Friday, June 25, 2021

Tentang Sastra, Bicara Bahasa : Perjalanan Mendampingi Tim Kemdikbudristek di Natuna

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mendampingi rekan-rekan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi untuk melakukan penelitian mengenai sastra lisan dan bahasa di Natuna. Tim ini berjumlah 5 orang, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Mba Anita, Mba Mira, dan Kak Evi merupakan orang-orang yang langsung turun dari balai bahasa, sedang bang Medi, dan bang Jefri merupakan perwakilan dari Kantor Bahasa Kepulauan Riau.

Cerita bermula ketika seminggu yang lalu, saya dihubungi oleh Ngah Disun, kepala bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna. Beliau mengundang saya, beserta rekan-rekan lain yang tergabung dalam komunitas Natunasastra, Kompasbenua, Penggiat Budaya dan beberapa tokoh kebudayaan lainnya untuk menghadiri temu ramah dengan tim dari kemendikbudristek ini. Temu ramah yang benar-benar ramah, penuh keakraban dan rasa kekeluargaan. Awal mula saya mengira bahwa kami akan bertemu dengan tim yang terdiri dari bapak-bapak + ibu-ibu 50an keatas umurnya. Karena dibenak saya, peneliti adalah rata-rata yang begitu umurnya. Namun anggapan itu salah, mereka ternyata sepantaran. Ya, meski tak seusia, namun mereka "sefrekuensi".

Rakor Hari Pertama
Hari pertama, ramah tamah. Masih pada cool dan jaim

Tujuan mereka kesini adalah untuk melakukan pemetaan bahasa dan sastra lisan yang ada di Natuna, ini merupakan tahun terakhir dari rangkaian yang sudah dilakukan sejak tahun 1990an. Kedatangan mereka kesini adalah untuk mengecek ulang dengan data sebelumnya, apakah masih sama ataukah ada perubahan, atau barangkali ada penambahan.

Kami dipercaya oleh Disparbud Natuna untuk mendampingi tim yang nantinya dibagi dua ini. Tenggut dari Natunasastra mendampingi tim pemetaan sastra lisan (mba Anita dan Bang Jefri), dan saya dari Kompasbenua mendampingi tim pemetaan bahasa (bang Medi, mba Mira dan kak Evi).

-----------------------------------

Sabtu, hari kedua mereka di Natuna, perjalanan dimulai. Setelah berkomunikasi dengan bang Medi, kami sepakat bahwa tujuan hari ini adalah menuju Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara. Saya mendapat misi mencari narasumber di sana. Narasumber dengan kriteria orang lokal diatas 40 tahun berjumlah sekitar 3 orang. Saya cepat-cepat menghubungi Deri, penggerak muda di Kelarik dengan Komunitas Mbecite Kelarik nya. Misi saya yang lain adalah membawa mereka pergi dan pulang dengan selamat, alias menjadi supir.

Kami sampai di Kelarik di saat waktu sudah hampir zuhur. Setelah menunaikan hak dan kewajiban, kami menuju kediaman narasumber. Di sana ada bapak Kades, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara. Setelah berbincang-bincang "pembukaan", kami masuk ke acara inti. Mba Evi mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya yang berisi satu bundel kertas pertanyaan dan lembar administrasi tugas mereka. Lalu tiga narasumber ini dihadapkan dengan masing-masing tiga peneliti ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Mereka menyebut kosa kata dengan bahasa Indonesia, lalu narasumber ini menjawabnya dengan bahasa lokal, dalam hal ini adalah bahasa Kelarik. 

Setelah mengisi data narasumber, wawancara dimulai. Berbagai kosa kata mulai dari kegiatan sehari-hari, kata benda, nama-nama kegiatan dan alat, anggota badan, sampai (maaf) alat kelamin juga masuk dalam daftar pertanyaannya. Tentunya hal ini sudah disebutkan oleh mereka diawal, agar nanti tidak terkejut ketika mendengar kosa kata yang agak tabu ini. Dan para narasumber, harus menyebutnya dengan jelas, karena kata ini akan terekam untuk mereka sesuaikan dan teliti lebih lanjut nantinya. 

