Wednesday, May 18, 2022

Ragam Cara Asyik Mengisi Liburan Produktif di Desa Mekar Jaya

Setelah sebulan berpuasa dan dilengkapi dengan kegembiraan di bulan syawal, saya rasa harus kembali melakukan banyak kegiatan biar produktif seperti kata orang-orang. Saat itu juga saya memutar otak memikirkan kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mengisi libur panjang kali ini. Lama juga mengingat satu demi satu tempat-tempat menarik di sekitaran kota untuk bisa dikunjungi. Memang, Kota Ranai dimana tempatku tinggal ini dikelilingi oleh tempat-tempat menakjubkan, mulai dari pantai, pulau, gunung hingga hutan.

Setelah memilah dan memilih, pilihan saya tertuju pada Desa Mekar Jaya. Desa ini sudah pernah saya review dalam tulisan saya terdahulu tentang wisata mangrovenya yang indah. Wisata alternatif yang digagas oleh para pemuda desa dalam menggali potensi alamnya. Hasilnya, meskipun terletak di sudut barat daya Pulau Bunguran ini, Desa Mekar Jaya banyak dikenal hingga saat ini, baik oleh para wisatawan, hingga peneliti. Desa Mekar Jaya juga masuk dalam 300 besar dalam acara Anugerah Desa Wisata Indonesia tahun 2022 ini. Kece gilee.!

Saya kagum dengan pemuda dan masyarakat desa ini yang tak henti-hentinya bergerak untuk menggali potensi yang ada. Selain tanaman bakau dan kuliner ketamnya yang lezat, Desa Mekar Jaya masih banyak menyimpan potensi alam yang harus lebih giat lagi digali, yang nantinya jika dikelola dengan baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi penduduknya.

Hutan bakau yang dijadikan wisata mangrove Mekar Jaya merupakan potensi wisata dan penelitian serta konservasi. Di desa ini juga banyak tersimpan berbagai macam barang antik yang kerap ditemui warga. Beberapa waktu lalu warga bersama dengan Disdikbud Natuna mengidentifikasikan peti mati kuno yang disinyalir berusia ratusan tahun. Ini menandakan desa Mekar Jaya merupakan perkampungan tua di masa lampau, dan bisa jadi pula merupakan peradaban awal di pulau Bunguran.

Lalu, desa yang dikelilingi hutan dengan pepohonan besar ini juga merupakan rumah bagi Kekah Natuna (Presbytis natunae). Primata sejenis langur ini dijadikan ikon untuk branding Natuna. Dan "istananya" berada di Desa Mekar Jaya ini. Hal ini juga yang dimanfaatkan oleh warga setempat untuk memanfaatkan potensi alamnya, mendatangkan tamu baik itu untuk berwisata maupun meneliti dengan mengenalkan paket Mantau Kekah.

Yap, Mantau Kekah merupakan sebuah paket dan aktivitas baru yang ditawarkan di Desa Wisata Mekar Jaya. Setelah memutuskan untuk pergi kesini, saya lantas menghubungi local hero, Pak Ahdiani yang akrab saya panggil Cek Gu. Menginfokan bahwa kami akan mengunjungi desa Mekar Jaya diakhir pekan untuk Mantau Kekah. Cek Gu "merestui" dan kami pun berangkat menuju ke sana.

