Thursday, April 22, 2021

Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan (Hari Terakhir) - Desa Wisata dan Kesimpulan

Yap, sampai juga. Ini merupakan hari terakhir dari agenda studi komparasi wisata di Bintan. Ada beberapa kegiatan hari ini yang "harus" kami ikuti sebelum menuju ke Batam untuk kembali pulang ke Natuna esok harinya. 

Setelah puas berenang di Crystal Lagoon, sarapan, dan check out dari The Anmon Hotel. Perjalanan kami teruskan ke Desa Wisata Ekang. Desa Wisata Ekang masih terletak di Teluk Sabong, namun bukan termasuk di dalam kawasan atau manajemen BRC. 

Salah satu tempat menginap di D'Bamboo Kamp Desa Wisata Ekang

Desa Wisata Ekang berkonsep alam dan lingkungan, sangat pas untuk mengisi liburan bersama keluarga. Desa wisata dengan luas sekitar 14 hektar yang menjadi desa wisata terbaik di Indonesia ini merupakan buah dari hasil kerjasama antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna. 

Tempat menginap yang lain dengan konsep berbeda

Ada beberapa tipe kamar tempat menginap yang terdapat di desa wisata ini. Fasilitas lain yang terdapat di sini adalah kolam renang dan restoran yang terletak di dekat loby. Selain menginap, kita juga bisa melakukan aktifitas lainnya seperti berkebun, bermain bersama kelinci, berkuda, memancing, dan lain-lain.

https://desawisataekang.id/

Kawasan perkebunan Desa Wisata Ekang

Kami mengitari sebagian dari lokasi Desa Wisata yang kece ini, selanjutnya kami meneruskan perjalanan menuju Tanjungpinang untuk makan siang di Manabu Resto. Sebelum berpisah, kami mendapat berbagai cendera mata dari BRC, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga berharap kerjasama antara Pemkab dan BRC terus terjalin untuk bersama-sama memajukan pariwisata di Kepri, khususnya Natuna dan Bintan.

Cekrek dulu sebelum berpisah, trims BRC...


-----------------------


Sebuah catatan :

Perjalanan selama kurang lebih tiga hari dalam rangka studi komparasi wisata di Bintan banyak memberikan pelajaran serta wawasan, terutama di bidang pariwisata. Dalam beberapa sisi, alam yang dimiliki oleh Bintan dan Natuna relatif sama, sehingga tidak menutup peluang wisata yang serupa bisa berkembang juga di Natuna.

Wisata Mangrove

Kebun Binatang Mini

Banyak tempat potensial yang bisa dijadikan desa wisata di Natuna, baik di dengan tema agrowisata, wisata bahari, maupun wisata alam. Hutan mangrove yang dimiliki Natuna juga sangat luas dan tersebar di beberapa pulau. Berbicara tentang kuliner, Natuna gudangnya makanan laut yang lezat dan kaya protein. Dan yang tak kalah penting adalah kebudayaannya, cerita rakyat, kesenian, dan lain-lain. 

Desa Wisata
Glamping

Semuanya bisa dikembangkan menjadi lebih baik. Syaratnya adalah kolaborasi, kerjasama lintas sektor, baik pemerintah maupun swasta serta melibatkan masyarakat lokal sebagai ujung tombak pengelolaan. Semoga pariwisata Natuna menjadi semakin baik kedepannya. Aamiin.


Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan, selesai.

Monday, April 19, 2021

Glamping Ala-ala di Anmon Hotel - Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan

Hari kedua dalam rangkaian Studi Komparasi Wisata di Kabupaten Bintan ini sungguh luar biasa. Sepuluh destinasi wisata super keren di kawasan terpadu BRC kami kunjungi dalam waktu kurang lebih 10 jam. Mulai dari sarapan di Pujasera hingga makan malam di Cassia Hotel sambil menikmati angin pantai dan sunset.

Setelah selesai santap malam, mobil membawa kami menuju kembali ke Chill Cove, tempat kolam renang terbesar se Asia Tenggara yang kami kunjungi pagi tadi. Selain terdapat kolam renang, wisata mangrove dan area outbond, kawasan Chill Cove juga terdapat 2 hotel dengan konsep unik dan menarik. Dan, kami akan menginap di salah satunya. 😁

The Anmon Hotel di malam hari

Anmon dan Natra, nama dua hotel dengan tema glamping tersebut. Glamping merupakan akronim dari glamour camping, konsep berkemah dengan didukung oleh fasilitas dan akomodasi yang memadai, begitulah kira-kira definisi glamping ini. Konsep glamping sudah mulai populer di beberapa negara dalam beberapa tahun terakhir. Menjadikan ia alternatif menginap ala kemah meski tak punya "skill" berkemah. 

Natra Hotel lebih dahulu beroperasi, dulu bernama The  Canopy Bintan. Baru pada 1 agustus 2019, ia berubah nama menjadi Natra yang terinspirasi dari bahasa arab. Sementara Anmon baru saja beroperasi dalam beberapa bulan terakhir.

Oleh pihak BRC, kami diinapkan di The Anmon Hotel. Baik Natra maupun Anmol sama-sama mengusung konsep glamping yang berpadu dengan alam. Semuanya wah. Bedanya hanya dibentuk tenda saja menurut saya. Natra Bintan memiliki tenda yang lebih besar dan lebar, sementara The Anmon bentuk tendanya lebih kecil dan mengerucut khas tenda suku indian atau perkemahan di padang pasir. 

