Monday, February 15, 2021

Desa Tanjung Batang, Misteri Meriam Belanda dan Makam Tua

Perjalanan kami di Pulau Sabang Mawang masih berlanjut. Setelah dari Desa Serantas, tujuan kami berikutnya adalah menuju Desa Tanjung Batang. Desa Tanjung Batang merupakan tetangga Desa Serantas, letaknya di sisi bagian barat dari Pulau Sabang Mawang, jarak dari Desa Serantas berkisar antara 7 - 10 km.

Di Pulau Sabang Mawang, Desa Tanjung Batang merupakan desa dengan wilayah terluas. Hampir separuh pulau Sabang Mawang menjadi milik Desa Tanjung Batang. Wilayah yang luas ini menjadikan Desa Tanjung Batang memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Selain wisata bahari yang memang menjadi unggulan di Natuna, ada hal lain yang sangat potensial : wisata budaya dan sejarah.
Lokasi Desa Tanjung Batang

Masih dalam rangka kolaborasi dengan TV Desa Natuna. Dalam pengambilan-pengambilan gambar untuk keperluan video, tibalah kami di SDN 002 Tanjung Batang dan di sambut oleh kepala sekolahnya. Setelah bincang singkat, beliau langsung menunjukkan lokasi kuburan tua tepat berada di belakang SD tersebut. Dari sini petualangan dimulai.

Kuburan tua yang ditunjuk oleh kepala sekolah tadi berjumlah dua buah, besar dan kecil. Nisannya terbuat dari batu karang dengan motif ukiran yang indah. Dilihat dari nisannya, ini bukan kuburan orang sembarangan. Beberapa peneliti sudah banyak datang kesini, baik dari daerah hingga pusat. Namun belum ada publikasi dari hasil penelitian atau kunjungan mereka (belum ada di google saat saya gugling). Dua makam tua ini juga masih simpang siur siapa pemiliknya, apakah suami istri, atau orang tua dan anak, karena ukurannya yang berbeda.


Situs Makam Tua Tanjung Batang (Belakang SD)


"Silahkan ke Haji Darman, untuk mengetahui info lebih lanjut tentang makam tua ini" Begitu kira-kira kata kepala SD 002 ketika kami bertanya tentang siapa "juru kunci" daerah ini.



Tak jauh dari SD, ada Masjid Al-Qiam yang merupakan masjid besar tertua di pulau ini. Bentuknya sudah modern, terlihat sudah beberapa kali mengalami renovasi. Di halaman masjid ada meriam berwarna kuning dengan panjang kurang lebih 1 meter yang mengarah ke pulau Tanjung Kumbik. Diameter ujung meriam berkisar 10 cm. Belum ada informasi detail mengenai meriam ini.

Kemudian kami menuju kekediaman bapak Haji Darman, alhamdulillah beliau ada di rumah dan menyambut kami dengan kopinya. Kedatangan kami selain untuk menanyakan perihal makam tua di dekat SD, juga memohon ijin untuk menelusuri makam-makam tua yang lain yang terletak di lokasi terpisah. Informasi tentang banyaknya makam tua ini kami dapati dari orang-orang desa, dan juga hasil diskusi dengan bidang kebudayaan disparbud Natuna via telepon. Dari pak Haji Darman pula kami bertanya banyak hal, termasuk tentang asal-usul dan cerita rakyat yang ada di sekitar Tanjung Batang ini.

Meriam di Masjid Al-Qiam

Beliau menceritakan tentang meriam di masjid Al-Qiam. Itu meruakan meriam peninggalan Belanda. Pada masa dahulu, meriam tersebut tersimpan di dalam masjid, dan digunakan untuk memberi tanda masuknya 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Posisi Masjid Al-Qiam di Tanjung Batang merupakan posisi yang strategis, jadi saat meriam dibunyikan, bunyinya terdengar hingga kampung Balai (Sabang Mawang), Teluk Melam, Serantas, hingga Kampug Batu Karut yang terletak di pulau Tanjung Kumbik di seberang. Setelah penduduk ramai dan technologi berkembang, barulah meriam itu "diistirahatkan".

