Friday, December 8, 2017

Untuk Kamu Generasi 90an : Masih Ingat gak Dengan Mereka?

Banyak yang bilang kalau generasi 90an adalah generasi terbaik, generasi 90an adalah generasi transisi antara "kejadulan" dengan teknologi. Kami generasi90an adalah generasi yang kreatif, membuat mainan sendiri, bukan langsung membeli. Bersosialisasi dengan baik, janji selalu ditepati walau belum punya HP. Sudah menjadi"arsitek" cilik dengan mebuat rumah dari pelepah pohon kelapa, atau kain-kain sarung yang diikat disana sini.

Dari segi hiburan, acara-acara televisi saat itupun sangat mendidik, kalaupun ada yang "brengsek" itu pun boleh dibilang sedikit. Contohnya saja sinetron keluarga Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, Jinny oh Jinny, Bidadari, Saras 008, Gerhana, hingga Panji Manusia Milenium. Sinetron-sinetron yang saya sebut tadi adalah yang seta menemani sore hingga malam hari generasi 90an, entah nonton berkumpul bersama keluarga, atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

Nah, bagi kamu penggemar sinetron-sinetron diatas, masih ingatkah kamu dengan mereka?
Yuk nostalgila bentar. :)

1. Kentung "Tuyul dan Mbak Yul"
Nama aslinya adalah Bambang Triyono, artis yang tenar di era 90an berkat peran Kentung, jin tambun dalam serial Tuyul dan Mbak Yul ini mengalami hidup yang miris dimasa tuanya. Beliau hanya tinggal di kost-kostan dengan ukuran 3x4 meter di daerah Sleman, Yogyakarta. Hidup beliau sangat memprihatinkan, ia tak sanggup lagi berdiri, bahkan untuk berpindah tempat saja, dia harus bersusah payah dengan mengelundungkan badan. Ini dikarenakan pada saat tenar dahulu ia sering berfoya bagai "ayam lupa daratan". Ibarat sehari bisa mendapatkan 5 juta, sehari itu pula uang tersebut habis olehnya.

sumber : http://www.brilio.net/news/ingat-si-kentung-film-tuyul-mbak-yul-kini-kabarnya-sungguh-tragis-150628s.html

2. Om Jin "Jin dan Jun"
via m.gayahidup.rimanews.com
Artis berikutnya adalah "Om Jin" dalam serial Jin dan Jun, bernama lengkap M Amin. Beliau juga mendapatkan cobaan dimasa tuanya. Bahkan saat beliau meninggal di tahun 2013, media pun tak banyak yang meliputnya. Setelah berhenti memerani Om Jin, M. Amin tidak memiliki pekerjaan tetap, yang ia lakukan hanya berkeliling-keliling komplek di sekitar rumahnya di kawasan Rawa Belong, Kebon Jeruk Jakarta.

sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-om-jin-pemeran-jin-dan-jun-hidup-sengsara-di-ujung-karir.html


3. Jinny : "Jinny oh Jinny"
via youtube.com
Artis yang tenar era 90an ini bernama Diana Pungky, sempat tak terdengar kabarnya di dunia hiburan rupanya dia sudah memutuskan untuk berhenti jadi artis. Dan sekarang tengah sibuk dengan bisnis spa yang ia kembangkan.

sumber : http://hiburan.metrotvnews.com/read/2014/10/10/303042/alasan-diana-pungky-mudur-dari-sinetron


4. Gerhana, "Gerhana"
Piere Roland "Gerhana" via hot.detik.com
Anak Generasi 90an pasti tau sinetron ini, GERHANA. Film superhero Indonesia yang berkisah tentang seorang anak yang lahir saat Gerhana dan memiliki kekuatan super untuk membela kebenaran. Sang Gerhana dimainkan oleh Piere Roland. Namun setelah film Gerhana tidak lagi ditayang di TV, sosok sang bintang pun hilang entah kemana. Lama menghilang dari dunia hiburan, ternyata kini sang Gerhana telah hidup bahagia dengan keluarga yang lengkap.

sumber : http://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/indonesia/foto-ingat-pierre-roland-si-gerhana-apa-kabar-dia-sekarang.html

Thursday, December 7, 2017

Selemut, Surga tersembunyi di Bunguran Selatan

Selama ini, Selemut hanya diketahui sebagai nama tempat biasa. Selemut terletak di desa Cemaga Selatan, lebih tepatnya sebelum desa Setengar, setelah Penarik Pian Padang jika perjalanan dari Kota Ranai ke arah Selat Lampa. Perjalanan ke Selemut dari Kota Ranai memakan waktu kurang lebih 2 jam berkendara dengan kecepatan rata-rata.
Selama ini, saya hanya melewati daerah ini, tidak tahu bahwa disini merupakan tempat indah yang layak dikunjungi, mau lihat? Berikut saya tampilkan beberapa dokumentasi dari seorang rekan yang memang suka bereksplorasi.

jom tengook.

Berjalan Kaki adalah Cara Menikmati Indahnya Alam
Ya, cara menikmati alam adalah dengan berjalan kaki. Parkirkan kendaraan di desa terdekat, dan jelajahilah Selemut dengan berjalan kaki. Disarankan kamu berjalan kaki saat berada di Selemut atau saat berada di tempat lain, akan ada banyak hal yang kamu temui ketika berjalan kaki. :)


Istirahatlah Sejenak Sambil Memandang Indahnya Alam Ciptaan Tuhan

Berisitirahatlah sejenak ketika letih berjalan, ketika sudah sampai ditujuan, sambil memandang indahnya ciptaan Tuhan_Mu. Selemut merupakan daerah sungai yang dekat dengan pantai, airnya tenang sehingga terkesan seperti danau. Mengingat-ingat lagi,  untuk kamu yang pernah naik Semeru, barangkali kamu merasakan dejavu, pemandangan ini mengingatkan kamu pada Ranu Kumbolo, gak sih? :D

Dirikan tenda, dan nikmati indahnya malam di Selemut.


Pemandangan seindah ini sangat sayang jika hanya dinikmati dalam beberapa jam. Kamu harus menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah di tempat ini lebih lama lagi. Mulailah mencari tempat dan dirikanlah tenda, nyalakan api unggun dan nikmati indahnya malam bertabur bintang di Selemut, bercengkrama dengan teman, apalagi teman hidup. :D







informasi dan gambar : Muttaqien Natuna.

Wednesday, November 22, 2017

Menikmati Deburan Ombak Selat Makassar di Pantai Ambalat

Mendengar nama Ambalat hal pertama kali yang terlintas adalah sebuah pulau di bagian utara Kalimantan yang menjadi sengketa antara Indonesia dan Malaysia. Maklum, saat masih suka nonton berita hal itu sedang hangat-hangatnya jadi topik pemberitaan. Namun ternyata Ambalat juga merupakan nama suatu pantai tersembunyi yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di Dusun Selok Batu, RT IV Kelurahan Amborawang Laut, Kecamatan Samboja. Berbatasan dengan kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan. Pantai Ambalat itu sendiri merupakan akronim dari AMBorAwang LAuT, nama desa tempat pantai tersebut berada.