Perjalanan dari Ranai Kota kami mulai pukul 8 pagi. Menuju Desa Mekar Jaya menempuh waktu kurang lebih 90 menit berkendara dengan kecepatan rata-rata. Rute yang dilewati adalah pesisir timur pulau Bunguran hingga melewati Kecamatan Bunguran Selatan. Lalu belok ke arah barat ketika menemui kantor PLN di Pian Tengah. Dari simpang PLN Pian Tengah menuju Desa Mekar Jaya yang berjarak 9 km itu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 15-20 menit dikarenakan kondisi jalan yang kurang memadai.
Bebuel nabuk (bincang santai) dengan Cek Gu
Setelah sampai di Desa Mekar Jaya kami sudah ditunggu Cek Gu di rumahnya. Bertamu sebentar sambil "sungkem" dan menikmati tambul raye (kue lebaran) karena masih dalam suasana syawal. Juga sambil ngobrol-ngobrol ringan seraya melepas lelah. Kemudian kegiatan kami langsung dimulai. Kali ini belum untuk mantau kekah, karena menurut Cek Gu, kekah akan keluar mencari makan sekitar pukul 3-5 sore hari, dan pukul 6-9 pagi harinya. Jadi kegiatan kami kali ini adalah menelusuri sungai di menuju hutan Desa yang masuk dalam hutan kawasan zona kuning dan hijau. Menuju kesana menggunakan spitbut/jungkong mesin (speedboat). 
Menelusuri hutan desa.
Turun dari pelabuhan Mekar Jaya Mangrove Park, kami menuju muara dan masuk ke wilayah dusun Sebuton, memasuki Sungai Temeghang dan Sungai Mak Keghak. Menelusuri sungai-sungai berdinding bakau merupakan cara asyik pertama dalam menikmati libur panjang akhir pekan ini. Bonus dari perjalanan menyusuri sungai ini adalah kami bisa melihat langsung buaya yang sedang "ngetem" di antara pohon bakau, dan sempat kami abadikan.
Potret buaya di sungai Temeghang.
Buaya yang terlihat masih remaja ini diperkirakan memiliki panjang 1 meter. Dengan tenang ia berada di antara pepohonan bakau, yang terlihat hanya moncong dan matanya. Setelah mendapatkan beberapa gambar, sang buaya pun menghilang, menyelam entah kemana. Saya pribadi baru kali pertama melihat buaya di alam seperti ini. Sangat heng (hoki) betul hari ini bisa melihat dan mengabadikan hewan karnivora yang terkenal ganas ini.

Cara asyik kedua dalam menikmati liburan kali ini adalah: makan siang di atas spitbut. Setelah mendapat foto buaya di pepohonan bakau tadi, Cek Gu mematikan mesinnya dan mengikat spitbut di pohon bakau yang baru tumbuh, terlihat dari diameternya yang tak begitu besar.
Makan siang di atas spibuut. (foto: @ahdiani_mt)


"Makan siang", begitu katanya memecah keheningan seraya mengeluarkan rantang plastik yang sudah disiapkan di bawah tempat duduk spitbut. Lauk ikan asam pedas dan sambal teri menjadi menu makan siang kali ini. Terlihat sederhana, namun momennya yang luar biasa menjadikan makan siang ini begitu lezat tiada tara. Makan siang di atas perahu di tengah-tengah hutan bakau akan memberikan sensasi tersendiri. Ditemani alunan musik alam dari suara gemercik air dan binatang-binatang penghuni hutan bakau akan jadi pengalaman tak terlupakan yang kelak akan dibawa pulang.

Setelah makan siang, kami menuju ke Tebing Tinggi. Tempat ini merupakan lokasi dimana peti mati kuno ditemukan warga, lalu penemian ini dilanjutkan dengan dilaporkan kepada pemerintah. Selesai dari Tebing Tinggi, kami pulang untuk beristirahat sejenak, kembali menyusuri sungai Aek Botang menuju dermaga Mekar Jaya Mangrove Park. Saat perjalanan dari dermaga menuju rumah Cek Gu, seorang warga desa memberitahukan kami bahwa ada segerombolan Kekah yang sedang nongkrong di pepohonan karet. 
Mantau Kekah (foto: @mantau_kekah)
Keluarga kekah
Sontak saya mengikuti arah yang warga desa isyaratkan dengan bibirnya tersebut. Dan benar saja, satu ekor, dua ekor, dan lebih dari lima ekor Kekah sedang nongkrong dengan santainya di pepohonan karet, padahal ada aktivitas warga dengan jarak sekitar 50 meter saja. Kejutan tak terduga ini kami manfaatkan untuk mengambil beberapa gambar Kekah, tak bisa banyak karena kehadiran kami terdeteksi oleh mereka, sehingga mereka langsung "membubarkan diri".

