Sunday, December 29, 2013

Satrie Paduke nye Natuna.

Assalamu'alaikum,
Nah kalau kemarin saya sudah memposting tentang lirik lagu Satrie Paduke yang dinyanyikan oleh Ene dalam album Dendang Melayu Natuna. Sekarang ini postingan saya akan akan bercerita tentang Satrie-satrie Paduke nye Kabupaten Natuna, alias Bupati-bupati Kabupaten Natuna dari awal berdirinya sampai sekarang ini. Merekalah yang memegang tampuk kekuasaan serta mengatur roda pemerintahan negeri Laut Sakti Rantau Bertuah yang kita cintai ini. Siapa saja mereka?

Jooom tengooook.

1. Andi Riva'i Siregar
Andi Rivai Siregar via tanjungpinangpos.co.id
Beliau merupakan Bupati pertama Natuna sejak Kabupaten Natuna terbentuk berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999 yang disahkan pada tanggal 12 Oktober 1999. Drs. H. Andi Rivai Siregar dilantik menjadi Bupati Natuna oleh Menteri Dalam Negeri ad interm Jenderal TNI Faisal Tanjung di Jakarta. Kalau tak salah saya, beliau ini hanya sebagai Plt saja, karena saat itu Kabupaten Natuna baru terbentuk. Beliau merupakan "pimpinan sementara" kabupaten Natuna sebelum Natuna mengadakan pemilihan Bupati baru. Periode jabatan beliau adalah dari 1999-2001.

2. Hamid Rizal
Hamid Rizal via tanjungpinangpos.co.id

Nah, Bupati selanjutnya adalah beliau ni, namanya Drs. H. Hamid Rizal. Beliau ini adalah bupati pertama Kabupaten Natuna yang terpilih secara resmi oleh suara DPRD Kabupaten Natuna menggantikan Drs. Andi Rivai Siregar. Saat beliau menjabat beliau didampingi oleh Drs. H Izhar Sani sebagai Wakil Bupati. Beliau menjabat selama satu periode penuh (5 tahun) dari 2001 - 2006. Secara sejarah, bapak Abdul Hamid Rizal tidak asing bagi Natuna, lulusan IPDN ini dahulu pernah menjadi Camat Bunguran Timur pada tahun 1980an.

Pada masa kepemimpinan Beliau, dibangun pula Kantor Bupati Natuna yang berlokasi di Bukit Arai. Gedung megah yang berdiri di atas bukit yang merupakan komplek perkantoran pemerintah Kabupaten Natuna.
Kantor Bupati Natuna via natuna.tv

3. Daeng Rusnadi
Daeng Rusnadi via tanjungpinangpos.co.id
Nah ini dia, orang Ranai siapa yang mengenal beliau, sosok pemimpin yang murah senyum, sangat merakyat. Yup, yang tak lain adalah Drs. H. Daeng Rusnadi M.Si. Sebelum menjabat bupati, beliau adalah Ketue DPRD Kabupaten Natuna pade mase kepemimpinan Bupati Hamid Rizal. Drs. H. Daeng Rusnadi M.Si. memenangkan Pilkada Kabupaten Natuna pada tahun 2006 bersama wakilnye Drs H. Raja Amirullah Apt, orang kenal dengan sebutan Daeng-Raja. Mereka berdua adalah "Satrie Paduke" terpilih untuk memimpin "Sang Bidadari" ini hingge tahun 2011. Periode kepemimpinan beliau ini lah yang mempunyai misi "NATUNA MAS 2020", MAS berarti Masyarakat Adil Sejahtera, dengan slogan "NATUNA GERBANG UTARAKU", "Gerakan Membangun Untuk Kesejahteraan Anak Cucuku".
Pade mase kepempinan beliau ni, lanjutan pembangunan mulai banyak dilakukan, salah satu yang tampak adalah Masjid Agung Natuna, yang diresmikan pada taun 2008, bertepatan dengan Natuna menjadi tuan rumah MTQ Provinsi Kepri ke II. Siapa yang tak tau Masjid Agung yang ikon Kabupaten Natuna ini? Masjid kebanggaan masyarakat Natuna, terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. 

Pada masa kepemimpinan beliau juge banyak pemekaran Kecamatan yang terjadi di Kabupaten Natuna. Pemekaran Kabupaten Kepulauan Anambas berdasarkan UU No 33 Tahun 2008 tanggal 21 Juli 2008 juga terjadi pada saat beliau memimpin Natuna. "Adik bungsu" dari Kabupaten Natuna ini adalah Kabupaten terkaya di Kepulauan Riau dengan hasil minyak dan gas buminya.