Meskipun termasuk wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, akses terdekat menuju pantai ini adalah dari Kota Balikpapan, dengan jarak sekitar 30 km dari pusat kota. Saya sudah lama ingin ke pantai ini sebenarnya, setelah sebelumnya googling tempat wisata disekitaran Balikpapan, namun belum juga menemukan waktu dan rekan yang bisa diajak jalan. Baru kemarin saya pergi ke pantai ini, bertepatan dengan acara HUT Indobarca Chapter Balikpapan yang kebetulan saya juga anggotanya. Itulah asyiknya berkumpul dalam banyak komunitas. Kali ini konsep ulang tahunnya adalah "camping" yang berarti saya dan rekan-rekan akan menginap disini. Yeaay! 😀
Camping ceria
Mengendarai kuda besi pinjaman, saya berangkat dari kost di Kariangau menuju jalan poros Balikpapan - Samboja. Membutuhkan waktu sekitar 90 menit berkendara dengan kecepatan rata-rata -agak ngebut dikit-. Kemudian dari jalan poros, ada jalan masuk menuju pantai dengan ditandai petunjuk arah bertuliskan "Pantai Ambalat : muter belakang", becanda denk, krik krik. Tulisannya gini : "Pantai Ambalat". Dari jalan poros menuju pantai lumayan jauh yaitu sekitar 7 km, jadi jangan sok-sokan untuk kesana jalan kaki ya, apalagi merangkak. Namun akses sudah mudah dengan jalan semenisasi hingga pantai. Masuk dari jalan poros menuju pantai, kita juga akan ditemani oleh suguhan suasana desa yang asri, rumah-rumah penduduk, sungai kecil, hingga pohon kelapa dan perkebunan waga menjadi pemandangan tenang yang menemani saat menuju pantai.
Fasilitas-fasilitas Pantai Ambalat
Sampai disana hari sudah petang mendekati senja, maklum saya berangkat agak telat setelah sebelumnya melaksanakan inspeksi di galangan kapal. Saat tiba disana, tenda-tenda sudah terpasang, lampu, spanduk-spanduk pelengkap acarapun sudah disiapkan, ternyata panitia sudah datang lebih awal untuk persiapkan segalanya. Good job, mate. Saya mengambil tempat dan memilih tenda didekat pantai, saya menikmati alunan deburan ombak yang menepi. Tak banyak yang bisa diekplor karena malam sudah akan tiba. Saya hanya mengambil gambar pantai berlatar belakang jingga sunset
Pohon pinus pantai Ambalat
Malamnya kami hanya berfokus pada acara yang diadakan komunitas, bakar-bakar ayam, ikan, makan-makan dan acara inti, serta ada juga nonton bareng Barcelona vs Leganes, menang 3 - 0 donk, lega. Malam itu pula hujan deras menemani acara kami, dan tidur di tenda masing-masing adalah hal yang bisa kami lakukan, sambil menunggu hujan reda. 
Ekosistem Bakau

Kegiatan hari minggu pagi seperti biasa, sarapan, permainan dan kuis serta penutupan. Disela-sela acara ini saya ambil kesempatan untuk eksplor-eksplor tempat ini, sambil mencari spot-spot foto yang bagus kan, lumayan untuk ngisi galeri dan upload ke instagram. Pantainya tergolong bersih dengan pasir berwarna coklat, jarang memang bisa menemukan pantai berpasir putih disini. Lautnya juga tenang, cocok untuk berenang. Pantai ini kurang mendapat "polesan" pemerintah, mungkin karena letaknya jauh dan tersembunyi kali ya, dan pantai menunggu tangan-tangan kreatif untuk mengambil gambar dan menceritakan akan amazingnya plesiran ketempat ini. Untuk masuk ke kawasan ini saya tidak dipungut biaya karena sudah dikoordinir oleh panitia. Namun menurut berbagai sumber yang saya baca, biaya retribusi masuk pantai ini kurang lebih Rp. 5.000 / sepeda motor, dan Rp. 15.000 / mobil. 
Pantai Ambalat saat surut
Saat siang, air laut menjadi surut dan pantai Ambalat seakan "timbul" menampakan wujudnya. Panjang pantai ini kurang lebih 2 km dengan lebar ketika surut adalah 60 sampai 100 meter. Saat surut ini yang dimanfaatkan oleh wisatawan untuk bermain-main di pantai. Saya mengambil sepeda motor pinjaman yang kemarin dan pergi menyusuri pantai, mengambil beberapa gambar untuk menemukan spot foto yang ajiiiiib.
Pantai ini dikelola secara sederhana oleh masyarakat setempat, adalah LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Kelurahan Amborawang Laut yang mengelolanya dan bagian Keamanan dipercayakan pada Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kelurahan Amborawang Laut. Meski dikelola secara sederhana, namun fasilitas-fasilitasnya juga tak kalah dengan pantai-pantai lain. Toilet dan tempat bilas tersedia dengan biaya mulai dari 2.000, ada juga mushala, gazebo-gazebo untuk bersantai, hingga villa semi permanen dan permanen milik warga.
Setiap unit disewakan dengan harga kisaran dari 500.000 / malam, dengan fasilitas standar seperti dapur berikut kompornya, ranjang plus kasur, juga tangki air layak konsumsi, serta listrik. Fasilitas lain adalah penyewaan ban pelampung bagi kamu kamu yang berenang dengan membawa anak kecil, juga dilengkapi dengan warung-warung pelengkap untuk mencicipi kuliner khas pantai Ambalat yaitu air kelapa segar + serutan kelapanya. Kelapa disini sangat banyak, bahkan diekspor hingga Balikpapan dan Samarinda.



 







Sumber :
http://kec-samboja.blogspot.co.id/p/pantai-ambalat-samboja.html
http://www.infolegit.com/2017/10/pantai-ambalat-balikpapan.html
http://godiscover.co.id/index.php/2016/04/08/pantai-ambalat/

Tuesday, November 21, 2017

Legenda Batu Kapal

Batu Kapal merupakan sebongkah batu granit besar menyerupai kapal yang terletak di Batu Kapal, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna. Tidak sulit bagi anda untuk mencapai tempat ini, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 10 menit saja dengan berkendara dari kota Ranai. 
Batu Kapal, dok pribadi
Batu ini disebut dengan Batu Kapal karena bentuknya memang seperti sebuah Kapal besar yang terbelah dua yang sedang bertengger di pelabuhan. Ada beberapa cerita yang menceritakan tentang asal usul batu yang besar ini. Salah satunya adalah cerita yang kurang lebih mirip seperti cerita Malin Kundang dari Sumatera Barat.