Cara asyik menikmati libur panjang yang ketiga adalah mengarungi laut berburu foto burung. Desa Mekar Jaya ini secara admnistrasi berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Bunguran Barat, Kecamatan yang berpusat di Pulau Sedanau ini memiliki potensi alam yang juga luar biasa. Salah satunya adalah Pulau Kembang, Pulau ini berada dalam administrasi Kelurahan Sedanau. Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari dermaga Mekar Jaya Mangrove Park untuk sampai ke pulau ini dengan spitbut. Pulau Kembang merupakan rumah bagi raturan spesies burung yang diantaranya berada dalam kategori terancam punah. Selain itu karang-karang yang mengelilingi pulau ini sangat indah terlihat dari atas spitbut karena air laut di puau ini sangat jernih.
Cekrek cekrek burung merpati
Kami mengitari pulau dengan pelan sambil mengamat burung-burung yang terbang kesana kemari. Matahari yang perlahan kembali ke peraduan membuat burung-burung ini juga kembali ke sarangnya setelah "bermain-main" seharian. Banyak burung yang kami dapati potretnya, dan diantaranya ada burung Pergam Perak yang saat ini statusnya kritis alias terancam punah. Setelah puas jepret-jepret hewan-hewan penguasa langit ini kami kembali ke Mekar Jaya saat matahari sudah mulai terbenam.
Senja di laut Bunguran Barat
Pagi harinya, masih dalam agenda Mantau Kekah. Kami kembali mendapati kekah di lokasi pertama yang kami temui kemarin, setelah memutar-mutar lokasi dimana mereka biasa nongkrong. Kata Cek Gu, mendapati Kekah ini untung-untungan, terkadang bisa ramai seperti kemarin, terkadang juga zonk tidak terlihat sama sekali. Kekah merupakan hewan pemalu yang jago kamuflase, sehingga saat mencarinya pandangan kita harus tajam dan teliti. Pagi ini kami hanya mendapati beberapa potret Kekah yang lumayan epik. Namun tak banyak karena mereka dengan cepat kembali ke hutan.

Setelah itu, kami kembali ke kediaman Cek Gu,
Selesai?
Belum ternyata.

Sampai di rumah, Cek Gu kembali mengajak kami ke satu lokasi lagi. Lokasi yang akan ia jadikan posko pengamatan kelompok Kekah. Lokasi ini terletak di tanah miliknya dan rencana akan ditanam beberapa tanaman yang menjadi makanan di Kekah untuk memancing ia datang. Sebagai penutup, kami ditawari teh khas Desa Mekar Jaya. Nama teh kahwe, kahwe berarti kopi dalam bahasa Melayu. Teh kahwe berasal dari daun kopi yang tumbuh di tanah Mekar Jaya. Rasanya nikmat dengan tekstur yang khas. Dan ini cara asyik yang ke empat.
Teh Kahwe khas Mekar Jaya
Mekar Jaya, desa dengan lokasi yang terpencil namun miliki potensi yang tak kecil. Wisata mangrove, wisata maritim, wisata budaya, hutan kawasan, konservasi sumber daya alam, merupakan beberapa potensi yang tampak dari desa yang berlokasi di barat daya Pulau Bunguran ini. 

Satu lagi yang bikin saya terkesan adalah ketika kemarin saat kami diberitahu warga mengenai keberadaan Kekah, ini mengindikasikan bahwa warga setempat secara tak sengaja ikut mendukung aktivitas mantau kekah yang digagas oleh Ce Gu. Mantau kekah ini juga masuk dalam paket wisata sehari di Natuna Dive Resort, lo.