Foto bareng pak Imam (baru biru paling kiri), dan mbak Putri (tiga dari kiri),
LO yang sudah menemani kami selama 2 hari ini

Di tempat check in, terdapat restoran yang kece abis, lobby hotel juga dikemas dengan modern sehingga sangat cocok untuk hanya sekedar nongkrong. Proses check in sudah selesai, sebelum kami diantar menuju kamar, kami berfoto dulu dengan LO yang sudah menemani kami dari kemarin hingga hari ini. Sebab, agenda besok hingga lusa akan berganti LO. Terimakasih banyak mbak Putri dan pak Imam sudah mau menemani kami jalan-jalan di Bintan. 😀 

Kami diantar menuju kamar masing-masing. Saya mendapat kamar no 106. Kamar dengan bentuk khas tenda khas gurun pasir ini begitu tampak sederhana dari luar. Dibaluti "kain" putih berbentuk kerucut dengan teras kecil di depannya. Hal yang kontras saat saya masuk ke dalam, fasilitas hotel yang mewah lengkap dengan kamar mandinya beserta perlengkapan lainnya. Yap, jadi inilah dia glamping itu ya, ternyata. Saya berberes-beres sebentar, setelah seharian berada di luar badan ini meminta haknya untuk dibersihkan. Setelah berberes-beres, mandi, dan sejenak beristirahat. Saya mencoba mengitari komplek "tenda" mewah ini.

Anmon menerapkan tema gurun pasir, pasir putih ala-ala gurun, hingga tanaman kaktus dan pohon palm terdapat di area komplek kemah. Lampu pelita di tepi-tepi jalan membuat malam semakin syahdu, lengkap dengan kilauan bintang di langit. Tamu-tamu lain yang menginap mengadakan acara "api unggun", barbaque-an di sekitar kemah. Ada alun-alun kecil tempat berkumpul di luar tenda. 

Saya tak meneruskan untuk sksplor lebih jauh Anmon ini, dikarenakan hari semakin larut dan letih di badan masih tersisa setelah seharian berkegiatan. Saya kembali ke kamar dan beristirahat. Di dalam kamar, kita juga masih bisa melihat bintang-bintang, karena atap kamar hotel bisa dibuka-tutup.

--------

Pagi harinya saya bangun agak kesiangan. Cepat-cepat keluar tenda untuk menikmati udara pagi di sekitaran kemah. Tak lama di luar, lalu kembali masik ke kamar untuk ambil perlengkapan, berenang di crytal lagoon. 😆

Hanya ada beberapa orang saja yang sedang berenang pagi ini, termasuk saya dan bang Jono. Sementara buk Kasi, pak Kabid dan pak Kadis sudah lebih dahulu jalan-jalan pagi di sekitaran kemah dan kolam. Segar rasanya berenang di kolam yang berasal dari air laut hasil penyulingan ini, kolamnya yang begitu luas serasa sedang berenang di laut sungguhan.

Basah-basah, pagi-pagi

Namun saya tak bisa berlama-lama karena agenda berikutnya sudah menunggu. Saya langsung bergegas kembali ke kamar, berbilas dan bersiap-siap. Di ruang tamu kamar sudah tersedia sarapan. Sarapan di Anmon modelnya diantar ke kamar, tak seperti hotel kebanyakan yang menyajikan prasmanan di hotel. Makan untuk sarapan dan lain-lainnya juga dipesan saat kita akan check in. Lalu keesokan harinya barulah makanan diantar, seperti itu. 

Beres-beres sudah, sarapanpun sudah, selanjutnya adalah kembali menuju lobby, dan check out. Lalu melanjutkan ke agenda berikutnya.

Biar kayak orang-orang

Check ouuuuut

Thank you, The Anmon Hotel for the great experience.


Refrensi :
https://www.bintan-resorts.com/resorts/anmon/


Tuesday, April 13, 2021

Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan - Kebun Binatang dan Rumah Imaji

Kami bagaikan artis hari ini, agenda dari pagi hingga siang ini sangatlah padat. Tak kurang dari tujuh tempat wisata yang sudah kami kunjungi pada giat studi komparasi wisata di Kabupaten Bintan ini. Setelah berkeliling-keliling kawasan Chill Cove di Treasure Bay, kami melanjutkan jalan-jalan wisata kami ke Safari Lagoi & Eco Farm. Safari Lagoi & Eco Farm merupakan kebun binatang dan lahan perkebunan yang menjadi bagian kawasan wisata terpadu Bintan Resort.

Safari Lagoi, Foto dulu coy!

Ada beragam koleksi satwa yang ada di sini. Rata-rata satwa yang berada di sini merupakan satwa yang membutuhkan perawatan dan rehabilitasi dan kemungkinan bertahan hidup kecil jika ia dilepaskan ke alam liar. Beberapa satwa disini juga merupakan satwa yang terselamatkan dari perdagangan hewan dan pasar daging hewan ilegal. Di sini, kita bisa melihat kelinci yang imut-imut, rusa, kuda, beruang madu, buaya, beragam jenis ular, harimau, beragam jenis primata, ragam jenis reptil, burung, hingga unggas. Aktifitas yang bisa kita lakukan adalah memberi makan satwa, dan ada juga paket wisata bermain bersama gajah.
 