Setelah dari kediaman pak Haji Darman, kami menuju ke lokasi makam tua di Aek Book dan Aek Nuse. Letak kedua daerah ini berdekatan. Dari jalan raya kita harus berjalanan kaki menuju lokasi ini. Kami didampingi oleh pak RT dan pak RW wilayah setempat untuk mengunjungi situs ini. Situs makam tua di Aek Book dan Aek Nuse juga memiliki karakteristik yang sama, badan dan nisan makam terbuat dari batu karang yang diukir dan menghadap kearah kiblat. Makam di Aek Nuse merupakan makam Tok Sirat, begitu kata pak Haji Darman menceritakan.
Situs Makam "Datuk Sirat" Aek Nuse

Situs Makam Aek Book

Situs makam tua berikutnya adalah di Semubon. Semubon terletak di wilayah selatan Tanjung Batang, jika dari Tanjung Batang, wilayah Semubon terletak di antara Botu Bulot dan Telok Melam. Ke lokasi ini, kami ditemani oleh bang Sup, pemuda Desa Tanjung Batang. Letak makam tua situs Semubon tak jauh dari jalan raya, hanya tertutup semak belukar saja mengharuskan kita jeli untuk mencarinya. Sama seperti makam-makam sebelumnya, situs makam Semubon terdiri dari satu buah makam saja dengan badan dan nisan kuburan terbuat dari batu karang yang diukir.
Situs Makam Semubon

Perjalanan kami berlanjut ke situs makam terakhir yang diketahui. Situs makam di Kampung Baru, letaknya di lereng bukit belakang Sanggar Seni Desa Tanjung Batang. Disini terdapat dua makam yang terpaut jarak kurang lebih 20 meter. Kami ditemani oleh pak RT kampung baru untuk mencapai lokasi ini. Makam tua yang juga mirip dengan makam-makam tua sebelumnya. Sebelum turun, pak RT menunjukkan satu situs lagi yang ia pun tidak tahu itu apa, jaraknya sekitar 50 meter dari situs makam tua di kampung baru, masih di lereng bukit. Bentuknya adalah tumpukan-tumpukan batu yang ditandai dengan batu hitam di atasnya. Kami belum dapat info lebih rinci tentang "situs" ini.


Situs Makam Kampung Baru

Total ada 7 makam tua dengan karakteristik yang hampir sama, dengan jarak yang berbeda-beda. Semua makam mengarah ke kiblat, badan dan nisan makam terbuat dari batu karang yang diukir dengan motif yang sama. Entah mengapa, saya sangat yakin, masih ada makam-makam tua yang tersebar di sekitar Desa Tanjung Batang ini. Kurangnya publikasi dan refrensi menghasilkan beberapa tanya yang ada dibenak kami. Info satu-satunya sejauh ini yang kami dapati adalah, bentuk nisan seperti ini, hampir menyerupai yang ada di Segeram (Natuna), Cirebon, dan Sulawesi.

Sunday, February 14, 2021

Menyusuri Jejak-jejak Jepang di Desa Serantas

Desa Serantas, merupakan satu dari empat desa yang ada pulau Sabang Mawang, Kecamatan Pulau Tiga. Dari pusat kota Ranai, menuju ke desa ini hanya bisa dilalui dengan jalur laut via pelabuhan rakyat Selat Lampa. Banyak pompong (kapal-kapal kayu kecil) yang membuka rute dari dan menuju desa ini. Pompong atau kapal kayu kecil ini merupakan alat transportasi utama untuk sebagian masyakarat yang tinggal di pulau-pulau. Ia bak "jembatan berjalan" yang menghubungkan pulau-pulau di sekitarnya.

Perjalanan kami dimulai dari Ranai menuju Selat Lampa, lalu naik pompong dan berlabuh di pelabuhan desa Sabang Mawang. Dari desa Sabang Mawang, dengan menggunakan sepeda motor kami langsung "cau" menuju desa Serantas. Melewati jalan utama di tepian pulau, melewati rumah-rumah penduduk dan melintasi desa-desa di pulau itu. Ada empat desa di pulau Sabang Mawang, yaitu Desa Sabang Mawang, Desa Sabang Mawang Barat, Desa Tanjung Batang, dan Desa Serantas.
Lokasi Desa Serantas