Nah, nanti jika ingin melihat secara langsung hewan endemik Natuna ini di alamnya, maka Desa Mekar Jaya merupakan pilihan tepat. Mantau Kekah kegiatan utamanya, ditambah beragam "bonus" lainnya akan didapati juga. Jadi, jom ke Natuna, song gi Mekar Jaya!




Nb : info lebih lanjut tentang Mantau Kekah bisa kunjungi akun ig nya di @mantau_kekah ya.

Thursday, July 1, 2021

Pas Kapal, Cerita Rakyat, dan Berlayar: Perjalanan Mendampingi Tim Kemendikbudristek (4)

Alhamdulillah, kami dapati solusi atas masalah yang barusan terjadi. Kami bisa ke Pulau Sedanau dengan menaiki kapal yang biasa digunakan oleh masyarakat Midai untuk transportasi ke ibukota Kabupaten. Dengan begitu, penelitian masih bisa berlanjut. Gasss pol!

Urus administrasi dulu

Sebelum melanjutkan penelitian, kami membereskan segala hal terkait administrasi keberangkatan terlebih dahulu, mulai dari memastikan kesiapan kapal beserta kapten dan kru-krunya, hingga urusan ke-covid-an. Setelah semuanya dirasa beres. Penelitian kami lanjutkan, kali ini menuju ke Kecamatan Suak Midai untuk menemui narasumber dari seni tradisi lisan Pas Kapal.

Pas Kapal merupakan seni tradisi lisan dari Natuna, beberapa sumber menceritakan, ia bermula dari Pulau Laut yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lain di sekitaran pulau Bunguran termasuk hingga ke Midai. Pas Kapal ini merupakan lantunan syair, sama halnya seperti tepung tawar. 

Di kediaman pak Bachtiar

Pas Kapal berarti surat ijin berlayar bagi kapal-kapal yang akan meninggalkan suatu dermaga. Tradisi ini kerap ditampilkan pada acara khotaman Quran dan acara pernikahan. Ciri khas dari Pas Kapal ini adalah adanya miniatur kapal yang berisi beragam souvenir di dalamnya baik barang maupun makanan. 

Pas Kapal, jika ia ada di acara pernikahan, maka profil pengantin yang dibacakan. Jika ia berada di acara khotaman quran, maka para peserta khatam yang akan dijabarkan satu persatu dalam syair yang dibuat. Baik pengantin dan para peserta khotaman diibaratkan sebagai penumpang sebuah kapal yang akan "berlayar" lalu diberi nasehat serta do'a. Jadi, syair-syair yang dilantunkan bak surat ijin untuk kapal (miniatur kapal) yang berisi makanan/souvenir yang mewakili para penumpang. Setelah syair-syair yang berisi nasehat serta doa dibacakan, maka kapal sudah boleh "berlayar".

Bapak Bachtiar sedang membacakan syair Pas Kapal

Sedikit bercerita tentang seni tradisi ini. Saya pribadi baru-baru ini saja mengenal seni tradisi Pas Kapal ini. Sebelumnya, saya hanya mengetahui syair gurindam yang begitu mendunianya. Ternyata di tempat kami, ada seni tradisi lisan yang hampir serupa, namun sedikit terlupakan. Saya tidak tahu apa status dari seni tradisi Pas Kapal ini, yang jelas di Natuna hanya beberapa orang saja pelantunnya. Jadi pelestarian dari seni tradisi ini kiranya menjadi tugas kita bersama.

Pak Bachtiar, nama sang maestro Pas Kapal ini menyampaikan, bahwa pembuatan lirik syair Pas Kapal harus dalam suasana tenang dengan fikiran yang jernih. Biasanya ini dilakukan diwaktu sepertiga malam dan subuh. Sebab memadupadankan kata-kata agar pas dengan irama syair bukanlah hal yang mudah. Dalam satu bait harus memiliki rima yang seragam. Tujuannya agar enak didengar dan membekas di telinga para pendengar. Biasanya pak Bachtiar akan membuat syair pas Kapal pada saat H-2 minggu acara, sambil-sambil mengumpulkan data, berupa profil para "calon penumpangnya".