Tak banyak informasi yang saya tahu tentang beliau ni karena kurangnya refrensi yang saya miliki. Yang saye ingat waktu SMA -tahun 2008 kalau tak salah- dulu, pernah ada tentara Singapura ingin mengadakan latihan perang di laut Natuna, beliau secara tegas menolak wacana tersebut, hal ini pun didukung oleh masyarakat Natuna, sehingga diadakan upacara rakyat yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, dari pelajar, hinngga tokoh-tokoh adat. Beliau saat itu menjadi pemimpin upacara, dalam Pernyataan Sikapnya, ditengah-tengah lantang pidatonya, beliau tiba-tiba menangis. Bukan itu saja, beliau juga tak mau berdiri di mimbar Pemimpin Upacara, saat naik keatas mimbar, beliau langsung turun ke lapangan, dan merasakan panasnya cuaca saat itu, sama seperti peserta upacara lainnya. Luar Biasa meeen.!!
Masjid Agung Natuna


4. Raja Amirullah
Raja Amirullah via sosbud.kompasiana.com
Bupati selanjutnye adalah Drs H. Raja Amirullah Apt, sebelumnye beliau adelah Wakil Bupati Natuna bersame pak Daeng Rusnadi. Namun pada tahun 2009, Drs. H. Daeng Rusnadi M.Si dinon-aktifkan menjadi bupati sebelum habis masa jabatannya karena tersandung masalah hukum (2004) dan digantikan oleh beliau sebagai Plt. Bupati. Kemudian beliau dilantik menjadi Bupati Defenitif pada tahun 2010 – 2011.


5. Ilyas Sabli
Ilyas Sabli via sosbud.kompasiana.com
Ini Bupati Natuna sekarang, nama beliau adelah Drs. Ilyas Sabli, M.Si, beliau bersame pak Imalko dipercayakan sebagai "the next Satrie Paduke of Natuna" setelah memenangkan pemilu pada tahun 2011. Sebelumnye pade mase kepemimpinan pak Daeng dan pak Raja, beliau menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna. Beliau dan pak Imalko akan mempimpin Natuna dari 2011-2016 mendatang. Berikut sekilas tentang biografi beliau yang saya kutip dari situs tetangga.

Beliau adelah putra daerah asli "produk" Natuna, hhe. Lahir di Serasan, 31 Agustus 1960. Selama menjadi bupati, Ilyas mendapat kejutan dari Lembaga adat Melayu (LAM). Baru satu tahun menjabat jadi Bupati Natuna, dia telah berhak menyandang gelar Datok Setia Amanah. Salah satu gelar kebesaran bangsawan Raja Melayu. Rasa senang yang tak terhingga tampak di raut wajah sang pemimpin itu. Hal itu bisa dilihat dari tawa canda sang Bupati saat ritual saklar Penganugerahan gelar hendak dimulai, dengan pakaian adat lengkap, warna kuning keemasan dia duduk bak raja di Gedung Serbaguna Komplek Masjid Agung Natuna.

---------------------

Luar Biase kan Satrie Paduke kite ni.

Yap, siapapun Bupati atau Satrie Paduke kita, kita semua berharap seperti pencipta lagu "Satrie Paduke" yang lah kita bahas sebelumnya, jika Kitabullah dijadikan fatwa, serta adat dan budaya dijadikan busane jiwa, maka makmur negeri, sejahtera, akan segera dirasakan. Hadist pun lah menjamin bahwa Pemimpin yang adil tidak lain akan dapat jaminan dari Allah, yakni surga. Aamiin.




Sumber-sumber.
http://profil.merdeka.com
http://www.natunakab.go.id
http://www.natuna.org

Tentang Lagu Satrie Paduke

Assalamu'alaikum,
Pada postingan kali ni saya ingin menceritakan tentang lagu "Satrie Paduke" yang sudah saya posting sebelumnya. Entah kenapa, excited sekali saya dengan lagu ini. Liriknya penuh makna dan mendalam. Serta nasehat dan harapan akan ciri-ciri pemimpin dan kepemimpinan untuk semua daerah, dalam hal ini Natuna tentunya.

Satrie Paduke dalam lagu ini mempunyai arti tentang Kepemimpinan, seorang pemimpin bangsa idaman, putra daerah yang santun, dan berani, serta tetap berpegang teguh pada Kitab Allah sebagai pegangan hidup, yang ini terdapat dilirik:
"Syara' Kitabullah jadi fatwe
Adat dan budaye busane jiwe
Anak negeri berbudi bahase,
Murke ditempe, petuah dijage"
Lanjut, kalau disimak lebih jauh tentang lagu ini, banyak tersimpan makna yang dalam, sepertinya penciptanya menyimpan sebuah harapan besar tentang pemimpin masa depan yang dicita-citakan selama ini. Seperti yang kita tau, bangsa kita sekarang ini sedang berada dalam kebobrokan mental. *macam tau aje saye ni, mantap betul.


Ye kalau saye liat berita di TV dan internet kini hari tu, korupsi dimana-dimana, keadilan dan kenyamanan hanya untuk orang berdompet tebal saja. Indonesia ini negara kaya, tapi masih ade yang mati karena "keracunan makanan basi karena tak sanggup nak beli makan" (http://www.oke-lagi.com/2013/12/tukang-becak-meninggal-akibat-makan.html). Betul tak tu? Na'udzubillahimindzalik.