Desa Serantas yang terletak di sisi selatan pulau Sabang Mawang ini memiliki pemandangan yang luar biasa indahnya. Garis pantai membentuk teluk digunakan oleh masyarakat untuk membangun rumah di tepian laut. Lautnya biru nan jernih dengan terumbu karang yang indah-indah. Gunung Mayoh yang merupakan titik tertinggi di pulau ini menambah kegagahan Desa Serantas. Jika cuaca sedang teduh dan cerah, dari gunung Mayoh akan terlihat pulau Midai yang berjarak 80 mil di sebelah selatan. Dan pulau Genteng menjadi pelengkap keindahan Desa Serantas. Pulau Genteng terletak tak jauh dari daratan desa, bahkan jika air surut kita bisa ke Pulau Genteng dengan berjalan kaki saja dari Kukop Batu Sigon, sebuah tanjung yang merupakan titik terdekat di desa untuk menuju ke pulau Genteng. Pasir putih akan "muncul" ketika air sedang surut, memberi jalan kita untuk menuju pulau ini.

Tak sampai di sini kisah Desa Serantas, dibalik indahnya bentangan alam, tersimpan sejarah masa lalu yang jejak-jejaknya masih bisa kita lihat hingga saat ini. Jejak-jejak dimana belum ada nama Indonesia, negara ini belum resmi adanya, belum diakui keberadaannya. Jejak-jejak yang berumur lebih dari setengah abad. Jejak, sisa-sisa peninggalan Jepang di Natuna, berada di Desa Serantas, Kecamatan Pulau Tiga.
Diskusi Dengan Pemuda Desa

Cerita tentang peninggalan Jepang di desa ini baru saya dapati saat berdiskusi dengan rekan-rekan TV Desa Natuna beberapa waktu lalu. Saat itu kami sepakat pergi ke sini untuk mengulik lebih dalam. Setelah tiba, kami berisitirahat di kantor desa. Pak Kades dan Sekdes menyambut kami di ruang tamunya. Setelah bercerita mengenai sekilas tentang Desa Serantas, pak Sekdes memanggil bang Hasbullah, tokoh pemuda desa untuk menemani kami mengeksplor lokasi-lokasi peninggalan Jepang yang tersebar di beberapa titik.

Ada banyak peninggalan Jepang di desa ini, baik di darat maupun di laut. Namun banyak yang tidak terawat sehingga ia rusak, bahkan hilang tanpa bekas. Hanya beberapa saja yang masih bisa terlihat. Oleh karena itu, tanpa ingin membuang kesempatan, kami meminta ditunjukkan sisa-sisa peninggalan Jepang tersebut.
Jangkar Kapal Jepang

Yang pertama adalah buji atau jangkar kapal. Menurut keterangan, jangkar kapal ini milik kapal Jepang yang karam di laut Desa Serantas. Letakya tak jauh dari jalan raya di dekat kantor desa. Bang Asbul menceritakan, di tempat jangkar kapal ini diletakkan dulunya merupakan markas / kantor tentara Jepang dalam melaksanakan kegiatan operasinya, namun jejaknya saat ini tak lagi tersisa.
Lokasi Tempat Pemenggalan

Lokasi yang kedua adalah lokasi pemenggalan. Saat berkuasa dahulu, hukum penggal adalah hukum yang diterapkan Jepang bagi pelanggar aturan. Konon dahulu ada seorang warga desa yang akan menerima hukuman ini. Entah apa yang dilakukannya sehingga Jepang memvonis untuk memenggalnya. Lubang sudah digali, dan ia pun sudah siap berada di posisinya. Namun entah apa yang terjadi, hukum penggal itu urung dilakukan sehingga warga desa tersebut selamat dari mautnya saat itu. Hingga saat ini lubang persiapan pemenggalan tersbut masih bisa kita lihat. Letaknya tak jauh dari lokasi pertama, ada jalan setapak sedikit menanjak. Lokasinya sudah tertutup semak belukar, namun galian lobangnya masih bisa terlihat.
Kawah, Kuali Peninggalan Jepang

Lokasi ketiga adalah kawah, begitu warga desa menyebutnya. Ia semacam kuali besar yang digunakan untuk memasak. Kuali ini berdiamter sekitar 80 cm dengan tinggi sekitar 50 cm dan terbuat dari besi. Dahulu kawah ini terletak di dekat masjid Al-Istiqbal, nuje (penjaga masjid) meletakkannya di sana untuk menampung air wudhu. Saat ini kawah tersebut berada di depan rumah nuje yang terletak di seberang masjid untuk menampung air di rumahnya. Menurut cerita, kawah ini terakhir "menjalankan" tugasnya ketika para pengungsi Vietnam terdampar di pulau ini, kawah ini digunakan untuk memasak bubur guna memenuhi kebutuhan mereka.
Lubong Antu, Goa Persembunyian Jepang