Batu Kapal ini, konon pada saat dahulu kala adalah sebuah Kapal besar yang sarat akan muatan, pemilik kapal ini adalah seorang pemuda yang sombong serta seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Ketika sang pemuda sudah menjadi orang sukses dan kaya raya, namun sang Ibunda masih tetap hidup serba kekurangan.

Sang ibunda sudah lama menanti kepulangan anak tercintanya dari kampung seberang, akhirnya berita kepulangan anak sampai di telinga ibunda melalui kabar dari tetangga-tetangga. Sang Ibunda mendengar ada seorang pemuda kaya yang pulang untuk memaerkan harta kekayaannya.
Batu Kapal, via sinarpelangionline.com

Sang ibu pun langsung menuju ketempat dimana kapal berlabuh untuk melihat seorang anak yang lama sudah tak dijumpainya, rindu dalam dada seolah sirna ketika ia melihat putranya sudah menjadi orang yang sukses. Seketika itu pula ia berlalri dan ingin memeluk sang anak. Melihat ada seorang wanita tua renta yang datang dan ingin memeluknya, maka ia pun menepis tangan sang ibunda, bahkan sang pemuda menyangkal bahwa wanita tua renta tersebut bukanlah ibu yang telah melahirkannya. 

Dengan rasa malu yang teramat sangat untuk mengakui bahwa itu adalah ibu kandungnya, namun keangkuhan pemuda mengalahkan segalanya. Ia menghardik sang ibu serta mengusirnya dari kapal dengan cara menendangnya. Sontak seakan tak percaya, kerinduan bertahun-tahun seorang ibu dibalas dengan hardikan dan makian, serta tendangan dari anak kandungnya sendiri. Seketika itu pula, rindu berubah menjadi murka, lalu secara spontan sang ibu berdoa agar si pemuda mendapat bala dari Yang Maha Kuasa.
Batu Kapal tampak belakang, via www.tumblr.com
Seketika itu pula doa ibu diijabah oleh Tuhan, langit menghitam, disertai dengan badai dan gemuruh yang dahsyat. Angin topan mengamuk sehingga menerbangkan apa-apa yang ada disekitaran kapal. Gelombang meninggi menghempas kapal sang pemuda hingga terbelah menjadi dua. Sang pemuda karena takutnya berlari ke buritan kapal untuk menyelamatkan diri, namun terlambat. Kapal beserta isinya termasuk sang pemuda berubah menjadi batu. Hingga kini masyarakat menyebutnya Batu Kapal.

Dulu saat saya masih SD, guru saya menceritakan saat mereka kecil, jika mereka bermain di sekitaran Batu Kapal, banyak ditemukan manik-manik dan asesoris-asesoris perhiasan. Guru yang lain menceritakan, jika air sedang pasang, dan saat gelombang menghantam "buritan" di Batu Kapal itu, akan terdengar suara "bu, bu, bu" yang konon adalah suara sang pemuda memohon ampun kepada ibu nya.

Jauh dari lokasi Batu Kapal ini, terdapat Pulau Kemudi dan Pulau Jantai, tepatnya di kecamatan Bunguran Selatan. Konon cerita, ini adalah kemudi dan rantai kapal yang terpental karena dihantam oleh badai yang dahsyat saat "proses" kutukan terjadi.

Apapun itu, baik nyata maupun hanya cerita, kisah-kisah zaman dulu yang diceritakan oleh orang tua kita sangat sarat akan makna dan pesan moral, untuk membimbing kita menjadi lebih baik. :)

sumber :
http://sinarpelangionline.com

Friday, October 20, 2017

Menghabiskan Sisa-sisa Liburan di Pantai Indah Kurma

Menjelajahi Kutai Kartanegara memang tiada habisnya. Kabupaten paling luas ke dua dengan luas mencapai 30% dari luas Provinsi Kalimantan Timur ini banyak menyimpan pesona alam yang indah. Letaknya yang juga berada di delta mahakam ini membuat Kabupaten Kukar memiliki potensi wisata mangrove dan pantai indah nan mempesona. Salah satunya adalah Pantai Indah Kurma, di Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak. Pantai yang langsung menghadap ke Selat Makassar ini boleh dibilang unik, karena untuk menuju kesana kita harus menggunakan perahu klotok.
Lokasi Pantai Indah Kurma
Perjalanan kami mulai dari Samarinda melewati jalan poros Samarinda - Bontang dan masuk belok kanan menuju kecamatan Muara Badak, lama perjalanan sekitar 2 jam lebih dengan kecepatan rata-rata kendaraan roda 4. Cukup melelahkan bagi orang (baca : sopir) yang pertama kali kesana, karena belum memahami medan jalan dan juga harus fokus saat berkendara. Setelah sampai di dermaga kami memarkirkan mobil dengan biaya 10 ribu rupiah, (untuk sepeda motor dikenakan tarif 4 ribu rupiah saja).
Dermaga Penyebrangan
Kemudian kami menghubungi tempat penyewaan perahu untuk menyebrang ke pantai tersebut. Biaya penyebrangan dari dermaga menuju pantai dikenakan 20 ribu per orang. Sebenarnya pantai Indah Kurma ini masih satu tanah dengan pulau Kalimantan, namun karena akses perjalanan darat yang kurang memadai akhirnya menggunakan perahu klotok adalah transportasi mudah nan menyenangkan untuk menuju kesana.
Perjalanan menuju Pantai Indah Kurma, tidak akan bosan dengan ditemani pemandangan mangrove dan satwa-satwa liar
Selama perjalanan kita disuguhkan dengan bentangan hutan mangrove yang memang menjadi khas daerah-daerah muara di Kalimantan ini. Jika beruntung kita juga bisa melihat satwa khas kalimantan, Bekantan. Monyet-monyet kecil juga melompat dengan riangnya diantara pepohonan bakau sambil menemani perjalanan kami. Perjalanan dari dermaga menuju ke pantai Indah Kurma memakan waktu kurang lebih 20 - 30 menit. Setelah sampai, kami masih harus berjalan sedikit dari dermaga menuju pantai, kira-kira 10 -15 menit. Lumayan, sedikit menguras tenaga.
Hutan Mangrove sepanjang jalan penyebrangan
Namun letih tersebut segera terbayar saat setelah tiba di pantai ini, pasir putih dan pepohonan pinus kecil menyambut kedatangan kami. Kami memilih tempat untuk istirahat, tak sulit untuk mendapatkan tempat istirahat, karena saat kami pergi bukan pada saat weekend, jadi tidak banyak yang mengunjungi pantai ini, hanya ada 2 kelompok pemuda-pemudi yang mengunjungi pantai saat kami sampai. Angin yang bertiup dengan syahdunya membuat kami nyaman untuk menikmati pantai ini. Serasa private beach gitu.
Dermaga dan jalan menuju pantai Indah Kurma
Tak lama kemudian, datang seorang laki-laki yang menghampiri, mungkin dia pemiliknya / pengelola pantai. Ia menanyakan dengan perahu siapa kami kesini. Kesan pertamanya bagi saya sudah agak kurang menyenangkan. Tapi tidak apa-apa, tertutup oleh suguhan pantai yang indah nan mempesona ini, setelah itu kami membayar uang masuk 10ribu kepada laki-laki tadi. Uang ini memang sudah ketentuan yang tertulis di dermaga saat sampai tadi.