Lirik berikutnye menjelaskan tentang harapan sang pembuat lagu akan apa yang didapat jika para pemimpin menerapkan kepemimpinan dengan baik. 
"Bumi permaialam pesone
kaseh sejati pelipur sejahtere.
berkah diberi Yang Maha Ese,
jaye Melayu tiade duenye"
Masih nyambung dengan lirik diatas, kalaulah semua pemimpin seperti lirik lagu yang telah disebut pencipta tadi, negeri makmur "baldatun thayyibatun wa robbun ghaffur" pun bukan hal yang sulit untuk dicapai, betulkan? *mantap betul saye ni :D.
"makmur negeri sejahtere dirase,
rembuk pemuke selalu dipelihare,
jati diri tak pernah binase,
membele bangse dari bencane"
Mantap kan lagu nye, sayang saye tak link lagu untuk didengarkan. Kalau nak dengar beli albumnya. Hhe. patut diacungi jempol lah pencipte lagu ni, semoga dari bumi Natuna ni, hadir musisi-musisi hebat. Aamiin.

*bardasarkan analisa sendiri*
silekan komen untuk kebaikan postingan kedepan. :D

Lirik Lagu Satrie Paduke, (album dendang Melayu Natuna)

Tapak Bertahte Intan Permate,
satrie Paduke sanggam perkase,
tanjak mahkote jadi mahligai,
hati mulie melekat di dade.

Syara' Kitabullah jadi fatwe,
adat dan budaye busane jiwe,
anak negeri berbudi bahase,
murke ditempe petuah dijage,


Reff :
Bumi permai alam sentose
kasih sejati pelipur sejahtere,
berkah diberi Yang Maha Ese,
jaye melayu tiade duenye.

makmur negeri sejahtere dirase,
rembuke pemuke slalu dipelihare,
jati diri tak pernah binase,
membele bangse dari bencane.


lagu diambil dari album "Dendang Melayu Natuna"
dinyanyikan oleh Ene (Suparman)
*maaf kalau ade lirik yang salah, tolong beritau, nanti diperbaiki. :)

Thursday, September 19, 2013

Natuna, Atlantis yang Hilang, part 5

Pembahasannya masih tentang Atlantis ya, tak bosan memang kalau menjelaskan tentang peradaban yang katenya pernah ada, namun dah hilang ni. Dan rupenye ada di Indonesia! Luar Biasa!

Orang-orang menggambarkan Atlantis dengan sebuah negeri yang indah, bertanah subur, bangunan super megah dan tertata rapi, teknologi canggih, manusia-manusia super pintar,  pokonya atlantis merupakan pusat peradaban dunia saat itu. Sebelum hancur dan hilang karena bencana dahsyat.

Keberadaan Atlantis di Indonesia bukan cuma asal sebut, banyak teori-teori yang menguatkannya, diantaranya adalah tanah Indonesia merupakan tanah yang sangat subur, hasil laut yang melimpah, sumber daya alamnya juga melimpah, mulai dari Migas, Tambang, dan lain-lain. Indonesia juga berada dalam "ring of fire", lingkar gunung api. dan letusan-letusan dahsyatpun pernah tercatat terjadi di Indonesia. seperti Gunung Krakatau, Gunung Tambora, bahkan Gunung api Purba yang berada di Sumatra Utara yang sekarang telah menjadi Danau Toba.

Nah sekarang kita padukan dengan Natuna, yang katenya pusat dan sisa-sisa peradaban Atlantis dulunya berada. ni saye copas artikel dari situs tetangga tentang keberadaan Atantis yang ternyata di Indonesia, tepatnya di Natuna. hhe. JOM LAH.!!!!!!!!!!!

Sisa Peradaban Benua Atlantis Ada Di NATUNA 

Ditulis oleh: MasTer Q - Tuesday, December 14, 2010
Oleh : Maulanusantara | Agustus 22, 2008


Benua Atlantis Ada di Indonesia?
Para peneliti AS menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia. Hingga kini cerita tentang benua yang hilang ‘Atlantis’ masih terselimuti kabut misteri. Sebagian orang menganggap Atlantis cuma dongeng belaka, meski tak kurang 5.000 buku soal Atlantis telah ditulis oleh para pakar. Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis tetap merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki dimana sebetulnya lokasi sang benua. 

Banyak ilmuwan menyebut benua Atlantis terletak di Samudera Atlantik. Sebagian arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
“Para peneliti AS ini menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia,” kata Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Umar Anggara Jenny, Jumat (17/6), disela-sela rencana gelaran ‘International Symposium on The Dispersal of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago, 28-30 Juni 2005. 

Daratan Sundaland yang terdiri dari Sumatra, Jawa dan Kalimantan

Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia. Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es. 

Hipotesa itu, kata Umar, berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologimolekuler. Tema ini, lanjutnya, bahkan akan menjadi salah satu hal yang diangkat dalam simposium internasional di Solo, 28-30 Juni.
Menurut Umar, salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis — jika memang benar — adalah Pulau Natuna, Kepulauan Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua.

Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato. Ketika zaman es berakhir, yang ditandai tenggelamnya ‘benua Atlantis’, bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru.

Lokasi Natuna yang berada di tengah-tengah Laut Cina Selatan
Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Harry Truman Simanjuntak, mengakui memang ada pendapat dari sebagian pakar yang menyatakan bahwa benua Atlantis terletak di Indonesia. Namun hal itu masih debatable.

Yang jelas, terang Harry, memang benar ada sebuah daratan besar yang dahulu kala bernama Sunda Land. Luas daratan itu kira-kira dua kali negara India. ”Benar, daratan itu hilang. Dan kini tinggal Sumatra, Jawa atau Kalimantan,” terang Harry. Menurut dia, sah-sah saja para ilmuwan mengatakan bahwa wilayah yang tenggelam itu adalah benua Atlantis yang hilang, meski itu masih menjadi perdebatan.