Lokasi ke empat adalah Lubong Antu. Lubong Antu terletak di kaki gunung Langi. Menuju ke Lubong Antu dengan melalui jalan setapak di belakang masjid Al-Istiqbal. Sekitar 10-15 menit jalan kaki mengikuti pipa air dari paralon di gunung Langi akan mengantarkan kita ke Lubong Antu ini. Lubong Antu merupakan goa alami bentukan alam yang memiliki panjang lebih dari 50 meter dan memiliki tiga cabang di dalamnya. Bibir goa ini dahulunya besar namun tertutup setengah oleh batu ketika pemerintah membuat dam di depan bibir goa. Lubong Antu masih bisa dimasuki dengan cara merangkak sekitar sepuluh meter, lalu setelah itu kita bisa berdiri di dalamnya. Dahulu, Jepang menjadikannya sebagai tempat persembunyian dari ancaman musuh.

Masih menurut keterangan bang Asbul, ada satu lagi peninggalan Jepang di gunung Mayoh, ia berupa tanah datar tempat pengintaian. Mengingat gunung Mayoh merupakan tempat tertinggi di pulau ini, sangat memungkinkan untuk membuat pos pengintaian di gunung ini. Hanya saja karena keterbatasan waktu dan lain hal, kami belum bisa menuju kesana.

Begitulah adanya Desa Serantas. Desa yang tak hanya memiliki tempat-tempat indah menakjubkan, namun juga menyimpan jejak sejarah masa lalu yang semestinya kita jaga dan lestarikan. Monumen Peringatan Jepang layaknya boleh dibangun di Desa Serantas ini. Sebagai pengingat untuk generasi kini, bahwa negeri di ujung utara Indonesia ini juga menyimpan jejak-jejak sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jejak-jejak kelam masa penjajahan, yang bisa kita jadikan pelajaran.

Sunday, February 7, 2021

Malam Puisi Natuna Bahagian Empat : Semangat Melestarikan Budaya di Tengah Corona

Euforia Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe yang ditaja oleh Mbecite Kelarik akhir januari lalu belum lagi hilang. Kali ini, diminggu pertama bulan februari ini giat budaya kembali diadakan di ibukota Kabupaten, Ranai. Giat budaya bertajuk Malam Puisi Natuna ini ditaja atas kerjasama Komunitas Natunasastra dan Kompasbenua.

Malam Puisi Natuna yang digelar ini merupakan yang ke empat kalinya. Dan kali ini adalah yang pertama hasil dari kolaborasi dua komunitas penggiat budaya yang ada di Natuna. Sebelumnya, malam puisi Natuna sudah pernah diselenggarakan oleh Natunasastra sejak 2018. Giat ini merupakan wadah untuk para penggiat sastra yang ada di Natuna, khususnya di pulau Bunguran untuk meluapkan ekspresi dan bakatnya.

Konsep acara pada Malam Puisi Natuna Bahagian Empat ini sedikit berbeda dari sebelumnya, mengusung tema Sejarah dan Budaya Sebagai Imunitas dan Identitas. Tema ini merupakan pilihan yang tepat di tengah-tengah kondisi saat ini. Ia sebagai bentuk pertanyaan sudah sejauh mana kita mengenal sejarah dan budaya, dan dampak pada kesehatan pikiran juga kekuatan identitas kita.

Acara ini digelar di aula Syamsul Hilal, SMA Negeri 1 Bunguran Timur, sabtu malam, 6 februari 2021. Penerapan protokol kesehatan sudah dimulai sesaat para pengunjung akan masuk ke aula. Wadah cuci tangan dan pengecekan suhu tubuh dan menggunakan masker harus dilalui untuk masuk ke dalam aula. Suguhan gambar-gambar lama koleksi Kompasbenua menyambut para pengunjung sesaat setelah masuk ke dalam aula, gambar-gambar Natuna tempo dulu menghiasi sisi kiri dan kanan labirin yang dibuat oleh panitia beberapa jam lalu ini. Ada juga lukisan hasil karya siswa-siswi SMP Negeri 1 Bunguran Timur, serta koleksi Natunasastra berupa puisi-puisi dan lainnya.
Ketua Kompasbenua sedang menjelaskan foto-foto jadul kepada pengunjung.