Pantai Indah Kurma ini ternyata dikelola oleh pribadi, pak Yoga namanya. Mulai dibuka untuk umum pada 2011 lalu, dan pada tahun 2012, pak Yoga baru mulai serius mengelolanya. Beliau mempekerjakan bu Nurhaidah serta suaminya Daeng Saso dan Jusri anaknya untuk mengelola tempat ini, bertanggung jawab akan kebersihan dan kenyamanan pengunjung pantai. Disamping itu, pak Yoga juga bekerjasama dengan warga Desa Tanjung Limau. Kerjasamanya adalah dengan menyediakan penyewaan perahu klotok untuk menyebrang. Sebuah kolaborasi yang apik dalam memajukan kesejahteraan warga desa. Saluut deh untuk pak Yoga ini.
Mushala dan Cottage
Dengan total biaya yang kurang dari 50rb perorang ini kita sudah bisa menikmati berbagai fasilitas, diantaranya penyebrangan dengan perahu klotok + pemandangan hutan mangrove yang menawan sepanjang jalan, air bersih, toilet dan tempat bilas, gazebo dengan kapasitas 50 orang, mushala yang luas dan nyaman, kantin, dan tentunya pantai yang bersih dan terawat, kita juga bisa melakukan kegiatan berkemah disini. Dan bagi yang punya budget lebih, bisa nih sewa cottage / villa seharga 1 juta permalam. Joss banget kan. 😁
 
Setelah istirahat melepas lelah, kami menyusuri pantai sambil mencari spot-spot foto yang bagus. Banyak tulang-tulang sotong yang bentuknya selalu membuat otak untuk berkreasi, ada juga cangkang kerang dan siput berbagai bentuk yang indah. Ayunan pantai yang keberadaannya memang menjadi hits dimana-mana juga dibuat di pantai ini. Pantai ini juga baru ditanami pohon pinus, dan menjadi area spot foto yang so instagramable
Beberapa spot foto instagramable, kayanya dan katanya sih
Dari banyaknya pohon pinus yang ditanam, tepat di samping gazebo ada tumbuh dua buah pohon kurma. Mungkin dari pohon ini nama pantai Indah Kurma berasal. Unik sekali memang, pohon kurma yang orang awam tahu tumbuhnya di gurun pasir tanah arab, sekarang berada di Indonesia dan tumbuh di pantai pula. Mungkin tunasnya mengira pantai ini gurun kali ya, makanya dia numbuh, krik, krik, skip.
Pohon Kurma dan model langsung dari Arab maklum.

Sebenarnya bukan hanya pantai Indah Kurma saja, dideretan pantai Indah Kurma terdapat pantai-pantai lain yang juga mengharuskan kita naik perahu klotok untuk sampai kesana. Masing-masing pantai mungkin memiliki khasnya masing-masing. Namun saat ini pantai Indah Kurma masih menarik hati...


sumber :
http://radarkaltim.prokal.co/read/news/4426-pohon-kurma-di-tengah-lautan.html

Sunday, October 15, 2017

Wisata Alam Kutai Kartanegara : Bukit Bangkirai

Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan kabupaten terkaya di Indonesia dengan hasil alamnya yang melimpah. Situs-situs tambang, minyak dan perkebunan hampir sepenuhnya meliputi kabupaten yang memiliki luas hampir 30% dari luas keseluruhan Provinsi Kaltim ini. Sebanding dengan luasnya Kabupaten ini, Kukar juga menyimpan banyak tempat-tempat wisata yang menakjubkan. Mulai dari wisata alam, religi, sejarah, hingga budaya. Event tahunan ERAU contohnya, kerap diadakan oleh Pemkab Kukar bekerjasama dengan Kesultanan Kutai Ing Martadipura. Acara budaya tertua itu diadakan setahun sekali dengan level sampai mancanegara.
Bukit Bangkirai
Salah satu tempat rekreasi yang ada di Kukar adalah Bukit Bangkirai. Bukit Bangkirai merupakan wisata alam sekaligus wisata edukasi yang ada di Kabupaten Kukar. Terletak di Kecamatan Samboja, lokasinya lebih dekat dengan Kota Balikpapan, kurang lebih 1 jam perjalanan untuk mencapai lokasi ini. Dari Kota Balikpapan melaju melewati jalan poros Balikpapan - Samarinda, hingga menemui pertigaan jalan di KM 37. Belok ke kiri, mengikuti jalan dan petunjuk untuk sampai ke lokasi ini.
Peta Taman Bangkirai