 
 
Selain satwa, kita juga bisa menikmati kawasan perkebunan dan taman-taman bunga yang indah. Ada beberapa jenis bunga yang tersedia di Safari Lagoi & Eco Farm ini. Selain itu, kebun-kebun tanaman tropis juga bisa kita dapati. Semuanya tersusun rapi dan indah. Dan tentunya dengan spot foto yang instagramable untuk mengisi feed mu. 

Kebun bunga di depan pintu masuk
 
Berwisata di Safari Lagoi & Eco Farm merupakan wisata edukasi yang menarik, ada papan informasi yang informatif yang bisa menambah pengetahuan tentang satwa dan tumbuhan yang ada. Selain itu, di sini kita "dididik" untuk bisa melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati yang merupakan warisan alam besar yang dimiliki Indonesia. Jadi kita semua bisa terlibat, tak hanya menjadi tugas pemerintah saja.
Numpang eksis di Lagoi Bay
 
Setelah dari Safari Lagoi & Eco Farm, perjalanan kami berlanjut ke Lagoi Bay untuk makan siang. Tak jauh perjalanan dari Safari Lagoi & Eco Farm menuju Lagoi Bay. Setelah tiba kami disuguhi oleh makanan lezat yang membuat isi perut meronta-meronta. Setelah menuntaskan jatah si perut, dan rehat sejenak. Kami meneruskan perjalanan ke Rumah Imaji yang letaknya masih di kawasan Lagoi Bay. Rumah Imaji merupakan studio foto yang memainkan ilusi optik kita. Ada "rumah terbalik" dan foto-foto 3 dimensi yang super kece! 
 
cosplay cicak
 
Sebelum masuk ke studio, kita harus melepas alas kaki dan dimasukkan ke dalam godie bag berwarna oren yang disediakan oleh pengelola. Pintu masuk rumah imaji berbentuk bagian depan dari rumah melayu. Masuk ke dalamnya, langsung berada di area rumah terbalik. Ada ruang tamu, kamar tidur, hingga kamar mandi yang semuanya serba terbalik. Selanjutnya kami memasuki studio foto tiga dimensi. Ada banyak spot foto dengan berbagai tema di sini. Mulai dari tema mangrove, tema melayu, hingga tema-tema lain yang instagramable tentunya.
 

 
Setelah puas berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan ke Bintan Ria Golf, sebuah tempat golf yang memiliki banyak fasilitas, mulai dari tempat karaoke, spa, meeting room, dan lodge (hotel). Tak lama kami berada di sini, karena sudah mulai tamak aghi (sudah mau malam). Kami melanjutkan perjalanan ke Cassia Hotel, singgah sebentar untuk makan malam sambil menikmati pantai dan sunset di bagian utara pulau Bintan ini.




Masih berlanjut, yew.........







Friday, April 9, 2021

Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan - Crystal Lagoon dan Mangrove (lagi)

Masih dihari kedua. Perjalanan masih berlanjut seakan tiada henti. 😈 Setelah melihat megahnya Doulos Phos The Ship Hotel. Kami diajak menuju kolam renang terbesar se Asia Tenggara. Crystal Lagoon namanya. Saat tiba, kami disambut oleh manager pengelola dengan ramah. Kami mengobrol santai dan menjelaskan secara singkat tentang kolam renang ini. Saat akan masuk ke dalam area, kami diberi gelang sebagai penanda tamu. 

Kasih tanda, biar gak hilang

Tidak seperti biasanya, kolam ini sepi, imbas dari belum berakhirnya pandemi. Sedih pula rasanya melihat tempat semegah ini namun sepi pengunjungnya. Banyak fasilitas-fasilitas yang tak terpakai, dan hanya terlihat beberapa pegawai yang melakukan perawatan-perawatan. Kami diajak berkeling-keliling kolam dengan mobil taman. Terlihat ada beberapa pengunjung yang menikmati kolam ini.

Crystal Lagoon, Bintan

Crystal Lagoon yang merupakan kolam renang terbesar ini terletak di area BRC yang bernama Chill Cove. Luasnya lebih dari 6 hektar dengan panjang sekitar 800 meter dengan kedalaman sampai 2,5 meter. Air kolam merupakan air laut asli yang melalui proses penyulingan.

Potopoto sama pengelola

Selain berenang sampai puas, crystal lagoon juga menawarkan beberapa atraksi bahari, seperti water jet, paddleboarding, flyboarding, kayak, hingga water ski. Taman bermain di darat serta tempat bersantai juga tersedia di dekat kolam. Jika bosan dengan kegiatan air, bisa menjajaki berbagai fasilitas lain seperti ATV dan menyusuri hutan mangrove di sekitar kolam. Pun jika bosan dengan kegiatan outdoor, kita juga menikmati beragam fasilitas indoor yang disediakan. Untuk paket dan harga bisa langsung mengunjungi situs resminya, ya. 😊

Perjalanan kami masih berlanjut menuju Treasure Bay Mangrove, letaknya tak jauh dari Crystal Lagoon. Treasure Bay Mangrove merupakan wisata bakau yang ada di BRC, berbeda dengan Bintan Mangrove yang kami kunjungi tadi pagi, yak. Konsepnya sama seperti Bintan Mangrove, hanya dermaga kecil tempat "transit" sebentar untuk menuju perahu dan diajak museng-museng (jalan-jalan) mengitari hutan bakau. 