Suasana wawancara di Kelarik

Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 3 jam lamanya, dan itu termasuk sebentar, biasanya bisa hingga 6 - 9 jam untuk satu penutur / tempat. Setelah wawancara selesai, mereka menanyakan secvara singkat tentang suatu daerah yang mereka kunjungi, seperti asal mula nama tempat, dan cerita-cerita rakyat. Tidak detail, hanya garis besarnya saja, untuk melengkapi laporan.

Setelah data dirasa cukup terkumpul, kami pamit pulang menuju ke Ranai. Deri, Narki, dan Nely masih ingin menahan kami untuk pulang. Mereka anak-anak muda yang haus akan ilmu dan sepertinya masih ingin berdiskusi lebih banyak dengan para peneliti ini. Namun mengingat waktu dan kegiatan-kegiatan lain masih ada dalam daftar, kami memilih untuk kembali pulang ke Ranai untuk menyiapkan kegiatan selanjutnya. Terimakasih kami ucapkan kepada tiga narasumber yang telah meluangkan waktunya untuk diwawancarai, dan juga terimakasih kepada kawan-kawan Mbecite Kelarik yang dengan sigap sudah membantu memfasilitasi kegiatan ini.

Foto-foto dulu, biar ada cerita

Perjalanan pulang Kelarik - Ranai diwarnai dengan bocornya ban mobil di area bendungan Tapau, masing setengah perjalanan. Namun, alhamdulillah bisa teratasi dengan hal yang tak terduga pula. Sulit bagi saya mendeskripsikannya ke dalam tulisan. Yang jelas kami sampai ke Ranai dengan selamat dengan ban mobil yang sudah diganti tentunya.

Saya mendapat banyak pelajaran dihari pertama menjadi pendamping para peneliti ini. Kemudahan urusan di Kelarik yang merupakan buah dari silaturahmi yang saya bangun belum lama ini. Banyaknya kosa kata bahasa lokal yang baru pertama ini saya dengar. Juga kejadian yang barusan, bocornya ban mobil ketika perjalanan pulang. Hal tersebut sepatutnya merupakan teguran bagi saya untuk terus selalu bersyukur dan berprasangka baik terhadap apapun yang terjadi. Karena, akan selalu ada hikmah di balik setiap kisah.

 

Thursday, April 22, 2021

Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan (Hari Terakhir) - Desa Wisata dan Kesimpulan

Yap, sampai juga. Ini merupakan hari terakhir dari agenda studi komparasi wisata di Bintan. Ada beberapa kegiatan hari ini yang "harus" kami ikuti sebelum menuju ke Batam untuk kembali pulang ke Natuna esok harinya. 

Setelah puas berenang di Crystal Lagoon, sarapan, dan check out dari The Anmon Hotel. Perjalanan kami teruskan ke Desa Wisata Ekang. Desa Wisata Ekang masih terletak di Teluk Sabong, namun bukan termasuk di dalam kawasan atau manajemen BRC. 

Salah satu tempat menginap di D'Bamboo Kamp Desa Wisata Ekang

Desa Wisata Ekang berkonsep alam dan lingkungan, sangat pas untuk mengisi liburan bersama keluarga. Desa wisata dengan luas sekitar 14 hektar yang menjadi desa wisata terbaik di Indonesia ini merupakan buah dari hasil kerjasama antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna. 