Bukit Bangkirai merupakan objek wisata dengan suasana hutan hujan tropis, hutan yang Indonesia banget. Terlebih di Pulau Kalimantan, yang masih menyandang status sebagai paru-paru dunia. Lokasi Bukit Bangkirai berada di tengah-tengah hutan Kalimantan. Memasuki lokasinya kita harus melewati jalan-jalan situs-situs tambang hingga memasuki area milik perusahaan perkebunan Nasional. Taman wisata hutan Bukit Bangkirai didominasi oleh banyaknya pohon Bangkirai yang tumbuh di area seluas 1500 hektar ini, mungkin itu juga sebagai alasan tempat ini diberi nama Bukit Bangkirai.
Taman Bukit Bangkirai
Pohon Bangkirai sendiri bisa tumbuh setinggi 40 - 50 meter, dengan diameter mencapai 2 meter dan bisa berumur hingga 150 tahun lebih. Selain pohon Bangkirai yang terdapai di taman hutan ini, ada bermacam-macam satwa dan tumbuh-tumbuhan, ini yang tadi saya bilang sebagai wisata edukasi. Dengan melihat langsung ke lapangan, biasanya pelajaran akan lebih mudah terserap kan. Selain itu, Bukit Bangkirai ini juga merupakan hutan konservasi yang memiliki tujuan untuk mengembangkan monumen hutan alam tropika basah. Dan yang memiliki keunikan sendiri adalah tumbuhnya banir (akar papan) yang besar dan kuat menjadikan pohon Bangkirai terlihat indah.
Pohon Ulin
Yang menjadi ikon dari taman hutan Bukit Bangkirai ini adalah jembatan gantung (Canopy Bridge), yaitu jembatan yang dibuat dengan ketinggian 30-40 meter yang menghubungkan antara 5 pohon Bangkirai. Untuk menuju tempat ini, telah disediakan jalur yang sedikit menanjak, melewati hutan dan dikelilingi pohon-pohon besar ratusan tahun. Di beberapa pohon juga diberi plang nama lengkap dengan nama latinnya. Selama perjalanan, kita ditemani oleh suara-suara alam nan indah, jika beruntung kita bisa melihat satwa-satwa yang hidup dengan bebasnya. Ditengah-tengah perjalanan juga disediakan gubuk untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Aneka tumbuhan sepanjang jalur menuju Canopy Bridge
Jembatan gantung ini merupakan tempat untuk uji adrenalin sebenarnya. Untuk menuju ke jembatan ini, kita harus menaiki menara yang terbuat dari kayu ulin yang menempel di pohon Bangkirai, ada dua menara pohon yang dibuat. Bagi yang ada masalah dengan ketinggian, melewati tempat ini merupakan kegiatan spot jantung yang bikin nyawa sudah berada di ubun-ubun. Sebaliknya, jika kita tidak memiliki masalah dengan ketinggian, bisa melewati jembatan ini dengan aman dan tentram sambil menikmati pemandangan hutan hujan tropis alami dari ketinggian di bumi Borneo ini. 
Taman Bangkirai
Canopy Bridge ini merupakan yang pertama di Indonesia, kedua di Asia, dan kedelapan di dunia. Konstruksinya dibuat di Amerika Serikat, aman dari segi keamanan dan keselamatan. Saya mecoba melewati jembatan ini, awalnya takut, namun setelah itu hilang, tertutupi oleh decak kagum akan indahnya alam yang terpampang luas di depan saya. Excelent bin amazing bin warbiyasaak!
Canopy Bridge
Selain wahana jembatan yang membuat spot jantung tadi, ada beberapa fasilitas lain yang terdapat di taman hutan Bukit Bangkirai ini. Tempat parkir yang luas, ruangan untuk pertemuan yang muat 100 orang, cafe dan toko souvenir, camping ground, taman anggrek, ada juga homestay dan jungle cabin bagi kita yang ingin menginap dan menikmati tempat ini lebih lama, dan juga terdapat mushala yang adeem banget. Wahana lain adalah arena outbond dan perahu kecil untuk kita bermain di sungai kecil buatan di arena outbond. Masuk ke lokasi ini dikenakan retribusi sebesar total lebih kurang 30.000 rupiah (lupa detailnya), sudah termasuk biaya parkir mobil, biaya masuk dan canopy bridge.
Mushala Nurul Sajaroh, Bukit Bangkirai





Sumber :
http://www.getborneo.com/bukit-bangkirai-kalimantan-timur/
http://www.kutaikartanegara.com/wisata/bukitbangkirai.html

Thursday, September 7, 2017

Jan Reerink dan Sumur Eksplorasi Minyak Pertama di Indonesia

Sejarah Industri perminyakan di Hindia Belanda (Indonesia) sudah dimulai sejak lama. Berawal dari laporan penemuan minyak bumi oleh Corps of the Mining Engineers, institusi milik Belanda, pada dekade 1850-an, antara lain di Karawang (1850), Semarang (1853), Kalimantan Barat (1857), Palembang (1858), Rembang dan Bojonegoro (1858), Surabaya dan Lamongan (1858). Temuan minyak terus berlanjut pada dekade berikutnya, antara lain di daerah Demak (1862), Muara Enim (1864), Purbalingga (1864) dan Madura (1866). Cornelis de Groot, yang saat itu menjabat sebagai Head of the Department of Mines, pada tahun 1864 melakukan tinjauan hasil eksplorasi dan melaporkan adanya area yang prospektif. Laporannya itulah yang dianggap sebagai milestone sejarah perminyakan Indonesia (Abdoel Kadir, 2004). 
Sumur Explorasi Pertama Indonesia, via facebook

Awal Mula....
Mari berkenalan dengan Jan Reerink (1836-1923). Menurut Poley (2000: 65), dia berasal dari Haarlem, Belanda. Anak ketiga H.J. Reerink, pemilik toko grosir terkenal H.J. Reerink & Zonen. Setelah berkecimpung di toko ayahnya, di pengujung tahun 1860, saat ia berusia 24 tahun Jan Reerink berangkat ke Hindia Belanda dengan kapal laut, dan mendapatkan pekerjaan di pabrik penggilingan padi. Kemudian ia membuka toko seperti ayahnya di Cirebon atas saran seorang teman yang ia jumpai di kapal. Namanya Toko Contant. Setelah bisnisnya berkembang pesat, pada 1867, Jan meminta saudaranya Johannes untuk bergabung mendirikan toko “Gebroeders Reerink”.
Jan Reerink, via poltekmigas.wordpress.com

Pada tahun 1871, Jan Reerink, saudagar toko kelontong di Cirebon ini mendengar cerita bahwa di lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, (Maja), Majalengka itu ada rembesan (seepage) minyak yang kerap dimanfaatkan penduduk untuk berbagai keperluan. Minyak tersebut merembes dari lapisan batuan tersier yang tersingkap ke permukaan. 
"Mungkin diinspirasi pengeboran sumur minyak oleh Kolonel Drake di Titusville, Pennsylvania, AS yang dilakukan di atas rembesan minyak juga pada tahun 1859, Reerink ingin melakukan yang sama. Minyaknya bisa banyak keluar bila dibor, begitu pikir Reerink."
Berdasarkan temuan itu, ia pun menghubungi teman-teman Belandanya untuk bekerja sama mendanai pengeboran sumur minyak, nanti hasilnya dibagi (sistem bagi hasil). Dan dana yang cukup pun terkumpul. Sebagai seorang dari keluarga pedagang, Jan Reerink juga tak menemui kesulitan ketika ia melobi NV Nederlandsche Handel Maatschappij (perusahaan dagang Belanda) untuk menyokong usahanya mencari minyak. Ia bahkan berangkat kembali ke Belanda untuk negosiasi lebih lanjut. Setelah sokongan diperoleh, Reerink pergi ke Lemberg dan Gracow di Galicia untuk mengunjungi perusahaan minyak dan menimba ilmu. Lalu ia pergi ke Amerika Serikat dan Kanada mengumpulkan peralatan bor dan tenaga kerjanya.