Pintu Masuk Treasure Bay Mangrove

Jika beruntung kita bisa melihat dugong, sejenis mamalia air tawar yang habitatnya memang di sekitar bakau dan beberapa hewan khas hutan mangrove lainnya. Beragam paket wisata tersedia di treasure bay mangrove ini. Di dekat dermaga, ada "tongkang mini" yang biasa digunakan untuk mengantarkan wisatawan dinner di tengah-tengah muara, atau mengantarkan turis untuk melakukan yoga di tengah-tengah mangrove sambil menyatu dengan alam.

Dermaga Treasure Bay Mangrove

Sepertinya seru ya, dinner dengan pasangan di tengah-tengah muara bakau, atau beryoga dengan ditemani musik alam. Di Natuna ada banyak spot wisata bakau, beberapa sudah dikembangkan, dan yang lain sedang dalam tahap pengembangan. Semoga bisa memberikan warna lain dalam wisata Natuna yang masih berfokus pada pantai dan pulau.



Lanjut lagiii .........




Refrensi
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210204151141-269-602318/kolam-renang-terbesar-se-asia-tenggara-ternyata-ada-di-bintan
https://www.treasurebaybintan.com/

Tuesday, April 6, 2021

Megahnya Doulos Phos - Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan

Masih dalam cerita studi komparasi wisata di Bintan. Hari kedua. Waktu sudah mulai siang, matahari mulai menanjak naik ke atas di balik awan yang menutupi langit Bintan, sehingga panasnya cuaca tak terasa. Mendung-mendung syahdu, gitu. Perjalanan dari pagi hingga beranjak siang ini dimulai dari pujasera hingga ke marina.

Selanjutnya, masih di Teluk Sebong, BRC, perjalanan kami berlanjut ke Anchor Isle, menuju "hotel kapal". Letaknya tak jauh dari Bandar Bentan Telani, ada sebuah kapal besar "terdampar" di ujung sana. Tanjung Jangkar, saya spontan saja menyebutnya demikian, karena tempat kapal ini terdampar adalah tanjung reklamasi berbentuk jangkar raksasa jika dilihat dari atas. Di samping kanan jangkar, ada menara tua, mungkin mercu suar yang berdiri di pulau kecil. Menara ini sepertinya sudah ada sejak lama, terlihat dari bentuk konstruksinya yang jadul banget.
Mercu suar.

Hotel Doulos Phos, merupakan hotel kapal yang ada di kawasan BRC. Bukan bangunan yang dibuat menyerupai kapal, namun kapal asli yang diubah menjadi hotel mewah nan megah. Jom kite ulas fakta-faktanye sikit-sikit.


Kapal Tua Dengan Umur Satu Abad

Doulos Phos The Ship Hotel ini merupakan jelmaan dari kapal yang telah berumur seabad, lebih tepatnya 107 tahun. Kapal ini mulai dibangun pada tahun 1914, lebih muda 2 tahun dari kapal legendaris Titanic. Kapal ini diluncurkan pada 22 agustus ditahun yang sama. Lokasi pembuatannya di Newport News Shipbuilding and Dry Dock Company untuk Mallory Steamship Company, Amerika. 

Doulos Phos dengan nama awalnya SS Medina berfungsi sebagai kapal penumpang untuk kaum bangsawan dan juga pengangkut barang dagangan dengan rute dari Pantai Timur ke Teluk Meksiko. Sama seperti kapal besar pada eranya, doulos phos juga pernah mendapat tugas "wajib militer", dengan mengantar bahan makanan dan obat-obatan saat perang dunia kedua terjadi.

SS Medina, via opposite-lock 
Setelah perang dunia usai, ia dibeli oleh perusahaan Panama, Naviera San Miguel SA pada tahun 1948 dan mengganti namanya menjadi SS Roma. SS Roma dikonversi menjadi kapal penumpang dengan ratuan kabin, dan asrama.

Tahun 1952, perusahaan Italia, Linea Costa membeli SS Roma dan mengganti namanya menjadi MS Franca C. Selain merubah nama, Linea Costa juga mengganti mesin uap ke mesin diesel ganda, mengikuti arus zaman. Kapal berkapasitas 900 orang ini berlayar antara Italia dan Argentina. Tahun 1959, MS Franca C direnovasi menjadi kapal penumpang mewah kelas 1 yang berlayar sekitar Mediterania, dan sesekali mengarungi Luat Hitam. 

Terakhir, ia menjadi MV Doulos, yang berfungsi sebagai kapal pameran buku terapung hingga 2009.

MS. Franca C, via opposite-lock


Mendapat Penghargaan Dunia

Karena memiliki sejarah yang panjang, nama Doulos Phos ditorehkan di Guinness World Record sebagai kapal penumpang tertua di dunia. 

Hotel Doulos Phos


Dibeli Oleh Saudagar Singapura

Setelah menyelesaikan tugasnya dan pensiun sebagai kapal penumpang aktif tertua di dunia, pada 2010 MV Doulos Phos dibeli oleh saudagar dari Singapura. Dengan proses yang panjang, akhirnya ia dibawa ke Bintan, duduk menikmati masa pensiunnya dengan damai dengan dikonversikannya menjadi hotel megah oleh Biznaz Resources International Pte Ltd. 