Masih di dalam labirin, para pengunjung diminta untuk menulis satu kata dalam bahasa daerah di selembar kain yang terpasang sebagai "tiket" masuk untuk menyaksikan acara, dan ada juga secarik kertas kecil tempat para pengunjung untuk menuliskan harapan akan sejarah, budaya, seni dan sastra Natuna kedepan. Di panggung utama, terdapat dekorasi-dekorasi aestetik dari beragam alat dan hasil kerajinan tradisional khas Natuna. Juga terdapat perkakas zaman dulu serta hasil kerajinan seni rupa prakarya hasil tangan-tangan kreatif siswa-siswi SMA Negeri 1 Bunguran Timur.
Ngah Disun, memainkan akordion di panggung

Acara dimulai dengan tarian zapin dari sanggar Dina Mahkota, empat orang gadis dengan lincah menarikan tarian zapin garapan Adinda ini. Sorak sorai serta tepung tangan penonton memenuhi aula sesaat ketika dua bocah cilik tampil di depan dengan pembacaan sajaknya yang sambung menyambung. Lalu penampilan-penampilan berikutnya dibawakan oleh para pendukung acara yang lain seperti Lasak SMANDa yang membawakan musikalisasi puisi serta tarian Bujang Lagak, juga pembacaan puisi dan gurindam. TBM (Taman Baca Masyarakat) Taman Ilmu dari Desa Mekar Jaya dengan balas pantunnya, Sanggar Tiara Mayang juga mau kalah dengan menampilkan puisi. Komunitas Mbecite Kelarik menjadi pelengkap pengisi acara dengan membawakan pantomim, monolog, syair dan puisi. Lalu ada tambahan pembacaan puisi "on the spot" dari pengunjung.

Penampilan yang tak kalah menarik perhatian pengunjung malam itu adalah pembacaan Suluk. Memang, suluk masih asing terdengar di telinga masyarakat Natuna, terlebih generasi muda seperti kami ini. Suluk merupakan syair tematik. Isi dari Suluk biasanya berkaitan dengan acara yang sedang berlangsung. Biasanya juga berisi pesan dan nasehat, dan bisa juga sebagai media dakwah. Lantunan syair Suluk dibawakan dengan apik oleh bang Said, semua mata tertuju padanya, larut dalam alunan syair Suluk yang dibacakan oleh budayawan muda ini.
Pembacaan Suluk oleh Bang Said


Disela-sela penampilan, penyelerenggara membagikan bubur kacang dan air mineral. Stand makanan ringan dan minuman kekinian juga tersedia di sebelah kiri panggung. Semuanya merupakan hasil kerjasama penyelenggara dengan Karaageku dan Hanata.

Malam Puisi Natuna Bahagian Empat ditutup dengan menyanyikan lagu khas melayu Natuna yaitu Palok Saguk. Lagu yang dinyanyikan dengan merdu oleh Adinda ini diiringi dengan apik oleh pemusik dari Lasak SMANDa yang berkolaborasi dengan Pak Hadisun yang memainkan akordion, pak Hadisun merupakan seorang budayawan dan seniman dari Natuna. Lagu Palok Saguk semakin semarak dengan diikuti tarian zapin oleh seluruh peserta dan dipandu oleh empat penari Sanggar Dina Mahkota.
Ritual wajib setelah acara, potopotoo

Suksesnya acara ini juga tak lepas dari para sponsor dan pendukung. Kami ucapkan kepada Green Computer, Natuna Mengajar, SMA Negeri 1 Bunguran Timur, Lasak SMANDa, TBM Taman Ilmu, Mbecite Kelarik, Sanggar Tiara Mayang, dan Sanggar Dina Mahkota. Sampai ketemu dievent-event berikutnya, yap!

Monday, February 1, 2021

Melayoe Tempo Doeloe, "Pelepas Dahaga" Kegiatan Budaya Melayu di Natuna

Akhir januari lalu menjadi catatan sejarah baru bagi para pecinta budaya di Natuna, khususnya di daerah Kelarik. Pemuda-pemudi di sisi barat Pulau Bunguran yang terkumpul dalam komunitas Mbecite Kelarik menginisiasikan acara Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe. Lapangan Desa Gunung Durian pun jadi saksi bisu untuk kegiatan yang menampilkan berbagai kesenian tradisional bernuansa melayu ini.