Salah satu Pantai di Natuna
Dominasi Austronesia Menurut Umar Anggara Jenny, Austronesia sebagai rumpun bahasa merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang.

”Pertanyaannya dari mana asal-usul mereka? Mengapa sebarannya begitu meluas dan cepat yakni dalam 3500-5000 tahun yang lalu. Bagaimana cara adaptasinya sehingga memiliki keragaman budaya yang tinggi,” tutur Umar.

Salah satu teori, menurut Harry Truman, mengatakan penutur bahasa Austronesia berasal dari Sunda Land yang tenggelam di akhir zaman es. Populasi yang sudah maju, proto-Austronesia, menyebar hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban.”Tapi ini masih diperdebatan.[imy]

Masjid Agung Natuna
Sebuah Peta Geologi yang menggambarkan Pulau-pulau Indonesia masih menyatu

------------------------------------



Oke, saya rasa sampai sini dulu penjelasan mengenai Natuna dan Atlantis, bagi yang dah liat, follow ya blog saye ni, kritik dan saran yang membangun akan selalu saye terime untuk kebaikan blog ini kedepan, terimekeseeeeeh. :)


Source : Republika, Sabtu 18 Juni 2005
sumber : http://www.wakrizki.net/2010/12/sisa-peradaban-benua-atlantis-ada-di.html




Natuna, Atlantis yang Hilang, part 4

Kite masih lanjut dengan penjelasan tentang Atlantis yang ternyata berada di Indonesia. Saya dapat dari artikel-artikel yang saye copas dari situs-situs tetangga, hehehe. Artikelnya lumayan banyak, dan saya pilah dan saya pilihkan untuk saye posting kesini.

Fakta Ilmiah : Benua Atlantis yang Hilang Itu Ternyata Indonesia

Oleh : Prof. Dr. H. PRIYATNA ABDURRASYID, Ph.D.

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Gambaran tentang Benua Atlantis sepenuhnya bersumber dari Catatan Plato (427 – 347 SM) dalam dua karyanya, yaitu Timaeus dan Critias. dalam bukunya yang diberi judul Timaeus, Plato bercerita sangat menarik tentang Atlantis, Berikut ini kutipannya:
“Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.”

Plato menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Prof. Arysio Nunes dos Santos, seorang atlantolog, geolog, dan fisikawan nuklir asal Brazil, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia mempublikasikan hasil penelitiannya dalam sebuah buku : Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia


Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru / Sumeru / Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower) , Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk / posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya, ”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni :
Pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.
Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.


Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.***

next : part 5.

* Penulis adalah Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-Prancis
Silakan lihat video Wawancara Ekslusif bersama Prof. Arysio Santos tentang Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization Via YouTobe.com

sumber:
http://www.atlan.org/articles/checklist/, diakses pada Agustus 2005
http://www.atlan.org/articles/egyptian_temple1/
http://www.atlan.org/articles/old_world.html
http://www.akhirzaman.info, diakses pada 08/06/2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Atlantis, diakses pada 08/06/2012
http://www.anneahira.com/sejarah-benua-atlantis-8753.htm,diakses pada 08/06/2012

sumber : http://saripedia.wordpress.com/2012/06/08/fakta-ilmiah-benua-atlantis-yang-hilang-itu-ternyata-indonesia/

Wednesday, September 18, 2013

Natuna, Atlantis yang Hilang, part 3

Pembahasan kita masih lanjutkan tentang fakta-fakta bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang. Jom kite liat artikel yang satu agik ni. 

Indonesia Adalah Benua Atlantis yang Hilang
Sindonews.com - Atlantis, mungkin anda sudah tak asing mendengar nama itu. Percaya atau tidak, Benua Atlantis yang telah lama hilang selama berabad-abad itu terletak di Asia Tenggara, tepatnya di Indonesia.

Dahulu kala di zaman peradaban pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Negara Singapura juga Malaysia bagian barat dan Selat Sunda menyatu daratannya. Dulu wilayah tersebut sering disebut-sebut Sunda Island.

Adalah Profesor Arysio Santos yang menyimpulkan bahwa setelah melakukan penelitian selama 30 tahun terakhir, dirinya meyakini benua Atlantis adalah Indonesia.

“Profesor Santos memperoleh keyakinan setelah melakukan penelitian kalau Indonesia adalah Atlantis yang hilang,” jelas Jimly Asshiddiqie (Dikutip Koran Sindo).

Menurut Jimly, karya Santos yang kemudian dibukukan dengan judul ‘Atlantis, The Lost Continent Finally Found’ didukung sejumlah fakta yang memang mendekatkan Indonesia dengan Atlantis. Bahkan, kata Jimly, pernyataan arkeolog, manusia tertua adalah Pithecanthropus Erectus semakin mengindikasikan hal tersebut. “Ada info dari arkeolog, manusia tertua yakni pithecanthropus Erectus ya manusia Jawa. Jadi sangat mungkin peradaban hebat itu sebenarnya dari Indonesia,” terang mantan anggota Wantimpres ini.