Data dari pak Bachtiar, sang maestro Pas Kapal ini dirasa sudah cukup. Tak lupa kami mengambil dokumentasi, bukan untuk ajang narsis, namun juga sebagai bukti dan laporan yang harus dilaporkan kelak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Aslinya emang mau narsis, alibinya dokumentasi kegiatan. Cekrek

Sebelum menuju ke kediaman narasumber terakhir, kami makan siang sejenak di rumah keponakan saya. Dari tadi pagi dia sudah mengirim pesan WA, agar siang ini makan di tempat mereka. Yah, begitulah Midai, warganya ramah-ramah dalam melayani tamu, paling sibuk jika kerabat jauh datang berkunjung. Alhamdulillah. Perut terisi, energi pulit kembali, lanjut lagi meneliti.

Narasumber terakhir yang kami datangi adalah Bapak Syamsu Bastian. Beliau yang bekerja di SMP Negeri 1 Midai ini adalah pecinta sejarah, dan suka mengumpulkan cerita-cerita rakyat dan kisah tentang Midai masa lalu. Semuanya beliau tulis dan kumpulkan dalam sebuah buku catatan. Kediaman beliau tak jauh dari tempat kami menginap. 

Disini kami diceritakan banyak hal mengenai Midai, terutama tentang asal masjid Az-Zuriyat yang terletak di Kecamatan Suak Midai. Juga mengenai syair tentang masjid tersebut. Kami juga diberikan draft naskah buku yang berisi asal nama-nama tempat di Pulau Midai dan penggalan-penggalan sejarah, mulai dari zaman penjajahan hingga kekinian.

Di kediaman Bapak Syamsu Bastian

Setelah selesai mewancarai, kami kembali ke penginapan. Istirahat sejenak, lalu bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan malam ini. Menuju Pulau Sedanau.

Kapal yang kami tumpangi sudah standby di pelabuhan rakyat, pelabuhan yang dulu menjadi saksi bisu sibuknya pulau ini dengan kegiatan ekspor impor hasil bumi pulau Midai. Saksi bisu besarnya perusahaan Ahmadi dan Co dalam mengelola hasil bumi hingga menarik perhatian Wakil Presiden Muhammad Hatta kala itu. Yang kini sejarah kebesarannya hanya bisa dinikmati dalam catatan, pun jika tidak dikenalkan, ia akan terlupa dengan sendirinya, dengan cepat.

Kru kapal memanggil kami, diminta untuk bersiap-siap karena kapal akan segera lepas sauh. Kami memasuki kapal yang ukurannya lumayan besar tersebut. Biasanya akan ramai penumpang dari Midai yang ikut. Namun karena kapal ini baru saja dari Selat Lampa tadi pagi, maka warga yang ikut yang sedikit saja, hanya 4 orang. Total manifest tidak lebih dari 20 orang. Serasa kapal pribadi saja malam itu.

Suasana di dalam kapal, sebelum berlayar.

Tengah malam, kapal lepas sauh. Berlayar, menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Menuju Pulau Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat.


-------------




Monday, June 28, 2021

Memburu Tradisi Lisan di Bagian Selatan Natuna: Perjalanan Mendampingi Tim Kemendikbudreistek (3)

Pagi-pagi sekali sudah bangun, dan langsung mempersiapkan diri bekerja. Tapi kali ini bukan ke kantor. Namun menuju Pelabuhan Penyeberangan Penagi. Hari ini, kami "mendapat tugas" dari dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk menemani tim dari Pusat Bahasa Kemendikbudristek melanjutkan penelitiannya di Natuna. Kali ini, Pulau Midai jadi tujuan. Sejak rapat koordinasi hari pertama mereka di sini jumat lalu, saya selalu mempromosikan Pulau Midai ini sebagai tempat yang "seksi" untuk dilakukan penelitian. Akhirnya, "doktrin" yang saya tanamkan ini berhasil juga, setelah kemarin dalam perjalanan menemani tim peneliti bahasa, saya ditelpon oleh tim yang meneliti sastra lisan untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk ke Pulau Midai.