Reerink kemudian kembali ke Cirebon dan segera pergi ke lereng barat Ciremai di mana rembesan minyak dilaporkan. Di sana, menggunakan menara bor bergaya Pennsylvania, seperti yang digunakan Kolonel Drake saat mengebor sumur minyak pertamanya di dunia di Titusville, Reerink mengebor sebuah sumur mencari minyak. Saat itu bulan Desember 1871 dan tercatat dalam sejarah perminyakan Indonesia sebagai tahun sumur eksplorasi minyak pertama dibor di Indonesia. 

Sumur pertama itu dinamai Maja-1 atau Cibodas Tangat-1. Tali, bukan pipa, digunakan untuk menggerakkan mata bor. Tidak ada pipa selubung atau casing. Kedalaman sumur pertama itu hanya 125 kaki. Tenaga penggerak berasal dari generator yang dihela beberapa ekor kerbau (buffalo mill). Pada kedalaman sumur 700 kaki, ia mendapati minyak yang bagus mutunya walaupun sedikit. Reerink dan teman-temannya tentu bergembira. Minyaknya dibawa ke Cirebon setelah dibersihkan dari sedimen dan kandungan air dengan cara pengolahan sederhana. Lalu beberapa sumur lagi dibor untuk meningkatkan produksi. Sumur-sumur ini ada yang berhasil menemukan minyak ada yang gagal. Kegagalan tersebut karena mata bor menumbuk formasi batuan keras yang ada diluar batas kemampuan alatnya. Percobaan selanjutnya juga menunjukkan hasil yang sama, kualitas bagus namun jumlah yang sedikit, terlalu kecil untuk dikomersilkan. Total sumur yang dibor sebanyak empat sumur, dan menghasilkan 6000 liter minyak bumi yang merupakan produksi minyak bumi pertama di Indonesia.  
-Pengeboran ini berlangsung hanya berselang 12 (dua belas) tahun setelah pengeboran minyak pertama di dunia oleh Kolonel Edwin L Drake dan William Smith de Titusville (1859). Dengan sumur pertama yang dibor tahun 1871 di Maja, Cibodas, Majalengka, kaki Ciremai ini, menjadikan Indonesia (Hindia Belanda) termasuk satu dari negara-negara pioneer di dunia yang paling awal mengekplorasi dan memproduksi minyak bumi. Namun, sektor pertambangan khususnya minyak bumi, belum menjadi andalan pendapatan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu. Hal ini bisa dilihat dari adanya Indische Mijnwet, produk undang-undang pertambangan pertama, yang baru dibuat pada tahun 1899.- 
Lukisan Reerink mengenai lokasi dan gambaran pengeboran saat itu, via tatangmanguny.wordpress.com

Merasa penasaran belum menemukan minyak dalam jumlah besar, Reerink berpikir bahwa peralatan bornya kurang tenaga, sumur-sumur harus dibor lebih dalam. Maka pada tahun 1873 Reerink pun kembali ke Amerika. Di sana ia membeli peralatan bertenaga uap buatan Kanada, sebagai pengganti tenaga kerbau. Pada 25 Juli 1874, Reerink memulai periode kedua kegiatan pemborannya. Dengan dua mesin bertenaga uap, Reerink mengebor beberapa sumur di Panais, Maja, dan Cipinang, semuanya berlokasi di lereng barat Gunung Ciremai, Majalengka. Namun semuanya gagal. Sumur lain di Palimanan bukan menghasilkan minyak, melainkan air panas yang menyembur setinggi 40 kaki. Meski mesin baru sudah dipakai, tapi nampaknya tidak cocok untuk lingkungan Pulau Jawa.

Sampai tahun 1876, Reerink terus berusaha mengebor di wilayah ini. Dalam kurun waktu dari 1870, NV Nederlandsche Handel Maatschappij (terakhir kemudian menjadi Royal Dutch Shell) telah mengeluarkan 200.000 gulden dan Reerink sendiri mempertaruhkan uang pribadinya sebanyak 100.000 gulden. Sebenarnya Reerink masih ingin berusaha setelah sebanyak 19 sumur eksplorasi dibornya di lereng Ciremai, sementara NHM mau-mau saja menghabiskan uang lagi untuk menggapai tujuan pengeboran, tapi sayangnya cadangan uang Reerink yang ia gunakan untuk berdagang di Cirebon sedang kosong. Karena seolah ditinggalkan begitu saja, toko Reerink terus merugi karena tidak ketat pengelolaannya.  
Peta letak Cibodas (Aardolie, minyak bumi) dekat sungai Cibodas, via tatangmanguny.wordpress.com
Sehingga akhirnya, masih pada tahun 1876, ia memutuskan menutup sumur-sumur tersebut dan kembali ke usaha dagang sebelumnya. Ia kembali memegang kendali usahanya dan saat Johannes meninggal pada 1882, bisnisnya sudah kembali lancar. Pada 1884, setelah menetap lebih dari 20 tahun di daerah tropis Hindia Belanda ini, Reerink menjual bisnisnya kepada asistennya, dan ia pulang ke kampung halamannya di Belanda.
---Selang beberapa tahun setelah Jan Reerink mengakhiri usahanya itu, pada tahun 1884, di kebun tembakau di tanah Deli Sumatera Utara, ada rembesan minyak yang biasa digunakan masyarakat untuk menyalakan obor. Dan Aeyko Ziljker, saudagar kebun tembakau, mengingat kisah Reerink di Majalengka tersebut. Diborlah rembesan minyak itu. Dan itulah penemuan lapangan minyak komersil pertama di Indonesia, Telaga Said.---
Setelah Jan Reerink kembali ke Belanda, dia tetap memonitor perkembangan pengeboran minyak di Pulau Jawa. Mesin yang digunakan untuk pengeboran di Maja masih tersimpan di Cirebon. Ia terus mengikuti perkembangan produksi minyak di Jawa. Sudah agak lama ia ingin mempelajari yang dilakukan “Royal Dutch” dengan wilayah kerja nya. Karena Reerink yakin Royal Dutch akan berhasil di sana. Reerink sebenarnya ingin kembali berkecimpung dalam dunia minyak yang ia rintis, namun kesehatan yang memburuk dan usia tua menghalanginya untuk melakukannya. Reerink hidup sampai tahun 1923.