Tempat menginap yang lain dengan konsep berbeda

Ada beberapa tipe kamar tempat menginap yang terdapat di desa wisata ini. Fasilitas lain yang terdapat di sini adalah kolam renang dan restoran yang terletak di dekat loby. Selain menginap, kita juga bisa melakukan aktifitas lainnya seperti berkebun, bermain bersama kelinci, berkuda, memancing, dan lain-lain.

https://desawisataekang.id/

Kawasan perkebunan Desa Wisata Ekang

Kami mengitari sebagian dari lokasi Desa Wisata yang kece ini, selanjutnya kami meneruskan perjalanan menuju Tanjungpinang untuk makan siang di Manabu Resto. Sebelum berpisah, kami mendapat berbagai cendera mata dari BRC, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga berharap kerjasama antara Pemkab dan BRC terus terjalin untuk bersama-sama memajukan pariwisata di Kepri, khususnya Natuna dan Bintan.

Cekrek dulu sebelum berpisah, trims BRC...


-----------------------


Sebuah catatan :

Perjalanan selama kurang lebih tiga hari dalam rangka studi komparasi wisata di Bintan banyak memberikan pelajaran serta wawasan, terutama di bidang pariwisata. Dalam beberapa sisi, alam yang dimiliki oleh Bintan dan Natuna relatif sama, sehingga tidak menutup peluang wisata yang serupa bisa berkembang juga di Natuna.

Wisata Mangrove

Kebun Binatang Mini

Banyak tempat potensial yang bisa dijadikan desa wisata di Natuna, baik di dengan tema agrowisata, wisata bahari, maupun wisata alam. Hutan mangrove yang dimiliki Natuna juga sangat luas dan tersebar di beberapa pulau. Berbicara tentang kuliner, Natuna gudangnya makanan laut yang lezat dan kaya protein. Dan yang tak kalah penting adalah kebudayaannya, cerita rakyat, kesenian, dan lain-lain. 

Desa Wisata
Glamping

Semuanya bisa dikembangkan menjadi lebih baik. Syaratnya adalah kolaborasi, kerjasama lintas sektor, baik pemerintah maupun swasta serta melibatkan masyarakat lokal sebagai ujung tombak pengelolaan. Semoga pariwisata Natuna menjadi semakin baik kedepannya. Aamiin.


Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan, selesai.

Monday, April 19, 2021

Glamping Ala-ala di Anmon Hotel - Cerita Studi Komparasi Wisata di Bintan

Hari kedua dalam rangkaian Studi Komparasi Wisata di Kabupaten Bintan ini sungguh luar biasa. Sepuluh destinasi wisata super keren di kawasan terpadu BRC kami kunjungi dalam waktu kurang lebih 10 jam. Mulai dari sarapan di Pujasera hingga makan malam di Cassia Hotel sambil menikmati angin pantai dan sunset.

Setelah selesai santap malam, mobil membawa kami menuju kembali ke Chill Cove, tempat kolam renang terbesar se Asia Tenggara yang kami kunjungi pagi tadi. Selain terdapat kolam renang, wisata mangrove dan area outbond, kawasan Chill Cove juga terdapat 2 hotel dengan konsep unik dan menarik. Dan, kami akan menginap di salah satunya. 😁

The Anmon Hotel di malam hari

Anmon dan Natra, nama dua hotel dengan tema glamping tersebut. Glamping merupakan akronim dari glamour camping, konsep berkemah dengan didukung oleh fasilitas dan akomodasi yang memadai, begitulah kira-kira definisi glamping ini. Konsep glamping sudah mulai populer di beberapa negara dalam beberapa tahun terakhir. Menjadikan ia alternatif menginap ala kemah meski tak punya "skill" berkemah. 

Natra Hotel lebih dahulu beroperasi, dulu bernama The  Canopy Bintan. Baru pada 1 agustus 2019, ia berubah nama menjadi Natra yang terinspirasi dari bahasa arab. Sementara Anmon baru saja beroperasi dalam beberapa bulan terakhir.

Oleh pihak BRC, kami diinapkan di The Anmon Hotel. Baik Natra maupun Anmol sama-sama mengusung konsep glamping yang berpadu dengan alam. Semuanya wah. Bedanya hanya dibentuk tenda saja menurut saya. Natra Bintan memiliki tenda yang lebih besar dan lebar, sementara The Anmon bentuk tendanya lebih kecil dan mengerucut khas tenda suku indian atau perkemahan di padang pasir. 