Jimly menambahkan, kalau memang memungkinkan, sebuah peradaban yang besar kemudian menghilang. Meski sempat hilang dari sejarah bangsa Indonesia dan umat dunia, Jimly menyarankan agar penelitian Santos ini dapat memotivasi bangsa Indonesia agar bangkit dari situasi sekarang.

“Paling penting adalah bahwa kita pernah hebat, ini (buku karya Santos) sebagai sumber motivasi ke depan agar bisa maju,” tandas Jimly.

Sementara itu, Direktur LIPI Profesor Dr Umar Anggara mengatakan agar temuan Santos ini dijadikan motivasi para ilmuwan Indonesia untuk membuktikan kebenarannya secara akademis.

“Saya harap buku ini bisa menginspirasi bagi para ilmuwan untuk mencari kebenaran secara akademik. Karena menyinggung Indonesia dan sudah sepatutnya kita yang mencari tahu,” imbuh Umar. (Dikutip Trijaya)

Ilustrasi Atlantis
Kehancuran Atlantis
Benua Atlantis hilang dikarenakan tenggelam oleh lautan dan bencana gempa bumi, hingga mengakibatkan daratan Atlantis tenggelam hingga mencapai dasar laut. Terlihat jelas bahwa ada bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak berabad-abad di dasar laut di Selat Sunda.

Keberadaan Kota Atlantis yang diperkirakan tenggelam 11.600 tahun lalu masih menjadi misteri. Namun, ada satu dokumen yang menyebut Indonesia merupakan wilayah Atlantis yang sebenarnya. Benarkah?.

Santos meyakini benua menghilang akibat letusan beberapa gunung berapi yang terjadi bersamaan pada akhir zaman es sekitar 11.600 tahun lalu. Di antara gunung besar yang meletus zaman itu adalah Gunung Krakatau Purba (induk Gunung Krakatau yang meletus pada 1883) yang konon letusannya sanggup menggelapkan seluruh dunia. Letusan gunung berapi yang terjadi bersamaan ini menimbulkan gempa, pencairan es, banjir, serta gelombang tsunami sangat besar. Saat gunung berapi itu meletus, ledakannya membuka Selat Sunda. Peristiwa itu juga mengakibatkan tenggelamnya sebagian permukaan bumi yang kemudian disebut Atlantis.

Bencana mahadahsyat ini juga mengakibatkan punahnya hampir 70 persen spesies mamalia yang hidup pada masa itu, termasuk manusia. Mereka yang selamat kemudian berpencar ke berbagai penjuru dunia dengan membawa peradaban mereka di wilayah baru.

“Kemungkinan besar dua atau tiga spesies manusia seperti ‘hobbit’ yang baru-baru ini ditemukan di Pulau Flores musnah dalam waktu yang hampir sama,” tulis Santos.

Sebelum terjadinya bencana banjir itu, beberapa wilayah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara diyakini masih menyatu dengan semenanjung Malaysia serta Benua Asia. Menurut Santos, pulau-pulau di Indonesia yang mencapai ribuan itu merupakan puncak-puncak gunung dan dataran-dataran tinggi benua Atlantis yang dulu tenggelam. Satu hal yang ditekankan Santos adalah banyak peneliti selama ini terkecoh dengan nama Atlantis.

Mereka melihat kedekatan nama Atlantis dengan Samudera Atlantik yang terletak di antara Eropa, Amerika dan Afrika. Padahal pada masa kuno hingga era Christoper Columbus atau sebelum ditemukannya Benua Amerika, Samudera Atlantik yang dimaksud adalah terusan Samudra Pasifik dan Hindia.

Sekali lagi Indonesia memiliki syarat untuk itu karena Indonesia berada di antara dua samudera tersebut. Jika terdapat begitu banyak kemungkinan Indonesia menjadi lokasi sesungguhnya Atlantis lalu, mengapa selama ini nama Indonesia jarang disebut-sebut dalam referensi Atlantis?.

Santos menilai keengganan Dunia Barat melakukan ekspedisi ataupun mengakui Indonesia sebagai wilayah Atlantis adalah karena hal itu akan mengubah catatan sejarah tentang siapa penemu peradaban. Dengan adanya sejumlah bukti mengenai keberadaan Atlantis di Indonesia maka teori yang mengatakan Barat sebagai penemu dan pusat peradaban dunia akan hancur.

“Kenyataan Atlantis (berada di Indonesia) kemungkinan besar akan mengakibatkan perlunya revisi besar-besaran dalam ilmu humaniora, seperti antropologi, sejarah, linguistik, arkelogi, evolusi, paleantropologi dan bahkan mungkin agama,” tulis Santos dalam bukunya.

Selain Santos, banyak arkeolog Amerika Serikat yang juga meyakini Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land yang luasnya dua kali negara India. Daratan itu kini tinggal Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Salah satu pulau di Indonesia yang kemungkinan bisa menjadi contoh terbaik dari keberadaan sisa-sisa Atlantis adalah Pulau Natuna, Kepulauan Riau.
Letak Pulau Natuna, via kaskus.com
Berdasarkan penelitian, gen yang dimiliki penduduk asli Natuna mirip dengan bangsa Austronesia tertua. Rumpun bangsa Austronesia yang menjadi cikal bakal bangsa-bangsa Asia merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah keberadaan manusia. Rumpun ini kini tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Rumpun bangsa ini juga melahirkan 1.200 bahasa yang kini tersebar di berbagai belahan bumi dan dipakai lebih dari 300 juta orang.