Tahun 1939, penemuan komersial pertama ditemukan di wilayah ini, lebih ke utara dari wilayah di mana Reerink mengebor sumur-sumur eksplorasinya. BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) menemukan minyak komersial pertama di Jawa Barat di Lapangan Randegan. Berturut-turut kemudian penemuan lapangan-lapangan penting terjadi di wilayah ke utara dan barat dari Randegan, bukan ke selatan menuju Ciremai. Meskipun demikian, minyak-minyak dari sumur-sumur Reerink masih mengalir dan sampai sekarang dimanfaatkan penduduk setempat. 
Lokasi rembesan minyak di dekat sungai Cibodas, via http://geomagz.geologi.esdm.go.id/minyak-di-maja/
Apakah Ciremai, Kuningan, Majenang, dan Banyumas tak perlu dilihat lagi kemungkinannya sebagai wilayah minyak? Salah. Justru wilayah tinggian struktur dari Majalengka-Banyumas ini merupakan salah satu wilayah terkaya akan rembesan minyak di Pulau Jawa. Dan rembesan minyak selalu lebih positif daripada negatif dalam membimbing eksplorasi. Sebuah keunikan geologi, tektonik, volkanisme, dan petroleum system terjadi di wilayah dari Majalengka-Banyumas.
"Jan Reerink tidak salah mempertaruhkan uang pribadinya di lereng Ciremai. Ia hanya belum beruntung saja."
Keuntungan barangkali akan berpihak kepada para eksplorasionis masa mendatang yang berani keluar dari wilayah-wilayah klasik perminyakan. Sains dan keberanian diperlukan dalam hal ini. Perburuan bisa dimulai (lagi) dengan meneliti kembali minyak sumur-sumur Jan Reerink, teliti karakteristik geokimianya. Ini titik ikat sebelah baratlaut (Majalengka). Hal yang sama dilakukan atas rembesan-rembesan minyak di Banyumas, ini adalah titik ikat selatan (Banyumas). Setelah kedua titik ikat ditentukan, mulailah para eksplorasionis berkutat dengan data, sains, rekayasa, dan segala macam ilmu pendukungnya.

Keberhasilan rintisan yang dilakukan oleh Jan Reerink ini, meskipun secara ekonomi tidak menguntungkan, telah menjadi tonggak awal pengeboran minyak bumi di Indonesia. Segera setelah pengeboran minyak bumi di Maja, berturut-turut dilakukan pengeboran oleh pihak Belanda di Telaga Said (Sumatera Utara), Jawa Timur, Kutai dan Balikpapan (Kalimantan Timur), Sumatera Selatan dan beberapa lokasi lainnya. Ini merupakan era pioneer eksplorasi sumur minyak di Indonesia. Kini, ribuan sumur migas tersebar di seluruh pelosok Indonesia yang telah menjadi tumpuan roda perekonomian bangsa. Apapun, sejarah pengeboran minyak di Hindia Belanda atau Indonesia sekarang akan senantiasa mengingat nama Jan Reerink sebagai orang yang merintisnya. Ia patut dikenang sebagai eksplorasionis pertama di Indonesia yang serius mencari minyak. 

Jan Reerink adalah independen pertama pengusaha minyak. Dan sumur Maja-1 adalah sumur ekaplorasi pertama di Indonesia. Dan Reerink benar, sumur lebih dalam harus dibor. Sumur-sumur Reerink hanya menembus kedalaman permukaan. Kita, para eksplorer Indonesia, yang harus melakukannya sekarang, bor lebih dalam. Seawal 1871 Reerink sudah mengebor di Cekungan Bogor pada play type intravolkanik. Luar biasa Reerink, meskipun tak disadarinya. ***



Sumber-sumber refrensi :
Tulisan Awang Satyana, SKK Migas : Sumur Minyak Pertama di Indonesia
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perminyakan_di_Indonesia
https://tatangmanguny.wordpress.com/sejarah-kabupaten-majalengka-bunga-rampai/1527-2/
http://geomagz.geologi.esdm.go.id/minyak-di-maja/

Friday, August 18, 2017

Batu Alif, Pesona Bebatuan Granit di Bunguran Timur

Siapa yang tak kenal Taman Batu Alif atau Alif Stone Park. Komplek bebatuan granit besar ini berada di Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur. Taman batu ini merupakan pelopor tempat wisata baru di Natuna. Sebelumnya masyarakat Natuna "hanya" mengetahui tempat wisata adalah pantai Teluk Selahang, Pantai Cemaga dan beberapa pantai lain yang sudah "tersedia". Namun Alif Stone Park ini menyajikan sajian yang berbeda, wisata bebatuan granit yang memang sudah ada sejak lama namun kurang maksimal dimanfaatkan. Bebatuan granit banyak tersebar di Natuna, baik di pantai maupun di gunung. Ukurannya beragam, mulai dari kecil hingga sebesar gedung. 
Alif Stone Park, foto diambil tahun 2012
Alif Stone Park merupakan salah satu dari sekian banyak hamparan batu granit di pantai yang Natuna miliki. Saya ingat, ketika tahun 2004-2006 (mohon koreksi jika keliru) saya melihat brosur taman ini di kantin sekolah. Media promosi sederhana yang kala itu internet belum banyak yang mengenal, apalagi di tempat saya. Taman Batu Alif dikelola oleh swasta, adalah bapak Both Sudargo yang mengelola tempat tersebut. Beliau pandai betul membaca situasi potensi wisata di Natuna.

Saya baru sadar, ternyata dulu saya pernah piknik di sini bersama teman-teman, namun tempat ini belum seterkenal sekarang. Taman Batu Alif terletak di Desa Sepempang, tidaklah sulit menemukan tempat ini, disisi kanan jalan jika kita jalan dari pusat kota Ranai. Tumpukan bebatuan yang besar yang menyambut perjalanan kita ketika akan memasuki Desa Sepempang itulah lokasi Taman Batu Alif.

Penamaan Taman Batu Alif bukanlah tanpa sebab, adalah batu berukuran besar yang tegak berdiri layaknya huruf Alif, huruf pertama dalam susunan huruf bahasa Arab menjadi alasan tempat ini bernama Alif Stone Park. Saat saya pergi kesini untuk pertama kali dahulu yang ada hanya satu pondok kecil dan antara bebatuan dihubungkan semen menyerupai dinding. Tahun demi tahun berlalu, melalui media sosial saya memperhatikan Alif Stone Park sangat gencar melakukan perubahan disana-sini.  

Monumen "woodhenge" Batu Alif. 😃
Tahun 2012 saya menyempatkan bermain di Taman Batu Alif ini, memang sudah banyak perubahannya, saat itu era media sosial sudah bangkit sehingga Alif Stone Park sudah banyak dikenal hingga keluar. Bahkan tempat ini selalu menjadi tempat wajib yang dikunjungi peliput-peliput dari TV Nasional ketika sedang meliput di Natuna. Tiap kali mudik saya ingin sekali bermain kesini, namun karena waktu mudik yang tidak lama, ditambah dengan banyaknya kegiatan, mengunjungi Alif Stone Park hanya tertulis dalam draft yang tidak dicoret, karena tak kunjung didatangi. Baru kemarin, saat mudik lebaran 2017 saya dan adik menyempatkan diri berkunjung kesana.