Mari flashback sebentar tentang komunitas ini. Mbecite Kelarik merupakan sebuah komunitas baru beranggotakan anak-anak muda yang dominan berusia sekolah. Gerak enerjik dengan ide-ide brilian memang bersarang pada anak-anak seusia itu. Memenangkan lomba video pendek tingkat kabupaten adalah contoh nyata dari kreativitas mereka. Mbecite Kelarik.

Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe, awal mula digagas oleh salah seorang penggerak dalam sebuah diskusi singkat. Lalu ditambah dengan dorongan dan dukungan dari rekan-rekan komunitas lain sehingga acara ini berwujud dengan persiapan yang boleh dibilang cepat. Dua minggu. Saya pribadi, pertama kali berinteraksi dengan anggota Mbecite Kelarik adalah saat acara Fun Camping yang dilaksanakan oleh GenPI Natuna akhir tahun lalu d pantai Sujung. Mbecite Kelarik menghadiri undangan dengan mengutus dua orang anggotanya. Sempat kami berdiskusi sedikit mengenai beberapa hal. Setelah kegiatan GenPI, salah satu anggota Kompasbenua mengumumkan bahwa :

"30 januari 2021, insya Allah Mbecite Kelarik akan mengadakan rindu melayu."

Yap, rindu melayu adalah branding awal kegiatan ini, tahun 2019. Kegiatan dengan tujuan untuk melestarikan budaya melayu ini pertama digelar di kecamatan Bunguran Timur, di rumah salah satu tokoh masyarakat di Kelurahan Bandarsyah. Lalu, acara serupa dengan nama berbeda berlanjut di Ranai Darat. Tahun 2020 menjadi tonggak awal bangkitnya kegiatan budaya di Natuna. Beberapa kegiatan budaya pada tahun 2019 lalu mendapat respon baik dari pemerintah. Pertemuan-pertemuan dengan para penggiat budaya dilakukan di kantor dinas untuk mengkonsepkan acara budaya sepanjang 2020. Hasilnya, 3 acara dilaksanakan di panggung terbuka pantai Piwang pada januari hingga maret 2020. Natunasastra, Kompasbenua dan Sanggar Langkadura menjadi "petugas piket" pada acara itu. Semua kegiatan berlangsung meriah dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Lalu, semua terhenti saat "mbah" corona mulai menyerang negeri. Semua kegiatan yang mendatangkan kerumunan dilarang untuk menekan lajunya penyebaran virus mematikan ini.

Namun, semangat akan menghidupkan budaya melayu tidak surut. Berbagai konsep sudah banyak disiapkan, menunggu untuk direalisasikan saja. Dan diujung 2020, angin segar datang dari kawan-kawan STAI yang tergabung dalam KKN di Desa Mekar Jaya. Setelah pertemuan dan diskusi singkat sebelumnya, mereka sepakat mengadakan kegiatan budaya bertajuk Sanggom Melayu. Acara ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat sekitar dan berharap acara seperti ini berkelanjutan.

Setelah lama berdiam diri, akhirnya Mbecite Kelarik berani unjuk gigi. Menjadi pioneer untuk mengadakan giat agar budaya tetap lestari. Menjadi yang pertama adakan kegiatan budaya melayu yang selama ini seakan mati suri. 

Dukungan dari Kecamatan dan Desa, serta komunitas-komunitas lain menyemangati mereka untuk mewujudkan acara ini. Forum Anak Bunguran Utara, LDK STAI Natuna dan Kompasbenua menjadi pendukung acara budaya yang sepakat digelar pada malam ahad, penghujung januari.