Foto bareng pak Imam (baru biru paling kiri), dan mbak Putri (tiga dari kiri),
LO yang sudah menemani kami selama 2 hari ini

Di tempat check in, terdapat restoran yang kece abis, lobby hotel juga dikemas dengan modern sehingga sangat cocok untuk hanya sekedar nongkrong. Proses check in sudah selesai, sebelum kami diantar menuju kamar, kami berfoto dulu dengan LO yang sudah menemani kami dari kemarin hingga hari ini. Sebab, agenda besok hingga lusa akan berganti LO. Terimakasih banyak mbak Putri dan pak Imam sudah mau menemani kami jalan-jalan di Bintan. 😀 

Kami diantar menuju kamar masing-masing. Saya mendapat kamar no 106. Kamar dengan bentuk khas tenda khas gurun pasir ini begitu tampak sederhana dari luar. Dibaluti "kain" putih berbentuk kerucut dengan teras kecil di depannya. Hal yang kontras saat saya masuk ke dalam, fasilitas hotel yang mewah lengkap dengan kamar mandinya beserta perlengkapan lainnya. Yap, jadi inilah dia glamping itu ya, ternyata. Saya berberes-beres sebentar, setelah seharian berada di luar badan ini meminta haknya untuk dibersihkan. Setelah berberes-beres, mandi, dan sejenak beristirahat. Saya mencoba mengitari komplek "tenda" mewah ini.

Anmon menerapkan tema gurun pasir, pasir putih ala-ala gurun, hingga tanaman kaktus dan pohon palm terdapat di area komplek kemah. Lampu pelita di tepi-tepi jalan membuat malam semakin syahdu, lengkap dengan kilauan bintang di langit. Tamu-tamu lain yang menginap mengadakan acara "api unggun", barbaque-an di sekitar kemah. Ada alun-alun kecil tempat berkumpul di luar tenda. 

Saya tak meneruskan untuk sksplor lebih jauh Anmon ini, dikarenakan hari semakin larut dan letih di badan masih tersisa setelah seharian berkegiatan. Saya kembali ke kamar dan beristirahat. Di dalam kamar, kita juga masih bisa melihat bintang-bintang, karena atap kamar hotel bisa dibuka-tutup.

--------

Pagi harinya saya bangun agak kesiangan. Cepat-cepat keluar tenda untuk menikmati udara pagi di sekitaran kemah. Tak lama di luar, lalu kembali masik ke kamar untuk ambil perlengkapan, berenang di crytal lagoon. 😆

Hanya ada beberapa orang saja yang sedang berenang pagi ini, termasuk saya dan bang Jono. Sementara buk Kasi, pak Kabid dan pak Kadis sudah lebih dahulu jalan-jalan pagi di sekitaran kemah dan kolam. Segar rasanya berenang di kolam yang berasal dari air laut hasil penyulingan ini, kolamnya yang begitu luas serasa sedang berenang di laut sungguhan.

Basah-basah, pagi-pagi

Namun saya tak bisa berlama-lama karena agenda berikutnya sudah menunggu. Saya langsung bergegas kembali ke kamar, berbilas dan bersiap-siap. Di ruang tamu kamar sudah tersedia sarapan. Sarapan di Anmon modelnya diantar ke kamar, tak seperti hotel kebanyakan yang menyajikan prasmanan di hotel. Makan untuk sarapan dan lain-lainnya juga dipesan saat kita akan check in. Lalu keesokan harinya barulah makanan diantar, seperti itu. 

Beres-beres sudah, sarapanpun sudah, selanjutnya adalah kembali menuju lobby, dan check out. Lalu melanjutkan ke agenda berikutnya.

Biar kayak orang-orang

Check ouuuuut

Thank you, The Anmon Hotel for the great experience.


Refrensi :
https://www.bintan-resorts.com/resorts/anmon/