Taman Batu Alif benar-benar serius memake-up dirinya, guna mendukung pesatnya perkembangan pariwisata di daerah Natuna, serta menjadi alternatif wisata "Pantai Batu" yang saat ini sudah banyak menunjukkan dirinya. Namun tak seperti yang lain, Taman Batu Alif melakukan make upnya dengan matang. Setelah hampir 12 tahun sejak promosinya yang pertama. Kini Taman Batu Alif menjadi taman batu yang indah, disela-sela bebatuan dibuat jalan bagai lorong-lorong gua, tanaman-tanaman hias dibudidayakan dan disusun sedemikian rupa layaknya sebuah taman, pokoknya instagramable banget lah. Bahkan sudah ada homestaynya disini. Dengan fasilitas yang siap memanjakan kamu jika ingin menginap di Taman Batu Alif dengan biaya 800.000 per malam.
Penunjuk arah -ke hati mu-
Kinipun di sekitaran taman sudah diberi pagar. Saat masuk, monumen Jungkong yang disusun ala-ala Stonehenge di Inggis sudah mengucapkan selamat datang kepada kita. Karena monumennya dari kayu bukan batu, bolehlah kita sebut dengan woodhenge, wkkwkwk. Berjalan masuk kedalam kita melewati gerbang yang instagramable, ada dua jalan setelah gerbang masuk, lurus menuju homestay, dan belok kanan untuk menuju taman. Kami memasuki taman (karena gak ada uang mau ambil homestay), dan dikenakan biaya 5.000 perorang, untuk biaya perawatan dan kebersihan katanya. Jumlah yang sepadan mengingat taman Batu Alif ini sangat bersih dan tertata rapi.
 
Tanaman hias, dan Batu Bertanya, serta lafadz Allah pada Batu Bertanya
Plang penunjuk arah adalah objek yang pertama kali saya lihat ketika masuk. Dari papan tersebut, terdapat papan-papan penunjuk lokasi-lokasi wisata di 2 arah yang berbeda, satu arah ke taman kupu-kupu dan batu bertanya. Arah yang lain menunjukkan ke arah bebatuan di pantai yang terdiri dari kerangka paus, ayunan laut dan pemandangan pantai. 
 
Saya memilih untuk menuju ke arah taman kupu-kupu dan batu bertanya terlebih dahulu, menyusuri bongkahan-bongkahan batu granit yang sudah alam "susunkan" dan melewati tanaman-tanaman hias yang tertata rapi dan indah, cahaya matahari menyelinap disela-sela daun kelapa yang batangnya tinggi menjulang. Tak sebegitu jauh dari simpang penunjuk arah tadi, ada tanah yang cukup luas, juga di sini tempat berakhirnya jalan semenisasi yang dibuat, ujung jalan dibuat bulat, serta ada panah penunjuk arah kesebuah bongkah batu yang "bertumpak", tulisannya adalah Asking Stone (Batu Bertanya).
Penampakan Homestay dari samping, dan Kerangka Ikan Paus.
Saya mendekati batu itu sambil bertanya-tanya kenapa namanya batu bertanya? Namun hanya selintas saja pertanyaan itu menggema direlung tanda tanya saya, dan akhirnya sebuah tanya terjawab kenapa namanya batu bertanya. (bingung sendiri gueh nulisnya). Batu Bertanya yang berada di taman Batu Alif ini hanya merupakan beberapa tumpukan batu seukuran sedang, namun pahatan alami pada batu tersebut menyerupai tulisan Allah dalam huruf arab. Mungkin inilah Batu Bertanya itu ya. Kenapa namanya Batu Bertanya sementara tidak ada tulisan atau tanda yang menunjuk ke arah atau simbol "tanya?", makanya itu namanya batu bertanya. (bingung lagi kan). wes ah skip jek. Wkwkwk.

Setelah dari Batu Bertanya yang penuh tanda tanya serta membuat kita bertanya-tanya tadi, saya menuju ke arah pantai. Dari simpang tempat penunjukan arah tadi, menuju arah pantai dan kembali melewati lorong yang dibuat oleh tumpukan-tumpukan batu granit, melewati sisi homestay, dan kerangka paus. Konon kerangka ini berasal dari ikan paus (ya iyalah) yang mati terdampar di pantai Pengadah sekitar tahun 2007 lalu. Kerangkanya dipajang di sini. Setelah melewati tempat tadi, barulah pesona Batu Alif yang memanjakan mata dan terkenal itu tampak. Susunan bebatuan yang terhampar di lautan serta tumpukan-tumpukan batu berbagai ukuran menghiasi alam serta Pulau Senua yang nampak dari jauh menjadi pelengkap panorama alam di taman batu ini.
Ayunan Laut kekinian.
Antar bebatuan dibuat jembatan sebagai penghubung. Spot-spot foto yang instagramable dibuat untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke sini. Ayunan lautpun (yang memang sedang trend di beberapa tempat wisata pantai Indonesia) dibuat dengan dekorasi sederhana namun berkesan, di salah satu batu dipasang bendera merah putih. Lalu ada semacam hall of fame, gate kecil dibuat semacam frame foto dengan tulisan welcome to Alif Stone Park dengan latar belakang Batu Alif yang menjadi ikon utama.
-sepertinya hal yang menarik, untuk setiap tempat wisata di Natuna dipasang bendera Merah Putih, selain sebagai objek foto wisatawan, juga mendandakan setianya kita kepada NKRI, cieeileeh-
Spot foto instagramable

Pesona Batu Alif
Di sini kita bisa berenang sepuasnya, namun hati-hati dengan jenis-jenis mahkluk hidup yang menempel di bebatuan yang terendam laut, biasanya tajam dan dapat melukai hati kaki. Ada juga penyewaan alat-alat snorkling jika ingin menikmati surga bawah laut Natuna, dan juga penyewan kano dengan biaya 2.5000/jam jika ingin bermain laut namun tak ingin berbasah-basahan. Selain itu, dikala senja Batu Alif juga merupakan spot foto unik yang bertema sunset dan siluet. Sebuah tempat yang one for all banget di Natuna ini.
Last, but not least, siluet sunset bareng adek puan semata wayang. Batu Alif.
Setelah mendapatkan beberapa gambar, dan berhubung mataharipun sudah beranjak keperaduannya. Kami pun segera pergi karena malam sudah hampir tiba, -pamali orang-orang tua dulu bilang kalau magrib masih di luar rumah-. hhe. Belum puas memang, karena masih dibilang sebentar dan belum mencoba semua fasilitas disini. Namun setidaknya bisa mengobati rasa pensaran saya akan tersohornya taman Batu Alif yang melegenda ini. Juga ada bahan untuk pamer dengan rekan-rekan di KalTim dan dimana pun tempat saya merantau nanti.
 
So, enjoy Natuna!!!








More info tentang Alif Stone Park, bisa langsung kepoin medsosnya di : 
FB : facebook.com/alifstoneparknatuna/
IG : @alifstoneparknatuna
Telp : 0812 2605 8197