Halan-halan duyu

Segala persiapan administrasi dan mental kami siapkan untuk keberangkatan kali ini. Surat ijin, surat yang berhubungan dengan ke-covid-an, semua beres. Saya, Tenggut dari Komunitas Natunasastra, Bunit dari Badan Bahasa dan Bang Jefri dari Kantor Bahasa Kepri, tim kami terdiri dari empat orang ini tinggal cau saja menuju "pulau jomblo" di bagian selatan kabupaten Natuna ini. 

Perjalanan kami mulai dari Pelabuhan Penyebrangan Penagi, menaiki KMP Bahtera Nusantara 02, sebuah kapal jenis roro yang belum lama ini melayani rute di Natuna. Serasan, Subi, Penagi, dan Midai merupakan tempat-tempat yang disinggahi kapal milik PT. ASDP ini. Pukul 7 pagi kapal mulai menarik sauh, berlayar pelan keluar dari muara sungai Sebala, lalu tancap gas menuju selatan melewati sisi timur pulau Bunguran. Hamparan tanah luas plus gunung Ranai menjadi pemandangan di sebelah barat yang bisa dinikmati hampir 3 jam lamanya. Sementara lautan lepas terhampar di sebelah timur. 

Sepanjang perjalanan kami duduk di kantin, di dek paling atas, antara kemauan sendiri dan salah pilih tempat. Kapal roro ini memiliki ruangan yang berisi kursi dan kasur, ada juga kelas seperti kamar, namun semuanya penuh ketika kami masuk. Alhasil, hanya dek atas yang tersedia untuk kami.

Dempet di Midai

Jam 1 siang roro merapat di pelabuhan WK, Midai. Penumpang yang turun dengan tertib langsung diperiksa otoritas pelabuhan mengenai kelengkapan dokumen-dokumennya. Setelah semua selesai, kami menuju ke penginapan untuk meletakkan barang, istirahat sejenak.

Dan langsung mulai bekerja.

Menemui pihak Kecamatan Midai
Pertama, untuk menghilangkan letih yang masih tersisa, kami mengajak 2 orang peneliti ini mengelilingi Pulau Midai dahulu. Ini merupakan agenda "wajib" ketika membawa tamu yang baru pertama ke sini. Luas Midai hanya 18 km persegi, mengelilinginya membutuhkan waktu 30 - 45 menit saja dengan kecepatan "santai". Pulau Midai terdiri dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Midai dan Suak Midai, plus 1 kelurahan dan 5 desa yang ada di bawah administrasinya.

Di depan Masjid Az-Zuriyat Midai

Bukan sekedar berkeliling, kami juga menjadi tour guide dadakan dengan menjelaskan beberapa tempat yang kami lewati. Masjid Baiturrahman, Kantor Pusat Ahmadi & Co, Kuburan-kuburan tua, hingga masjid tua Az-Zuriyat di Suak Midai merupakan beberapa yang kami jelaskan kepada para peneliti yang gak neko-neko ini. Setelah berkeliling, kami kembali beristirahat untuk mengatur rencana penelitian.

Malam hari, kami menuju kerumah salah satu narasumber. Peneliti yang saya bawa kali ini merupakan peneliti yang khusus meneliti tradisi lisan, jadi apa-apa saja tradisi yang menggunakan media lisan masuk dalam kategori ini. Narasumber pertama yang kami temui adalah bang Haidir, lebih dikenal dengan Haidir Wahab, seorang tokoh pemuda yang mempraktekkan tradisi tepung tawar. Tepung tawar merupakan tradisi lisan yang sangat familier di kalangan masyarakat melayu. Ia merupakan syair-syair yang berisi doa dan nasihat. Syair yang dilantunkan didominasi oleh bait-bait berima. Seperti pantun. Biasanya tepung tawar sering dibacakan saat pesta perkawinan setelah ijab kabul. Dibacakan kepada kedua mempelai sebagai penutup rangkaian acara adat dalam pernikahan.