Yang menarik, 80 persen dari rumpun penutur bahasa Austronesia tinggal di Kepulauan Nusantara Indonesia. Namun, pendapat Santos dkk yang meyakini bahwa Atlantis berada di Indonesia ini masih harus dikaji karena kurang dilengkapi bukti-bukti.

Pakar Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Wahyu Hantoro mengatakan analisa Santos masih berupa hipotesa. "Perlu dijelaskan lebih lanjut kategorisasi jenis kebuayaan tinggi yang ada pada zaman Atlantis serta gelombang setinggi apa yang bisa membuat Paparan Sunda terbelah," jelas Wahyu. (Dikutip Koran Sindo)
(rsa)

next : part 4.

sumber : http://daerah.sindonews.com/read/2013/05/26/30/731958/indonesia-adalah-benua-atlantis-yang-hilang

Natuna, Atlantis yang Hilang, part 2


Profesor Arysio Nunes yang meneliti atlantis selama puluhan tahun telah menerbitkan sebuah buku yang secara gamblang menjelaskan tentang atlantis. Dalam buku yang berjudul "Atlantis, the Lost Continent Finally Found" itu menyatakan bahwa Atlantis itu ada di Indonesia.
Lokasi Atlantis menurut Prof Arysio, via wikipedia
Nah, dari peta ini pula dan dipadukan dengan fakta-fakta ilmiah tentang bencana-bencana dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia serta bentang alam yang subur, semakin menguatkan para peneliti bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Jom kita lihat ulasan artikel yang saya copas dari laman web sebelah

Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang
Musibah alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami beberapa tahun silam di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
gambar bukti Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang - munsypedia
Peta Asia Tenggara dan Asia Selatan
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menerbitkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization. Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU No. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatera, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh. Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya, "Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran".


Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau innavigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.
 



next : Atlantis, part 3.


Sumber : Blog Misteri Beda Dunia
Description: Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang Rating: 4.5 Reviewer: munsy afandi - ItemReviewed: Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang

Sumber : http://munsypedia.blogspot.com/2012/12/bukt-ilmiah-indonesia-adalah-benua-atlantis-yang-hilang.html#ixzz2fEfE7yfr

Sunday, September 15, 2013

Natuna, Atlantis yang Hilang

Pernah dengar Atlantis? Sebuah peradaban yang dicertakan sangat maju dengan kota yang megah, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, namun hancur karena suatu bencana alam. Atlantis kerap "nongol" pada cerita-cerita fiksi dan dongeng. Hmmm, bagi yang belum pernah dengar, berikut saya coba jelaskan sedikit tentang Atlantis yang saya kutip dari berbagai sumber. 

----------

Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, "pulau Atlas") adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias. Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar "di seberang pilar-pilar Herkules", dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra "hanya dalam waktu satu hari satu malam".

Atlantis umumnya dianggap sebagai mitos yang dibuat oleh Plato untuk mengilustrasikan teori politik. Meskipun fungsi cerita Atlantis terlihat jelas oleh kebanyakan ahli, mereka memperdebatkan apakah dan seberapa banyak catatan Plato diilhami oleh tradisi yang lebih tua. Beberapa ahli mengatakan bahwa Plato menggambarkan kejadian yang telah berlalu, seperti letusan Thera atau perang Troya, sementara lainnya menyatakan bahwa ia terinspirasi dari peristiwa kontemporer seperti hancurnya Helike tahun 373 SM atau gagalnya invasi Athena ke Sisilia tahun 415-413 SM.

Masyarakat sering membicarakan keberadaan Atlantis selama Era Klasik, namun umumnya tidak memercayainya dan kadang-kadang menjadikannya bahan lelucon. Kisah Atlantis kurang diketahui pada Abad Pertengahan. Namun, pada era modern, cerita mengenai Atlantis ditemukan kembali. Deskripsi Plato menginspirasikan karya-karya penulis zaman Renaissance, seperti "New Atlantis" karya Francis Bacon. Atlantis juga memengaruhi literatur modern, dari fiksi ilmiah hingga buku komik dan film. Namanya telah menjadi pameo untuk semua peradaban prasejarah yang maju (dan hilang).
Peta Atlantis menurut Athanasius Kircher. Pada peta tersebut, Atlantis terletak di tengah Samudera Atlantik. via wikipedia

