dan perkumpulan pemuda Kelarik yang menamakan diri Tesalah Gaya.


Cerita Kedua : Kandas, "Menabrak" Pulau

Setelah hampir satu jam perjalanan, gundukan pasir putih terlihat timbul-tenggelam di laut. Semakin lama semakin jelas. Pulau Maguk, pulau kecil nan mungil itu berada di tengah-tengah laut di barat Bunguran. Ia dikelilingi oleh karang, ada yang sudah mati, namun tak sedikit pula yang masih bertahan hidup dengan indahnya. Kapten kapal mina maritim melambatkan laju kapal, mengambil jalan yang tepat untuk mengantarkan kami dengan aman dan nyaman ke pulau, mengingat belum ada fasilitas pelabuhan di pulau tersebut. Akhirnya, opsi "menabrak" pulau pun dipilih, setelah dengan hati-hati melewati karang-karang yang memagari pulau Maguk. 

Proses penurunan barang dan penumpang

Haluan kapal Mina Maritim menabrak pantai di sisi selatan pulau. Peserta turun satu persatu, membawa perbekalan dengan cara estafet. Peserta yang sudah di pulau mulai berbagi tugas, ada yang mendirikan tenda, menyiapkan api unggun, hingga persiapan untuk makan malam. Sebagian yang lain membantu mendorong kapal yang sempat kandas setelah "menabrak" pantai Maguk tadi. Menjelang magrib, semua sudah terkendali, kapal sudah kembali ke laut dan yang lain kembali dalam kerjanya masing-masing.

Evakuasi kapal

Pulau Maguk merupakan pulau kecil. Pulau berbentuk lonjong ini bisa dikelilingi dengan hanya berjalan kaki. Ada beberapa pohon kelapa yang tumbuh di pulau ini, disamping tanaman-tanaman lain yang membuat pulau ini tampak hijau. Selain keindahan lautnya, pasir pantainya yang putih juga menambah pesona Maguk. Pulau ini juga "dipilih" oleh penyu untuk bertelur, sehingga pada musim-musim tertentu pulau ini ramai oleh para pencari telur penyu. Sebuah paduan yang menjadikan Pulau Maguk sebagai potensi wisata baru di Bunguran Utara.


Cerita Ketiga : Acara Inti

Saat malam menjelang, beberapa masih sibuk dengan persiapan makan malam, ada yang sibuk menghias tenda, dan menyiapkan api unggun. Kemudian, masuk ke acara utama, yaitu makan malam bersama. Lalu dilanjutkan dengan sharing dan perkenalan komunitas-komunitas yang ikut berpartisipasi. 

Komunitas Mbecite Kelarik memperkenalkan anggota-anggota baru generasi kedua yang baru saja mereka rekrut beberapa waktu lalu. Memang, tujuan dari Kemah Suke Suke ini selain dari pada mempromosikan indahnya Pulau Maguk, juga untuk memberikan pandangan dan pengalaman baru pada anggota baru Mbecite Kelarik untuk memanfaatkan potensi diri yang ada.

Makaaaaaaaaan

Acara sharing berlangsung hangat dan santai ditemani api unggun yang sebentar lagi akan padam. Kemudian, acara juga diselingi dengan penampilan seni dari perwakilan komunitas yang ada. Pembacaan puisi, syair, hingga tarian kreasi memeriahkan acara malam ini.

Acara malam

Pagi hari, disaat sebagian masih terlelap dalam tidur, sebagian lagi memburu sunrise, dan sudah ada yang menceburkan diri ke laut, ada juga yang sudah memasak untuk sarapan. Beberapa yang lain mengambil gambar dari beberapa sudut untuk bahan promosi.


Cerita Keempat : Pulang

Hari menjelang siang, matahari semakin menyengat kulit. Cuaca cerah sekali hari ini. Beberapa peserta masih terlihat santai di hammocknya, letih setelah senam dan ber"tiktok" ria. Sebagian yang lain masih asyik menikmati laut dan karang. Ada juga yang mulai berkemas untuk pulang. Kapal mina maritim yang sejak kemarin hanya melabuhkan jangkar tak jauh dari pulau Maguk bersiap untuk menjemput kami. 