Banyak Fasilitas.

Hotel Kapal yang terdiri dari 8 deck ini memiliki 104 kamar (kami tak bisa mendeskripsikan karena tidak menginap 😃). Selain kamar-kamar mewah, Doulos Phos The Ship Hotel juga memiliki beragam fasilitas, baik di dalam kapal, maupun di anchor isle nya. Fasilitas tersebut meliputi restoran, bar, dan tempat spa. Mau berfoto ala Jack and Rose di Titanic juga bisa. Museum maritim dan lobby terletak di B-Deck. Aula dan ruang rapat terdapat di Boat Deck. Fasilitas lainnya adalah ruang perjamuan, perpustakaan, club lounge, kabin tamu di darat, bar, kolam renang, ruang fitnes, sauna dan restoran.

Bagian Belakang Kapal, Anchor Isle


-----------

Hotel Kapal ini merupakan ikon baru pariwisata di Kabupaten Bintan. Saat kami datang, hotel ini sedang dalam tahap pekerjaan akhir sehingga kami belum boleh diijinkan untuk masuk ke dalam kapal. Kami hanya "bermain" di luar saja, sambil berdiskusi dengan LO dan foto-foto tentunya.

Untuk informasi lain bisa dilihat di website resmi Bintan Resort dan www.doulosphos.com, yap. Selamat bersenang-senang. Agenda studi komparasi kami masih berlanjut ke tempat-tempat menarik berikutnya. Bye... 👋




Refrensi :
kumparan(dot)com
cnnindonesia(dot)com


Saturday, April 3, 2021

Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan : Eksplor BRC

Hari kedua di kawasan Bintan Resort Cakrawala. Setelah "urusan pagi hari" diselesaikan, kami bersiap-siap mengikuti agenda berikutnya. Kegiatan pertama hari kedua kali ini adalah sarapan di pujasera BRC, letaknya sekitar 200 meter dari BSA. Kami kembali dipersilahkan untuk memindai barcode lewat telepon genggam masing-masing sebelum masuk ke pujasera. Pusat jajanan serba ada milik BRC ini kini tak ramai seperti biasanya, banyak tenant yang tutup imbas pandemi yang masih seliweran di sana sini.
Scan "buku tamu" barcode

Pujasera BRC, sepiii
Setelah kembali mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kali ini yaitu Bintan Mangrove. Letaknya tak begitu jauh dari pujasera BRC. Melewati komplek BRC, mobil yang kami tumpangi berhenti di tepian jalan di dekat lapangan bola, yang di seberangnya ada gapura bertuliskan Bintan Mangrove. Kami berjalan kaki dari gapura menuju dermaga. Dalam benak saya, kami akan berjalan kaki menyusuri hutan mangrove seperti wisata mangrove yang ada di Natuna. Namun ternyata lain, wisata mangrove di BRC dikemas dalam konsep yang berbeda, yaitu dengan menyusuri hutan bakau dengan perahu melewati muara hingga hulu. 

Bintan Mangrove
Jadi perjalanan ke dermaganya tadi adalah "objek utamanya". Dermaga kecil seluas 60 meter persegi ini terletak di tepi mangrove. Jika beroperasi, akan ada banyak perahu yang menunggu untuk membawa wisatawan menyusuri hutan mangrove. Di dalam dermaga juga terlihat agak berantakan, karena lama sudah ditinggalkan. Ada papan barcode pengganti buku tamu seperti yang ada pada tempat-tempat lain di kawasan BRC, ada juga informasi-informasi lain yang dipajang di didinding dermaga, foto-foto, hingga penghargaan. Ada juga peta yang menunjukan lokasi-lokasi apa saja yang akan dilewati ketika menyusuri sungai mangrove nanti.
Dermaga Bintan Mangrove
Menyusuri sungai bakau dengan perahu memang memiliki daya tarik tersendiri. Terlebih ditambah dengan story telling dari pemandu, yang menceritakan detail tempat-tempat yang dikunjungi. Kemampuan story telling ini memang harus dimiliki oleh para pemandu wisata agar perjalanan wisata semakin menarik. 
Contoh saja, jika di suatu tempat ada batu besar di tengah hutan, hanya batu biasa saja. Namun dengan cerita yang dikemas sedemikian rupa, batu tersebut memiliki "nilai" tambah, bahkan bisa jadi objek utama.
Itu yang dilakukan di wisata Bintan Mangrove ini, dermaga wisata terletak di hilir. Perahu wisata akan membawa para wisatawan menuju hulu sungai, di sepanjang jalan kita akan melewati berbagai tempat, tentunya dengan story telling masing-masing. Yang membuat saya tertarik adalah batu buaya. Namun saya hanya dapat mendengar deskripsi dari pemandu wisata saja, kami tidak bisa menyusuri mangrove, tidak ada perahu, dan pandemi (lagi) yang tak kunjung berlalu.
 