Catatan Plato
Dua dialog Plato, Timaeus dan Critias, yang ditulis pada tahun 360 SM, berisi referensi pertama Atlantis. Plato tidak pernah menyelesaikan Critias karena alasan yang tidak diketahui; namun, ahli yang bernama Benjamin Jowett, dan beberapa ahli lain, berpendapat bahwa Plato awalnya merencanakan untuk membuat catatan ketiga yang berjudul Hermocrates. John V. Luce mengasumsikan bahwa Plato —setelah mendeskripsikan asal usul dunia dan manusia dalam Timaeus, dan juga komunitas sempurna Athena kuno dan keberhasilannya dalam mempertahankan diri dari serangan Atlantis dalam Critias— akan membahas strategi peradaban Helenik selama konflik mereka dengan bangsa barbar sebagai subjek diskusi dalam Hermocrates.
Plato, via wikipedia
Empat tokoh yang muncul dalam kedua catatan tersebut adalah politikus Critias dan Hermocrates dan juga filsuf Socrates dan Timaeus, meskipun hanya Critias yang berbicara mengenai Atlantis. Walaupun semua tokoh tersebut merupakan tokoh bersejarah (hanya tiga tokoh pertama yang dibawa), catatan tersebut mungkin merupakan karya fiksi Plato. Dalam karya tertulisnya, Plato menggunakan dialog Socrates untuk mendiskusikan posisi yang saling berlawanan dalam hubungan prakiraan.
Terjemahan Latin Timaeus, dibuat pada abad pertengahan.

Timaeus
Timaeus dimulai dengan pembukaan, diikuti dengan catatan pembuatan dan struktur alam semesta dan peradaban kuno. Dalam bagian pembukaan, Socrates merenungkan mengenai komunitas yang sempurna, yang dideskripsikan dalam Republic karya Plato, dan berpikir apakah ia dan tamunya dapat mengingat sebuah cerita yang mencontohkan peradaban seperti itu. Pada buku Timaeus, Plato berkisah:

Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.


Critias
Critias menyebut kisah yang diduga sejarah yang akan memberikan contoh sempurna, dan diikuti dengan deskripsi Atlantis. Dalam catatannya, Athena kuno mewakili "komunitas sempurna" dan Atlantis adalah musuhnya, mewakili ciri sempurna sangat antitesis yang dideskripsikan dalam Republic. Critias mengklaim bahwa catatannya mengenai Athena kuno dan Atlantis berhaluan dari kunjungan ke Mesir oleh penyair Athena, Solon pada abad ke-6 SM. Di Mesir, Solon bertemu pendeta dari Sais, yang menerjemahkan sejarah Athena kuno dan Atlantis, dicatat pada papiri di heroglif Mesir, menjadi bahasa Yunani. Menurut Plutarch, Solon bertemu dengan "Psenophis Heliopolis, dan Sonchis Saite, yang paling dipelajari dari semua pendeta" (Kehidupan Solon). Karena jarak 500 tahun lebih antara Plutarch dan peristiwa yang bersifat sebagai alasan atau dalih, dan karena informasi ini tidak ada pada Timaeus dan Critias, identifikasi ini dipertanyakan.

Menurut Critias, dewa Helenik membagi wilayah sehingga tiap dewa dapat memiliki; Poseidon mewarisi wilayah pulau Atlantis. Pulau ini lebih besar daripada Libya kuno dan Asia Kecil yang disatukan, tetapi akan tenggelam karena gempa bumi dan menjadi sejumlah lumpur yang tak dapat dilewati, menghalangi perjalanan menyeberang samudra. Bangsa Mesir mendeskripsikan Atlantis sebagai pulau yang terletak kira-kira 700 kilometer, kebanyakan terdiri dari pegunungan di wilayah utara dan sepanjang pantai, dan melinkungi padang rumput berbentuk bujur di selatan "terbentang dalam satu arah tiga ribu stadia (sekitar 600 km), tetapi di tengah sekitar dua ribu stadia (400 km).

Wanita asli Atlantis bernama Cleito (putri dari Evenor dan Leucippe) tinggal di sini. Poseidon jatuh cinta padanya, lalu memperistri gadis muda itu dan melahirkan lima pasang anak laki-laki kembar. Poseidon membagi pulau menjadi 10 wilayah yang masing-masing diserahkan pada 10 anak. Anak tertua, Atlas, menjadi raja atas pulau itu dan samudra di sekitarnya (disebut Samudra Atlantik untuk menghormati Atlas). Nama "Atlantis" juga berasal dari namanya, yang berarti "Pulau Atlas".

Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan).

Menurut Critias, 9.000 tahun sebelum kelahirannya, perang terjadi antara bangsa yang berada di luar Pilar-pilar Herkules (umumnya diduga Selat Gibraltar), dengan bangsa yang tinggal di dalam Pilar. Bangsa Atlantis menaklukkan Libya sampai sejauh Mesir dan benua Eropa sampai sejauh Tirenia, dan menjadikan penduduknya budak. Orang Athena memimpin aliansi melawan kekaisaran Atlantis, dan sewaktu aliansi dihancurkan, Athena melawan kekaisaran Atlantis sendiri, membebaskan wilayah yang diduduki. Namun, nantinya, muncul gempa bumi dan banjir besar di Atlantis, dan hanya dalam satu hari satu malam, pulau Atlantis tenggelam dan menghilang.

Catatan Kuno Lainnya
Selain Timaeus dan Critias, tidak terdapat catatan kuno mengenai Atlantis, yang berarti setiap catatan mengenai Atlantis lainnya berdasarkan dari catatan Plato.