Cekreeeeek, via @hermandhes

Saat akan pulang, ada hal menarik yang nanti akan jadi cerita dan dikenang. Pasang air laut siang ini tak cukup dalam untuk mengantarkan mina maritim kembali "menabrak" pulau seperti kemarin. Berulang kali mencari jalan, namun gagal. Alhasil kapal hanya berhenti di kejauhan. Jadi kami harus menuju kapal dengan bantuan perahu nelayan kecil yang kebetulan lewat. Ada empat "trip" perahu tesebut bolak-balik mengantarkan kami dari Maguk ke kapal mina maritim. Sebagian ada yang naik pompong, namun sebagian lagi memilih berenang dari pulau menuju kapal. Jarak antara pulau dan kapal memang tidak terlalu jauh. Lautnya jernih dan tenang dengan kedalaman laut berkisar 5-7 meter. Namun bagi penderita thalassophobia akan berdegup kencang juga jantungnya. 


Alhamdulillah, semua barang dan penumpang dengan selamat diangkut ke kapal. Kapal segera menarik sauh, dan berlayar kembali menuju pelabuhan Tanjung Bakdai. Muka-muka lelah namun terselip bahagia terlihat dari para peserta. Sebuah pengalaman unik dan seru yang akan selalu diingat.


-----------

Foto-foto di Pulau Maguk, joom!

Pulau Maguk, via @hermandhes

 

Milkyway, via @hermandhes

The amazing sunrise, via @hermandhes

 


Wednesday, March 3, 2021

Kecamatan Pulau Tiga Setelah Belasan Tahun : Sejarah Singkat dan Potensi yang Ada

Beberapa waktu lalu, saya dan rekan komunitas bertemu dengan teman-teman dari TV Desa. Dari nongkrong-nongkrong gahol ini, kami menghasilkan beberapa kesepakatan. Satu diantaranya adalah meliput bersama di beberapa desa yang ada di Natuna. Berkolaborasi, TV Desa dengan programnya, dan komunitas kami, Kompasbenua juga dengan programnya. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Desa Serantas dan Desa Tanjung Batang di Kecamatan Pulau Tiga. 
Perjalanan menuju Pulau Tiga


Sejarah Pulau Tiga
Pulau Tiga merupakan gugusan kepulauan yang terletak di selatan pulau Bunguran Besar. Menurut warga setempat yang saya tanyai, penamaan Pulau Tiga berasal dari 3 pulau-pulau besar yang pertama berpenghuni, yaitu Pulau Sabang Mawang, Pulau Tanjung Kumbik dan Pulau Sededap. Pada awal-awal Natuna mekar menjadi kabupaten pada 1999, Pulau Tiga berada dalam wilayah Kecamatan Bunguran Barat dengan pusat pemerintahan di Sedanau yang terdiri dari 3 desa yaitu Desa Pulau Tiga, Desa Sabang Mawang dan Desa Sededap.
Pelabuhan Desa Sabang Mawang
Seiring berjalannya waktu, terjadi pemekaran desa-desa di sekitaran Pulau Tiga. Hingga akhirnya, wilayah Pulau Tiga menjadi kecamatan tersendiri yang menaungi 3 pulau besar yang saya sebut tadi dengan pusat pemerintahan berada di Nyit-nyit atau Tanjung Persenangan, di Desa Sabang Mawang Barat saat ini. Lalu pada tahun 2016, Kecamatan Pulau Tiga kembali mekar dengan lahirnya Kecamatan Pulau Tiga Barat dengan pusat pemerintahan di pulau Tanjung Kumbik.

Kecamatan Pulau Tiga saat ini terdiri dari enam desa, empat desa berada di Pulau Sabang Mawang yaitu Desa Sabang Mawang (yang lebih dikenal dengan Balai), Desa Sabang Mawang Barat, Desa Tanjung Batang dan Desa Serantas. Serta dua desa lagi berada di pulau Sededap, yaitu Desa Sededap dan Desa Teluk Labuh.
---------------

Perjalanan kami dari Ranai bermula pagi hari, karena mengejar jadwal mutur (kapal kayu kecil bermesin) yang sudah mulai jalan dari pelabuhan rakyat Selat Lampa dari jam 7 pagi. Rata-rata ukuran mutur tidak terlalu besar, bisa memuat sekitar 30 orang dan 5 buah sepeda motor di bagian atasnya.
Pemandangan di Kecamatan Pulau Tiga
Pulau Sabang Mawang, pulau terbesar di Kecamatan Pulau Tiga juga dimana pusat Kecamatan Pulau Tiga berada, terletak tepat di depan pelabuhan Selat Lampa. Jarak dari Selat Lampa menuju pulau ini memakan waktu kurang lebih 20 menit. Melintasi Selat Lampa dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya, suai untuk memanjakan mata.

Saya jadi teringat, terakhir mengunjungi pulau ini ketika SD dahulu, awal tahun 2000an ketika orang tua bertugas di Lampa. Saat itu hanya pergi di satu tempat saja, dan belum bisa mengeksplor pulau, (karena masih kecil belum boleh keluar sama mama 😔). 