Setelah dari Bintan Mangrove, perjalanan kami lanjutkan ke Terminal Ferry, Bandar Bentan Telani. Ia terletak di Teluk Sebong, kawasan BRC. Bandar Bentan Telani merupakan pelabuhan terintegrasi yang menghubungkan antara BRC, Pulau Bintan dan Tanah Merah, Singapura. Saat kami tiba, ramai orang berada di loby, yang ternyata mereka adalah karyawan di BRC yang akan disuntik vaksin. Vaksinasi merupakan program pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang sudah setahun lebih bergelirya di negeri kita. Vaksin juga merupakan ikhtiar kita agar semuanya kembali "seperti biasa", termasuk pariwisata.
Suasana ruang tunggu terminal ferry Bandar Bintan Telani
Kami melewati lobby terminal dan menuju ke luar, tempat dimana dua kapal ferry penyeberangan milik BRC ini bersandar. Selama covid melanda, selama itu pula ferry megah bernama Aria Bupala dan Wan Seri Beni tersebut berada di sini. Standbye. Kasian yap. Corona akan banyak meninggalkan cerita.
Marina, dan kapal Ferry Aria Bupala di belakang.
Setelah dari Bandar Bentan Telani, kami melanjutkan perjalanan ke marina yang terletak di samping terminal ferry Bandar Bentan Telani. Marina merupakan pelabuhan terapung yang biasa menjadi "tempat parkir" yacht-yacht mewah. Yang jika pandemi ini tiada, saya yakin tempat ini sesak oleh perahu mahal tersebut. Namun sekali lagi, tempat ini sepi. Bukan mati, ia hanya sekejap tertidur, agar nanti bangun menjadi segar, dan siap menerima dan melayani dengan semangat dan totalitas. Kami berfoto-foto ria di hampir semua tempat, lalu melanjutkan perjalanan. . .

bersambung (lagi) ______

Thursday, April 1, 2021

Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan

Prolog . . .

Tahun 2020 lalu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Natuna mengadakan suatu pelatihan wisata bertajuk Management Homestay. Pelatihan yang dilaksanakan selama 3 hari ini bekerjasama dengan Politeknik Bintan Cakrawala (PBC) sebagai pemateri. PBC merupakan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan PT. Bintan Resort Cakrawala (BRC), sebuah perusahaan besar yang mengelola kawasan pariwisata terpadu dan terintegrasi di Kabupaten Bintan.

Hari kedua pelatihan, salah seorang general manager datang dan memberi motivasi, serta berbagi pengalaman mengenai pariwisata. Satu yang saya notice saat itu adalah ucapannya dengan bahasa melayu Singapura yang khas terdengar.

Eksotisme Pulau Maguk, Pulau Kecil di Bunguran Utara

Saya mengakui, sebagai putra daerah, masih banyak tempat indah di Natuna yang belum saya datangi. Keterbatasan waktu, gerak, dan kesempatan, merupakan sekian banyak dari faktor penyebabnya. Tempat-tempat indah yang banyak saya eksplor cenderung di wilayah timur pulau Bunguran saja karena berdekatan dengan domisili saya. Sementara di sisi barat pulau ini masih tersimpan banyak potensi keindahan alam yang sayang untuk dilewatkan. 

Pulau Maguk contohnya. Ia merupakan satu dari sekian banyak pulau indah yang ada di wilayah barat pulau Bunguran. Secara administrasi, Pulau Maguk (di peta disebut dengan Pulau Semarago) masuk dalam wilayah Kecamatan Bunguran Utara. Saya belum menemukan asal usul pemberian nama Maguk atau Semarago untuk pulau ini.

Persiapan berangkat

Menggunakan transportasi laut adalah satu-satunya jalan untuk sampai ke Maguk. Perjalanannya bisa kita bisa memulai dari pelabuhan-pelabuhan yang ada di Kelarik atau di sekitaran Kecamatan Bunguran Utara. Kami memulainya dari pelabuhan Tanjung Bakdai Desa Kelarik. Sebuah pelabuhan utama untuk keluar masuk masyarakat menuju pulau-pulau di sekitaran Kelarik, seperti Pulau Sedanau, Pulau Selaut, Pulau Seluan, hingga Pulau Laut.

Pulau Maguk dari kejauhan

Perjalanan dari pelabuhan Tanjung Bakdai menuju Pulau Maguk menghabiskan waktu kurang lebih 45 - 60 menit perjalanan, tergantung jenis mutur (perahu mesin). Mengarungi laut, melewati pulau-pulau, serta pemandangan menakjubkan Tanjung Payung menjadi teman selama perjalanan. Kalau beruntung, kamu akan dapat bonus lumba-lumba yang jadi "penunjuk arahnya".

Pulau Maguk adalah pulau kecil berbentuk lonjong. Ia memiliki luas kurang lebih 2 hektar, bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Pulau Maguk memiliki pasir putih, ada hamparan pasir putih di sisi selatan pulau yang biasa dijadikan lokasi untuk berkemah. Selain itu, hampir 40% pulau ini juga ditumbuhi oleh tanaman dan pepohonan. Jadi, sah gedoh (jangan khawatir) kepanasan jika mengunjungi Maguk. 

Pulau Maguk

Pulau Maguk juga dipagari oleh bebatuan karang. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi tekong (kapten kapal) yang membawa mutur berukuran besar untuk melewati karang-karang ini menuju pulau Maguk. Gugusan karang-karang memang banyak tersebar di sekitaran Pulau Maguk.

Sebelah utara, pulau ini berbatasan dengan karang Semapi, karang yang memiliki banyak kisah dan cerita. Sebelah timur kita disuguhi dengan pemandangan pulau Seluan. Sedangkan di sebelah barat, pulau Buton dan daratan pulau Bunguran terhampar sejauh mata mata memandang. Dan di sebelah selatan, pulau-pulau kecil miliki kecamatan Bunguran Utara akan terlihat dari kejauhan.