Banyak filsuf kuno menganggap Atlantis sebagai kisah fiksi, termasuk (menurut Strabo) Aristoteles. Namun, terdapat filsuf, ahli geografi dan sejarawan yang percaya akan keberadaan Atlantis. Filsuf Crantor, murid dari murid Plato, Xenocrates, mencoba menemukan bukti keberadaan Atlantis. Karyanya, komentar mengenai Timaeus, hilang, tetapi sejarawan kuno lainnya, Proclus, melaporkan bahwa Crantor berkelana ke Mesir dan menemukan kolom dengan sejarah Atlantis tertulis dalam huruf heroglif. Plato tidak pernah menyebut kolom tersebut. Menurut filsuf Yunani, Solon melihat kisah Atlantis dalam sumber yang berbeda yang dapat "diambil untuk diberikan".

Bagian lain dari komentar abad ke-5 Proclus mengenai Timaeus memberi deskripsi geografi Atlantis. Menurut mereka, terdapat tujuh pulau di laut tersebut pada saat itu, tanah suci untuk Persephone, dan juga tiga lainnya dengan besar yang sangat besar, salah satunya tanah suci untuk Pluto, lainnya untuk Ammon, dan terakhir di antaranya untuk Poseidon, dengan luas ribuan stadia. Penduduknya—mereka menambah—memelihara ingatan dari nenek moyang mereka mengenai pulau besar Atlantis yang pernah ada dan telah berkuasa terhadap semua pulau di laut Atlantik dan suci untuk Poseidon. Kini, hal tersebut telah ditulis Marcellus dalam Aethiopica". Marcellus masih belum diidentifikasi.

Sejarawan dan filsuf kuno lainnya yang memercayai keberadaan Atlantis adalah Strabo dan Posidonius. 

Catatan Plato mengenai Atlantis juga telah menginspirasi beberapa imitasi parodik: hanya beberapa dekade setelah Timaeus dan Critias, sejarawan Theopompus dari Chios menulis mengenai wilayah yang disebut Meropis. Deskripsi wilayah ini ada pada Buku 8 Philippica, yang berisi dialog antara Raja Midas dan Silenus, teman dari Dionysus. Silenus mendeskripsikan Bangsa Meropid, ras manusia yang tumbuh dua kali dari ukuran tubuh biasa, dan menghuni dua kota di Pulau Meropis (Cos?): Eusebes (Εὐσεβής, "kota Pious") dan Machimos (Μάχιμος, "kota-Pertempuran"). 

Ia juga melaporkan bahwa angkatan bersenjata sebanyak sepuluh juta tentara menyeberangi samudra untuk menaklukkan Hyperborea, tetapi meninggalkan proposal ini ketika mereka menyadari bahwa bangsa Hyperborea adalah bangsa terberuntung di dunia. Heinz-Günther Nesselrath menyatakan bahwa cerita Silenus merupakan jiplakan dari kisah Atlantis, untuk alasan membongkar ide Plato untuk mengejek.

Zoticus, seorang filsuf Neoplatonis pada abad ke-3, menulis puisi berdasarkan catatan Plato mengenai Atlantis.

Sejarawan abad ke-4, Ammianus Marcellinus, berdasarkan karya Timagenes (sejarawan abad ke-1 SM) yang hilang, menulis bahwa Druid dari Galia mengatakan bahwa sebagian penduduk Galia bermigrasi dari kepulauan yang jauh. Catatan Ammianus dianggap oleh sebagian orang sebagai klaim bahwa ketika Atlantis tenggelam, penduduknya mengungsi ke Eropa Barat; tetapi Ammianus mengatakan bahwa "Drasidae (Druid) menyebut kembali bahwa sebagian dari penduduk merupakan penduduk asli, tetapi lainnya juga bermigrasi dari kepulauan dan wilayah melewati Rhine" (Res Gestae 15.9), tanda bahwa imigran datang ke Galia dari utara dan timur, tidak dari Samudra Atlantik.

Risalah Ibrani mengenai perhitungan astronomi pada tahun 1378/79, yang merupakan parafrase karya Islam awal yang tidak diketahui, menyinggung mitologi Atlantis dalam diskusi mengenai penentuan titik nol kalkulasi garis bujur.

----------

Nah, lalu apa hubungannya dengan Natuna?
Okey, next time ye → part 2.





sumber. id.wikipedia.org/wiki/Atlantis

Saturday, September 14, 2013

(Masih) Memburu Sunrise : Sedanau

Pasca memposting sunrise di Sepempang kemarin, saya jadi ketagihan ingin memposting tentang matahari ni, hhe. Yap, selain sebagai pusat tata surya dan memiliki andil penting dala kehidupan makhluk di bumi, matahari memiliki rahasia dan keindahan yang tak habis untuk dieksplor. Semakin dalam dipelajari, semakin banyak menemukan rahasia yang belum terungkap. Berikut sedikit foto sunrise yang bisa saya abadikan.


Saat-saat menjelang "sunrise"








Gambar-gambar ini diambil di Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat pada tahun 2010 lalu. Sedanau merupakan nama pulau sekaligus ibukota Kecamatan Bunguran Barat, menuju tempat ini jika dari Kota Ranai, memakan total waktu sekitar 2 jam lebih. Ada banyak spot foto sunrise yang indah di pulau ini. Saya yang saat itu keterbatasan transportasi, jadi hanyabisa mengabadikan sunrise di pelabuhan yang ada di dekat penginapan tempat kami menginap.