Halan - halaaaan
Kami berhenti dan turun di pelabuhan Desa Sabang Mawang. Setelah sepeda motor dinaikkan ke pelabuhan, kami langsung berjalan mengitari pulau, melewati sisi pulau menuju Desa Serantas. Akses jalan sudah bagus, hanya beberapa tempat saja yang belum disemenisasikan. Jarak dari Desa Sabang Mawang menuju Desa Serantas berkisar antara 15 km. Sebenarnya sangat dekat, sebab Desa Serantas berada "di belakang" Desa Sabang Mawang, namun akses jalan yang memadai belum tersedia, jadi terpaksa memutar pulau untuk mencapai desa Serantas ini.


Potensi Wisata Kecamatan Pulau Tiga
Setelah semua desa di pulau ini kami datangi, tampaklah potensi wisata yang luar biasa. Pulau Sabang Mawang merupakan pulau yang unik. Selain pulau Setanau yang menjadi daya tarik wisata andalan dan juga merupakan salah satu geosite Geopark Nasional Natuna, ada juga daerah lain yang tak kalah indahnya.

Desa Sabang Mawang, selain "memiliki" pulau Setanau sebagai objek wisata anadalannya, Desa ini juga memiliki pelabuhan terpadu yang dibangun ketika Menteri Susi menjabat di kemenKKP. Pelabuhan ikan terpadu itu sering disebut dengan SKPT dimana usaha bisnis ikan di kabupaten ini berjalan.

Suasana di Desa Sabang Mawang
Di Desa Sabang Mawang Barat, view kantor Camat yang terletak di kampung Tanjung Persenangan juga very very amazing. Pemandangan "komplek" pegunungan selatan Bunguran dan Pulau Tanjung Kumbik milik Kecamatan Pulau Tiga Barat siap memanjakan mata. Tak jauh dari lokasi kantor camat, ada lokasi bekas kota tua dengan rumah besar sebagai "pusatnya". Rumah Raja-raja, begitu warga menyebutnya. Dahulu, lokasi bernama Nyit-nyit ini merupakan pusat perputaran ekonomi, banyak kapal-kapal besar yang singgah di tempat ini saat itu.
Kantor Camat Pulau Tiga dari kejauhan
 Lain pula di Desa Tanjung Batang. Desa dengan area terluas di Pulau ini memiliki potensi sejarah yang besar. Ada 7 kuburan tua yang tersebar di beberapa titik di Desa. Kuburan tua ini memiliki nisan dan badan kuburan yang terbuat dari batu karang dengan ukiran yang khas. Tim Arkeologi Nasional pernah meneliti kuburan ini dan belum mengeluarkan rilis pasti mengenai asal usul sampai, tahun pembuatan hingga siapa yang ditanam dikuburan ini. Desa Tanjung Batang juga memiliki masjid tua yang disebut dengan Masjid Al-Qyam, ada meriam yang dipasang di halaman masjid. Dahulu meriam ini digunakan warga untuk memberi tanda bahwa masuknya 1 Ramadhan dan 1 syawal. Dentuman yang dihasilkannya terdengar hingga ke pulau Sededap dan pulau Tanjung Kumbik.

Salah satu situs Kuburan Tua Desa Tanjung Batang
Dan Desa Serantas yang terletak di sisi timur Pulau Sabang Mawang tak mau ketinggalan. Desa yang menghadap langsung ke laut lepas ini memiliki alam yang indah. Pulau Genteng yang letaknya tak jauh dari desa juga memiliki pesona yang memikat. Dari sisi sejarah, daerah Serantas dahulu merupakan markas pusat tentara jepang ketika menginvasi Nusantara pada 1942-1945. Bahkan beberapa peninggalannya masih bisa kita lihat hingga saat ini. Laut sekita Desa dan Pulau Genteng dangat biru dan jernih, pantai di pulau Genteng berwarna putih berkilau bak memancarkan sinar terlihat dari kejauhan.
Peninggalan Jepang di Desa Serantas
------------

Itu beberapa potensi yang dimiliki Pulau Sabang Mawang di Kecamatan Pulau Tiga. Baru satu pulau saja, belum semuanya terekspos, dan sudah banyak potensi yang bisa dikembangkan. Yang tadi saya jelaskan baru dari sisi pariwisata secara umum. Belum lagi dengan potensi perikanan dan lautan. Pulau Sabang Mawang juga memiliki potensi budaya yang patut untuk dikembangkan. Keanekaragaman biologi dan geologi yang dimiliki pulau ini kemungkinan besar bisa membuat geosite dari Geopark Natuna bertambah satu. 😁


Pulaaaaaang