Tuesday, November 8, 2011

Natuna Secara Topografi, Iklim, dan Cuaca serta Geografis

Topografi 
Secara ilmiah (menurut wikipedia) memiliki arti studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami, dan asteroid. Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal (Ilmu Pengetahuan Sosial). Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi jenis lahan. Penggunaan kata topografi berawal dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat, dan graphia yang berarti tulisan. Objek dari topografi adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian. Mengidentifikasi jenis lahan juga termasuk bagian dari objek studi ini. Studi topografi dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya perencanaan militer dan eksplorasi geologi. Juga digunakan untuk kebutuhan konstruksi sipil, pekerjaan umum dan proyek reklamasi membutuhkan studi topografi yang lebih detail. 
Berdasarkan kondisi topografinya, Kabupaten Natuna merupakan tanah berbukit dan bergunung batu. Dataran rendah dan landai banyak ditemukan di pinggir pantai. Daerah berbukit-bukit bisa ditemukan di hampir tiap pulau-pulau yang ada di Natuna. Titik tertinggi di Natuna adalah puncak Gunung Ranai yang ada di Kecamatan Bungruan Timur (1.035 mdpl). Sementara gunung yang lain terdapat di Pulau Serasan. Pulau Midai memiliki topografi berbukit dan berpantai landai. Pulau Sedanau juga memiliki topografi berbukit-bukit. Daerah Natuna memiliki vegetasi berupa pepohonan kelapa di daerah tepian pantai, tanaman mangrove di daerah muara sungai, serta batang pohon belian (pohon besar) yang banyak dijumpai di daerah dataran tinggi di Natuna.
Bukit Batu, di Setengar.
Ketinggian wilayah antara kecamatan cukup beragam, yaitu berkisar antara 3 sampai dengan 1.035 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 2 sampai 5 meter. Pada umumnya struktur tanah terdiri dari tanah podsolik merah kuning dari batuan yang tanah dasarnya mempunyai bahan granit, dan alluvial serta tanah organosol dan gley humus.
Bebatuan Granit di Batu Sindu


Iklim dan Cuaca
Iklim dan cuaca di Kabupaten Natuna sangat dipengaruhi oleh perubahan arah angin. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli, ketika angin bertiup dari arah utara. Curah hujan rata-rata berkisar 137,6 milimeter dengan rata-rata kelembaban udara sekitar 83,17 persen dan temperatur berkisar 27,10 celcius. Sedangkan musim hujan terjadi pada bulan September – Februari, ketika angin bertiup dari arah timur dan selatan. Curah Hujan rata-rata pertahun berkisar ± 1.726,3 mm dengan kelembapan udara sekitar 82% dan temperatur berkisar 27,5ยบ C.
Cuaca mendung, via areakepri.com
Tapi belum lama ini iklim dan cuaca di Natuna agak sedikit berubah dan terkesan tak menentu. ini mungkin di karenakan efek dari Global Warming.

Geografis

1.Wilayah Perairan dan Pesisir.
Secara teritorial, sejauh 12 mil laut dari garis pangkal pantai terluar dianggap sebagai wilayah Kabupaten Natuna (Indonesia), artinya kapal asing mempunyai hak untuk lewat dengan aman dalam perairan ini dengan dibatasi oleh alur lintas lautan yang sudah ditetapkan sebagai SLOC 1 (Sea Lane of Communication). Sedangkan berdasarkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ditetapkan jarak maksimum 200 mil laut dari garis pangkal pantai terluar, di dalamnya Indonesia mempunyai kekuasaan hukum terhadap eksploitasi dan pengawasan lingkungan sumber daya laut yang ada.

2. Wilayah Daratan.
Berdasarkan Peta geologi bersistem Indonesia, kondisi geologi Kabupaten Natuna terdiri dari Pulau-pulau yang dikelilingi oleh terumbu karang (coral reef) dan tersusun dari endapan permukaan batuan sedimen. Secara Umum kondisi geologi Kabupaten Natuna terdiri dari formasi-formasi aluvial, batuan granit, mafik dan ultramafik, diorit, andesit, rajang dan bijang, endapan pantai, batuan plutonik dan vulkanik. Sedangkan berdasarkan Tofografi Kabupaten Natuna terdiri dari tanah berbukit dan gunung batu. Puncak tertinggi di Gugusan Kepulauan Natuna adalah Gunung Ranai (1.035 mdpl). Dataran rendah dan landai pada umumnya terdapat dipinggiran pantai. Kondisi Tanah secara umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tanah mineral dan organik. Tingkat Kesuburan Tanahnya Berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Tanah (PPT) tergolong rendah hingga sedang.