Tarian Persembahan (foto : Kiki Firdaus)

Tari persembahan menjadi pembuka acara, sebuah ritual "wajib" yang harus ada diacara-acara besar di seluruh negeri melayu, tarian ini dibawakan dengan apik oleh adik-adik dari sekokah dasar di sana. Sahut menyahut pantun mengisi lapangan desa ketika sepasang MC memimpin jalannya acara. Agar menjadi berkah, tepung tawar mengisi acara berikutnya. Tepung tawar merupakan salah satu tradisi masyarakat melayu, ia berisi syair dan doa-doa selamat agar apa yang kita kerjakan selalu mendapat ridho Allah Ta'ala. Biasanya tepung tawar terdiri dari satu orang pembaca doa dan beberapa orang / perwakilan yang didoakan. Caranya adalah dengan memasukkan tangan ke dalam baskom berisi air lalu pembaca doa mulai melantunkan syair dan doa dengan menepuk-nepuk air dengan beragam jenis daun yang sudah disatukan.

Tepung Tawar (foto : Mbecite Kelarik)

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan syair Noktah Bunguran Utara yang dilantunkan oleh sepasang adik-adik dari sekolah di Kelarik. Syair Noktah Bunguran Utara berisi cerita yang menggambarkan proses pemekaran kecamatan Bunguran Utara dari Kecamatan Bunguran Barat. Suara merdu dengan lantunan syair yang indah membuat penonton terpukau dengan aksi dua adik-adik ini.

Tarian Cik Abu (foto : Mbecite Kelarik)

Aksi berikutnya adalah penampilan tarian kreasi Cik Abu yang dibawakan juga oleh adik-adik cilik Kelarik. Tarian ini merupakan hasil kreasi dari tarian asli tradisional Kelarik dengan judul yang sama. Tarian Cik Abu merupakan tarian yang menggambarkan keseharian warga Kelarik dalam beraktivitas, terutama dalam kegiatan bertani kelapa. Tarian ini pernah dibawakan oleh Mbecite Kelarik diacara panggung Budaya yang ditaja oleh Kompasbenua pada februari 2020 lalu di pantai Piwang.

Disela-sela acara, panitia menyediakan tambul (makanan) untuk tamu. Makanan yang disediakan di dalam dulang ini antara lain sandan gilik, kueh benggiet, nganan cinjen, dan tipeng canggos. Ini semua merupakan makanan khas kampung-kampung yang disajikan ketika menghelat acara-acara besar. Penampilan berikutnya adalah penampilan gurindam dan marawis dari LDK STAI Natuna. Seni marawis merupakan kesenian Melayu perpaduan antara syair dan alat-alat musik. Kesenian ini biasa dibawa pada acara-acara keagamaan, lirik syair yang dilantunkan juga tak jauh-jauh dari dakwah, nasihat dan pengingat, serta petuah. 

Kueh Banggiet, Nganan Cinjen, dan Tipeng Canggos

Acara semakin meriah dengan tampilan flashmob zapin yang diikuti oleh panitia dan peserta acara. Irama melayu dari lagu Joget Toleh Menoreh milik Senario menggerakkan badan para penari dan peserta untuk berjoget seirama. Suasana meriah melengkapi keceriaan malam itu. Acara Pentas Budaye ini ditutup dengan penampilan kesenian alu yang dibawakan oleh Warga Desa Gunung Durian. Kesenian alu merupakan kesenian tradisional Natuna. Eksistensinya kini mulai meredup seiring jarangnya gawai-gawai besar yang diadakan. Dan Alhamdulillah kemarin kami masih bisa menyaksikan atuk-atuk kami mengangkat alu, mengayunkannya ke dalam lesung dan menghasilkan irama epik nan mulus masuk menggetarkan gendang telinga. 



Pentas Budaye : Melayoe Tempo Doeloe hadir bagai oase di padang pasir. Ia bak pelepas dahaga akan hausnya kami, masyarakat akan budaya daerah sendiri yang selama ini terkesan mati suri. Apresiasi dan dukungan banyak didapat untuk acara ini. Tak hanya dari daerah sekitaran Kelarik, tamu-tamu yang datang juga dari sisi timur pulau Bunguran dimana pusat ibukota kabupaten berada. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, BP Geopark Natuna, DPD KNPI Natuna, DPP Askar Melayu Natuna, GenPI Natuna, dan GenRe Natuna juga turut hadir meramaikan acara ini. Masyarakat sekitaran Kelarik, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, perangkatan Kecamatan dan Desa hingga anggota DPRD Natuna juga turut hadir meramaikan dan memberi dukungan.

Foto bersama (wajib)


Semoga acara-acara seperti ini tetap dilaksanakan secara berkala.
Salam budaya dari kami, pecinta, penggiat dan penikmat budaya.