Menikmati pulau Maguk bisa dilakukan dengan berbagai cara. Namun, berkemah adalah salah satu yang direkomendasikan, bisa mengeksplor lebih banyak Maguk dan sekitarnya. Saat petang, senja di ufuk barat akan memamerkan keindahannya dengan pancaran jingganya yang mempesona. Saat malam tiba, taburan bintang di langit akan menjadi objek yang sayang untuk dilewati. Mainkan sedikit pengaturan di kamera atau android package kit di gawai anda, maka susunan-susunan galaksi dan formasi apik cahaya di langit akan menjadi pemandangan alam yang topcer!

Night mode

Bagi yang suka memancing, laut di sekitaran menjadi "bank" ikan yang menunggu kamu untuk "tarik tunai" saja. Ohya, jika beruntung, kamu bisa bertemu penyu. Benar, pulau Maguk merupakan tempat yang dipilih oleh penyu untuk bertelur, menelurkan generasi-generasi penjaga laut berikutnya. 

Saturday, March 20, 2021

Ragam Cerita di Pulau Maguk

Pulau Maguk merupakan satu dari sekian banyak pulau yang berada di wilayah administrasi kecamatan Bunguran Utara. Kecamatan yang terletak di sisi barat Pulau Bunguran ini memiliki view alam yang luar biasa. Banyak tempat-tempat indah yang tersebar di wilayah kecamatan ini. Pantai-pantai berpasir putih, laut yang jernih, hingga pulau-pulau kecil nan eksostis.


Kemarin, tepatnya tanggal 13 - 14 Maret 2021, kami mendapat undangan untuk mengikuti fun camping dari rekan-rekan komunitas di sana. Mbecite kelarik namanya. Sebuah komunitas baru yang memberi warna berbeda dalam dinamika kehidupan muda-mudi di Kelarik.

Perjalanan kami dari Ranai dimulai agak pagi menjelang siang. Memakan waktu 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata, melewati kecamatan Bunguran Tengah dan kecamatan Bunguran Batubi kecamatan, serta beragam bentuk jalan (yang berlubang) membuat isi perut meronta minta jatahnya. Akhirnya, setelah tiba dan sambil menunggu rekan-rekan lain, kami mengisi kekosongan perut yang terguncang-guncang selama perjalanan tadi.


Cerita Pertama, Menunggu

Siang hari, setelah perut dan tenaga kembali terisi, kami menuju titik kumpul di Pelabuhan Tanjung Bakdai, salah satu pintu masuk wilayah Kelarik lewat jalur laut. Di sana sudah menunggu Kapal Motor Nelayan Mina Maritim yang akan mengantar kami menuju Pulau Maguk. 

Pelabuhan Tanjung Bakdai

Satu persatu para peserta mulai datang menuju kapal membawa bekal dan perlengkapan masing-masing. Panitia juga menyiapkan air bersih yang diisi dalam jerigen-jerigen dan galon-galon, kayu bakar, serta peralatan kemah yang lain. Segala peralatan dibawa dari Kelarik mengingat di Pulau Maguk belum terdapat fasilitas yang memadai. 

Sudah jam 1 siang, belum ada tampak akan jalan, sementara peralatan di kapal sudah penuh dan peserta pun sudah ramai dan siap agaknya. Ada beberapa yang lalu lalang menjemput sebagian rekan lain dan mengantarkan peralatan yang ketinggalan. Saya dan teman-teman memilih untuk duduk di atas "atap" kapal, menjadi turis dadakan terkena sengatan matahari yang menyapa dengan manjanya. Jam 2 siang, jam 3 sore, kapal Mina Maritim ini masih diam saja. Masih belum ada tanda-tanda akan menarik sauh. Peserta sudah terlihat gelisah, ada yang lalu lalang, sampai ada yang menggerutu sendiri.

Cekrek dulu

Barulah jam 4 sore perjalanan dimulai. Mesin kapal dihidupkan, sauh ditarik, tambatan tali dilepas. Perjalanan dari pelabuhan Tanjung Bakdai menuju Pulau Maguk memakan waktu hampir 1 jam. Lama perjalanan tak begitu terasa, karena ditemani oleh pemandangan indah pulau-pulau kecil yang terserak di dekat wilayah Bunguran Utara ini. Tanjung Payung, Pulau Nanggal, Pulau Seluan dan Pulau Selaut adalah sedikit dari sekian banyak panorama alam yang kami nikmati selama perjalanan.

Kapal Mina Maritim berlayar pelan tapi pasti, mengangkut sekitar 40 orang penumpang yang akan mengikuti "kemah suke suke" yang jadi tema acara kali ini. Nama kemah suke suke diambil dari terjemahan fun camping, acara ini ditaja oleh Komunitas Mbecite Kelarik yang didukung oleh komunitas kami, Kompasbenua. Selain itu, turut juga komunitas Natunasastra, Lensa Natuna dan perkumpulan pemuda Kelarik yang menamakan diri Tesalah Gaya.