3. Hidrologi.
Keberadaan hidrologi di Kabupaten Natuna dapat di lihat dari 2 hal, yaitu : air permukaan dan air Tanah. Air permukaan yang terdapat di wilayah Kabupaten Natuna berupa sungai-sungai dan air terjun. Di gugusan kepulauan Natuna umumnya terletak di sekitar gunung Ranai, seperti sungai Ranai, Ngusang, Sarang Batunagis, Batu Kilang, Jemengan, Siman dan Senipak. Kedalaman muka air tanah yang terdapat di Kabupaten Natuna umumnya berkisar antara 1-3 m di wilayah dataran dan di wilayah tofografinya berbukit sekitar 1-7 m.




sumber : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Natuna
natuna.org 

Sunday, November 6, 2011

Sejarah Singkat Natuna


Masa Kolonial Belanda
Tertulis dalam sejarah bahwa di Kabupaten Natuna yang dahulunya bernama Pulau Tujuh sebelum bergabung dalam Kepulauan Riau, telah memerintah beberapa orang “Tokong Pulau“ (Istilah yang diberikan kepada Datuk Kaya di Wilayah Pulau Tujuh) yang menurut kamus bahwa Indonesia yang berasal dari kata “Tekong“ yang berarti Nahkoda yang memegang peranan dalam pengendalian sebuah kapal atau perahu layar, di dalam pembicaraan sehari-hari, “Tokong“ artinya tanah Busut yang menonjol ke permukaan laut atau tanah Kukop atau batu karang yang menonjol ke permukaan laut, yang sangat berbahaya untuk lalu lintas kapal yang melewati areal tersebut. Julukan Tokong Pulau yang diberikan kepada Datuk Kaya di Pulau Tujuh mengibaratkan seorang pemimpin yang mengendalikan Pemerintah di wilayah terkecil yang sewaktu itu diberi hak oleh Sultan Riau sesuai dengan ketentuan “Yayasan Adat“ yang sudah ada pada masa itu.

Dari keterangan yang diperoleh bahwa gelar yang diberikan di dalam pembagian Wilayah Datuk Kaya Pulau Tujuh disebut sebagai berikut :
  1. Wilayah Pulau Siantan : Pangeran Paku Negara dan Orang Kaya Dewa Perkasa.
  2. Wilayah Pulau Jemaja : Orang Kaya Maha Raja Desa dan Orang Kaya Lela Pahlawan.
  3. Wilayah Pulau Bunguran : Orang Kaya Dana Mahkota, dua orang Penghulu dan satu orang Amar Diraja.
  4. Wilayah Pulau Subi : Orang Kaya Indra Pahlawan dan Orang Kaya Indra Mahkota.
  5. Wilayah Pulau Serasan : Orang Kaya Raja Setia dan Orang Setia Raja.
  6. Wilayah Pulau Laut : Orang Kaya Tadbir Raja dan Penghulu Hamba Diraja.
  7. Wilayah Pulau Tambelan : Petinggi dan Orang Kaya Maharaja Lela Setia.
Orang-orang besar inilah yang pada zaman dahulu memerintah di wilayah Pulau Tujuh dengan masing-masing wilayah secara turun temurun dan sampai pada akhir kekuasaannya.

Oleh karena pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu masih memegang peranan “Zich Bemoelen Met“ ikut mencampuri urusan pemerintahan yang menyangkut strateginya di Pulau Tujuh, maka penempatan kedudukan para Datuk Kaya diatur sedemikian rupa dengan menerapkan imperialisme yang bertujuan memecah belah persatuan dan kesatuan di wilayah Pulau Tujuh dan berpegang kepada “Devide et Impera“ yang menguntungkan pihak Belanda.

Oleh karena itulah jauh sebelumnya sudah ada ditetapkan seorang penguasa Belanda bernama Van Kerkhorff pada tahun 1908 di Tanjung Belitung atau di Binjai di depan Pulau Sedanau. Pada masa itu hutan belukar di daerah Binjai dan sekitarnya sangat lebat dan penuh rawa-rawa yang merupakan tempat sarang nyamuk Malaria maka tidak lama kemudian setelah tuan Kerkhorff terkena Malaria lalu pindah ke Sedanau dan tak lama kemudian meninggal dunia. Bermula ditempatkannya tuan Kerkhorff di Tanjung Belitung, mengingat laut di sekitar Tanjung Belitung sangat dalam dan terlindung dari serangan angin Utara.

Berkaitan dengan penempatan Van Kerkhorff mengingatkan kita kepada sejarah perjanjian “Treaty Of London : Tanggal 17 Maret 1842 yang sudah dirintis sebelumnya oleh pemerintah Hindia Belanda bersama sekutunya Inggris yang membagi-bagi daerah jajahannya untuk keuntungan mereka yang berkelanjutan di masa depan. Maka itu Inggris dan penguasa Belanda mencoba menanamkan pengaruhnya di Asia Tenggara, sampai kepada Kerajaan Riau - Johor mendekati masa suramnya, sehingga wilayah Riau bekas Kerajaan Riau diserahkan kepada Kolonial Belanda sedangkan Singapura dan Johor termasuk semenanjung Malaysia dikuasai Inggris.