Wawancara narasumber.

Tepung tawar tepung jati,
Tepung asal mula menjadi,
Tepung tali pati,
Tepung masang suri.

Di atas merupakan salah satu bait-bait awal dari syair tepung tawar. Ditambah dengan beberapa bait tambahan, barulah tepung tawar berisi nasihat dan biasanya ditutup dengan do'a. Properti dari tradisi tepung tawar ini adalah wadah kecil yang berisi air, beras kuning, dan asam garam, kesemua ini memiliki filofosi masing-masing. Dalam membaca tepung tawar, biasanya pelantun tepung tawar menggenggam kumpulan beberapa jenis daun yang juga memiliki makna tersendiri. Daun-daun tersebut kemudian dipukul pelan-pelan di tangan mempelai pengantin/objek tepung tawar yang tangannya berada di dalam wadah berisi air tadi sambil membaca syair tepung tawar.

Cukup lama kami berada di kediaman bang Haidir ini, terlebih malam itu hujan lebat membasahi bumi Midai. Bang Haidir bercerita banyak mengenai tradisi ini. Di Midai, ada beberapa orang yang bisa melantunkan tepung tawar, selain bang Haidir, ada juga bapak Ahmad bin Fauzi bin Musa, dan dahulu ada bapak allahyarham Baharudin bin Sabki bin Musa. Kata bang Haidir, maestro tepung tawar dimana tempat ia mengambil refrensi adalah allahyarham Sabki bin Musa. Kesemua orang-orang yang disebutkan tadi masih dalam satu garis keluarga.

Tangkapan layar dari video di laman FB, saat bang Haidir sedang membaca tepung tawar.

Selain mengenal tradisi tepung tawar, bang Haidir Wahab ini ternyata juga banyak menyimpan foto-foto Midai tempo dulu. Saya tertarik dengan hal ini karena masuk dalam program komunitas yang kami jalankan. Juga bercerita sedikit tentang asal muasal beberapa nama tempat di Midai, namun perihal ini beliau tak bisa menceritakan secara rinci, lalu kami direkomendasikan pada satu nama yang harus kami datangi nanti sebelum pulang. 

Hujan sudah reda, kopi pun sudah mulai habis, datapun sekiranya sudah cukup untuk kami olah. Kami berpamitan pulang, menuju penginapan. Melanjutkan penelitian esok hari dengan "tema" yang berbeda pula. Tepung Tawar merupakan tradisi lisan khas melayu, lain tempat lain pula cara dan syair yang disajikan. Setahu saya, ada pelantun tepung tawar di Pulau Tiga, Bunguran Selatan, dan lain-lain tempat di Natuna. Ini menunjukkan betapa kayanya daerah ini dengan budayanya. Tak patut kalau tak dilestarikan.

Narsis dulu -cekrek-

------

Selasa pagi, setelah sarapan kami mulai persiapan untuk melanjutkan penelitian, kali ini ke salah seorang narasumber yang melantunkan suluk dan pas kapal. Namun, kabar kurang mengenakkan kami dapati pagi hari ini, kapal penumpang yang akan kami naiki untuk ke Sedanau malam ini ternyata sudah sampai dan akan berangkat pagi ini juga dikarenakan cuaca yang kurang mendukung saat itu.

Hal ini sempat membuat bingung, karena jika kami mengikuti kapal untuk ke Sedanau pagi ini, data belum semua didapati. Jika kami tertinggal, maka kapal menuju ke Sedanau dan pulau Bunguran baru ada beberapa hari ke depan. Sementara menurut jadwal mereka akan kembali ke Tanjungpinang dan Jakarta pada hari sabtu.

Seketika juga kami berkonsultasi dan berkoordinasi untuk mencari solusi atas ini. Lalu........

Bersambung, yew..... (biar seru).