Cerita Kedua : Kandas, "Menabrak" Pulau

Setelah hampir satu jam perjalanan, gundukan pasir putih terlihat timbul-tenggelam di laut. Semakin lama semakin jelas. Pulau Maguk, pulau kecil nan mungil itu berada di tengah-tengah laut di barat Bunguran. Ia dikelilingi oleh karang, ada yang sudah mati, namun tak sedikit pula yang masih bertahan hidup dengan indahnya. Kapten kapal mina maritim melambatkan laju kapal, mengambil jalan yang tepat untuk mengantarkan kami dengan aman dan nyaman ke pulau, mengingat belum ada fasilitas pelabuhan di pulau tersebut. Akhirnya, opsi "menabrak" pulau pun dipilih, setelah dengan hati-hati melewati karang-karang yang memagari pulau Maguk. 

Proses penurunan barang dan penumpang

Haluan kapal Mina Maritim menabrak pantai di sisi selatan pulau. Peserta turun satu persatu, membawa perbekalan dengan cara estafet. Peserta yang sudah di pulau mulai berbagi tugas, ada yang mendirikan tenda, menyiapkan api unggun, hingga persiapan untuk makan malam. Sebagian yang lain membantu mendorong kapal yang sempat kandas setelah "menabrak" pantai Maguk tadi. Menjelang magrib, semua sudah terkendali, kapal sudah kembali ke laut dan yang lain kembali dalam kerjanya masing-masing.

Evakuasi kapal

Pulau Maguk merupakan pulau kecil. Pulau berbentuk lonjong ini bisa dikelilingi dengan hanya berjalan kaki. Ada beberapa pohon kelapa yang tumbuh di pulau ini, disamping tanaman-tanaman lain yang membuat pulau ini tampak hijau. Selain keindahan lautnya, pasir pantainya yang putih juga menambah pesona Maguk. Pulau ini juga "dipilih" oleh penyu untuk bertelur, sehingga pada musim-musim tertentu pulau ini ramai oleh para pencari telur penyu. Sebuah paduan yang menjadikan Pulau Maguk sebagai potensi wisata baru di Bunguran Utara.


Cerita Ketiga : Acara Inti

Saat malam menjelang, beberapa masih sibuk dengan persiapan makan malam, ada yang sibuk menghias tenda, dan menyiapkan api unggun. Kemudian, masuk ke acara utama, yaitu makan malam bersama. Lalu dilanjutkan dengan sharing dan perkenalan komunitas-komunitas yang ikut berpartisipasi. 

Komunitas Mbecite Kelarik memperkenalkan anggota-anggota baru generasi kedua yang baru saja mereka rekrut beberapa waktu lalu. Memang, tujuan dari Kemah Suke Suke ini selain dari pada mempromosikan indahnya Pulau Maguk, juga untuk memberikan pandangan dan pengalaman baru pada anggota baru Mbecite Kelarik untuk memanfaatkan potensi diri yang ada.

Makaaaaaaaaan

Acara sharing berlangsung hangat dan santai ditemani api unggun yang sebentar lagi akan padam. Kemudian, acara juga diselingi dengan penampilan seni dari perwakilan komunitas yang ada. Pembacaan puisi, syair, hingga tarian kreasi memeriahkan acara malam ini.

Acara malam

Pagi hari, disaat sebagian masih terlelap dalam tidur, sebagian lagi memburu sunrise, dan sudah ada yang menceburkan diri ke laut, ada juga yang sudah memasak untuk sarapan. Beberapa yang lain mengambil gambar dari beberapa sudut untuk bahan promosi.


Cerita Keempat : Pulang

Hari menjelang siang, matahari semakin menyengat kulit. Cuaca cerah sekali hari ini. Beberapa peserta masih terlihat santai di hammocknya, letih setelah senam dan ber"tiktok" ria. Sebagian yang lain masih asyik menikmati laut dan karang. Ada juga yang mulai berkemas untuk pulang. Kapal mina maritim yang sejak kemarin hanya melabuhkan jangkar tak jauh dari pulau Maguk bersiap untuk menjemput kami. 

Cekreeeeek, via @hermandhes

Saat akan pulang, ada hal menarik yang nanti akan jadi cerita dan dikenang. Pasang air laut siang ini tak cukup dalam untuk mengantarkan mina maritim kembali "menabrak" pulau seperti kemarin. Berulang kali mencari jalan, namun gagal. Alhasil kapal hanya berhenti di kejauhan. Jadi kami harus menuju kapal dengan bantuan perahu nelayan kecil yang kebetulan lewat. Ada empat "trip" perahu tesebut bolak-balik mengantarkan kami dari Maguk ke kapal mina maritim. Sebagian ada yang naik pompong, namun sebagian lagi memilih berenang dari pulau menuju kapal. Jarak antara pulau dan kapal memang tidak terlalu jauh. Lautnya jernih dan tenang dengan kedalaman laut berkisar 5-7 meter. Namun bagi penderita thalassophobia akan berdegup kencang juga jantungnya. 


Alhamdulillah, semua barang dan penumpang dengan selamat diangkut ke kapal. Kapal segera menarik sauh, dan berlayar kembali menuju pelabuhan Tanjung Bakdai. Muka-muka lelah namun terselip bahagia terlihat dari para peserta. Sebuah pengalaman unik dan seru yang akan selalu diingat.


-----------

Foto-foto di Pulau Maguk, joom!

Pulau Maguk, via @hermandhes

 

Milkyway, via @hermandhes

The amazing sunrise, via @hermandhes