Sultan Abdul Rahman Al Muazam Syah beserta Tengku Besar Umar langsung dimakzulkan oleh Kompeni Belanda pada tahun 1911 dan pada tahun 1913 dengan resmi Kesultanan Riau Lingga dibubarkan oleh penguasa Belanda dan bertempatan dengan itu berkumpullah seluruh Datuk Kaya yang ada di Riau di gedung tempat kediaman Residen (Gedung Daerah Sekarang) untuk menerima penjelasan-penjelasan dari penguasa Belanda diantaranya menyinggung tentang wilayah Pulau Tujuh mendapat perubahan pembagian wilayah yaitu :
  1. Wilayah Datuk Kaya Pulau Bunguran dibagi dua wilayah yaitu Bunguran Barat dan Bunguran Timur sedangkan Pulau Panjang tersendiri.
  2. Wilayah Datuk Kaya Jemaja di bagi dua, yaitu wilayah Datuk Kaya Ulu Maras dan Kuala Maras. Hasil dari pemecahan wilayah menunjukkan untuk memisah-misahkan puak-puak Melayu yang hidupnya sudah aman dan damai yang telah dibina oleh Datuk Kaya di Pulau Tujuh.
Masa Pasca Kemerdekaan Indonesia
Sejarah pembentukan Kabupaten Natuna tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kepulauan Riau, karena sebelum berdiri sendiri sebagai daerah Otonomi, Kabupaten Natuna merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau.

Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia No.9/Deprt tanggal 18 Mei 1956, Propinsi Sumatera Tengah menggabungkan diri kedalam Wilayah Republik Indonesia dan Kepulauan Riau yang diberi status Daerah Otonomi Tingkat II yang dikepalai oleh seorang Bupati sebagai Kepala Daerah yang membawahi 4 kewedanan sebagai berikut :
  1. Kewedanaan Tanjung Pinang, meliputi wilayah Kecamatan Bintan Selatan (termasuk Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur).
  2. Kewedanaan Karimun meliputi wilayah Kecamatan Karimun, Kundur dan Moro.
  3. Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Singkep dan Senayang.
  4. Kewedanaan Pulau Tujuh meliputi Wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur.
Kemudian terbit Surat Keputusan No.26/K/1965 dengan berpedoman pada Instruksi Gubernur Riau tanggal 10 Februari 1964 No.524/A/1964 dan Instruksi No. 16/V/1964 serta berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau tanggal 9 Agustus 1965 No. UP/247/5/1965 dan tanggal 15 November 1965 No.UP/256/1965 menetapkan semua daerah administratif kewedanan dalam Kabupaten Kepulauan Riau dihapuskan terhitung mulai 1 Januari 1966.

Lalu seiring berjalannya waktu, tercetuslah usul untuk memekarkan daerah. Hingga akhirnya terbentukalah Kabupaten Natuna berdasarkan Undang-Undang No. 53 Tahun 1999 dari hasil pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau, yang terdiri dari 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Jemaja, Siantan, Midai, dan Serasan dan satu Kecamatan Pembantu Tebang Ladan (Palmatak). Tanggal 12 Oktober 1999 merupakan tanggal lahirnya Kabupaten Natuna.
Logo Kabupaten Natuna
Seiring dengan kewenangan otonomi daerah, Kabupaten Natuna kemudian melakukan pemekaran daerah kecamatan, yang hingga tahun 2004 menjadi 10 kecamatan dengan penambahan, Kecamatan Palmatak, Subi, Bunguran Utara, dan Pulau Laut dengan jumlah 53 kelurahan/desa.

Hingga tahun 2007, Kabupaten Natuna telah memiliki 16 Kecamatan. 6 Kecamatan pemekaran baru itu diantaranya adalah Kecamatan Pulau Tiga, Bunguran Timur Laut, Bunguran Tengah, Siantan Selatan, Siantan Timur dan Jemaja Timur dengan total jumlah 75 kelurahan/desa.

Namun setelah keluarnya Undang - undang No. 33 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas pada tanggal 21 Juli 2008 dimana beberapa Kecamatan yang antara lain Kecamatan Siantan, Kecamatan Siantan Tengah, Kecamatan Siantan Selatan, Kecamatan Palmatak, Kecamatan Jemaja dan Kecamatan Jemaja Timur masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Anambas, maka pada saat ini daerah administrasi Kecamatan di Kabupaten Natuna hanya tinggal 12 Kecamatan, yakni Bunguran Timur, Bunguran Barat, Bunguran Utara, Bunguran Selatan, Bunguran Tengah, Bunguran Timur Laut, Pulau Tiga, Pulau Laut, Midai, Serasan, Sersan Timur, dan Subi.
Branding Wisata Natuna



Sumber :
* http://www.natunakab.go.id/in/brief-history.pdf
* Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna