Friday, November 18, 2022

Cerita Tenis Lapangan: Masuknya Tenis ke Natuna dan Perkembangannya

Setelah terbentuk pada tahun 1935, PELTI dengan segala lika-liku perjalanannya telah melewati berbagai masa. Mulai dari pengaruh kolonial Belanda, tidak aktif dimasa Jepang, hingga perjuangan menghidupkan kembali pada masa pasca kemerdekaan. Semua dilalui PELTI dengan teguh dan pantang menyerah, sesuai dengan slogan pada logonya: PANTANG SURUT.  Pelti terus mengembangkan program kerjanya dalam mengenalkan tenis ke seluruh pelosok Nusantara. 

Dan itu terbukti dengan banyaknya atlet-atlet tenis di luar Jawa yang ikut serta dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang berlangsung sejak tahun 1948 di Solo. Masa keemasan tenis Indonesia pada kurun 1968 hingga 1987 berimbas juga pada penyebaran olahraga ini di pelosok tanah air. Tak terkecuali di Natuna, sebuah kepulauan di ujung utara Republik ini.

Tenis diperkirakan masuk ke Natuna pada tahun 1970an, ia kemungkinan besar dibawa oleh para pekerja minnyak dan gas pada awal mula eksplorasi di laut Natuna ini berlangsung. Tahun 1960-1980 merupakan tahun-tahun dimana eksplorasi migas besar-besaran dilakukan di laut Natuna setelah ditemukannya cadangan hidrokarbon yang besar di perairan sebelah barat kepulauan itu. 

Dalam kurun waktu 1970an itu pula, beberapa pulau di Natuna mendapat kunjungan tamu dari luar, baik dari pusat maupun negara asing. Ada yang tinggal dalam beberapa waktu, ada pula yang sebentar seperti melakukan perjalanan dinas kerja. Orang-orang dari luar inilah kemungkinan yang berperan besar dalam membawa tenis lapangan ke Natuna.

Lapangan tenis pertama di Natuna ada di pusat kota Ranai, tepatnya di dekat Simpang Empat. Lapangan tenis ini berjumlah dua buah dan terbuat dari semen. Menurut keterangan papa saya, Noorhidayat (Buyung), tahun 1970an ia sudah menjadi ballboys ketika ayahnya (kakek saya) bermain tenis dengan bule di lapangan tersebut. Raketnya yang digunakan masih berbahan kayu. Daerah tersebut memang merupakan pusat olahraga sekaligus pusat hiburan, karena di sebelahnya juga terdapat lapangan bola dan gedung pertemuan yang digunakan dalam berbagai acara.

Bekas Lapangan Tenis di SMP Negeri 1 Bunguran Timur

Tenis lapangan lambat laun mendapat tempat di hati masyarakat Natuna khususnya di Ranai dan sekitarnya. Pada tahun 1980an ada dua lapangan tenis tambahan yang dibangun, yang pertama di dekat SMPN 1 Bunguran Timur, papa menceritakan bahwa lapangan tenis ini berasal dari lapangan voli yang dialihfungsikan. Lalu yang kedua adalah di pangkalan udara TNI AU, lapangan ini dibuat oleh TNI AU dan perusahaan minyak (yang saat itu memiliki basecamp di hangar LANUD Ranai). Belum diketahui yang mana terlebih dahulu dibangun antara dua lapangan ini.

Seiring berjalannya waktu, tenis mendapat perhatian dari pemerintah. Ini terlihat dengan dibangunnya lapangan tenis pemda Natuna di kawasan Batu Kapal. Karena lokasi yang dekat dengan kota, lapangan tenis ini menjadi tempat lokasi favorit baru bagi para pecinta tenis. Sehingga lahir komunitas tenis yang diberi nama Natuna Tennis Community.

Lapangan Tenis Batu Kapal

Giat tenis di lapangan pemda (selanjutnya lebih akrab dengan sebutan Lapangan Tenis Batu Kapal) ini semakin berkembang. Tak hanya sebagai ajang melepas hobi bagi para pemain dewasa, namun juga membuka kesempatan latihan bagi petenis muda untuk regenerasi kedepannya. Bahkan tenis junior Natuna pernah ikut serta dalam ajang Batam Tennis Junior Open pada tahun 2005. Dan pada tahun yang sama, salah satu atlet tenis junior Natuna menjadi delegasi kontingen Provinsi Kepulauan Riau (kontingen peninjau) dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional 2005 di Medan.

Saya kembali mengingat, kala itu masih kelas 3 SD, papa mengajak saya ke lapangan tenis, bermain, dan kemudian dilatih oleh bang Yanto, lalu dilanjutkan oleh bang Udin. Pertengahan taun 2000an, Pengkab Pelti Natuna mendatangkan pelatih tenis junior nasional asal Pontianak, bapak Zulkarnain (pak Jul) untuk melatih para petenis junior Natuna. 

Latihan intens mulai dilakukan oleh pak Jul, metode pelatihan yang menyenangkan menarik banyak peminat petenis muda. Sayang, program ini tak bertahan lama. Pak Jul kembali ke Pontianak. Kepelatihan Tenis dilanjutkan oleh pak Rahman (alm), bang Kas, coach Nyat (Jamiat), dan lain-lain.

Kian hari, tenis di Natuna semakin banyak peminatnya, ia datang dari berbagai kalangan. Lalu agar terciptanya wadah tempat para petenis ini bernaung, akhirnya dibentuknya kepengurusan Pengkab PELTI Natuna dengan ketua pertamanya Darmansyah (alm). Pengurus PELTI pertama ini banyak melakukan kegiatan-kegiatan seperti tur persahabatan dengan Pengkot PELTI Pontianak, Kalimantan Barat, ikut serta dalam berbagai lomba tingkat provinsi, bahkan sampai ke negeri jiran, dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, pembinaan atlet muda juga terus dilakukan. 

Tim Tenis Natuna pada Porprov Kepri 2022 di Bintan

Tenis Natuna juga ambil bagian dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi Kepulauan Riau, dari edisi pertama tahun 2006, hingga yang ke V di tahun 2022 ini. Meski dengan prestasi yang naik turun, namun tenis Natuna sudah bisa unjuk gigi dalam beberapa ajang perlombaan. 

Ketua PELTI kedua adalah bapak Kamaruddin, yang menjadi plt Ketua Umum setelah bapak Darmansyah meninggal dunia. Lalu dilanjutkan dengan bapak Marsidi yang menjadi ketua Pengkab PELTI Natuna hingga tahun 2020. Tampuk kekusaan Pengkab PELTI Natuna berpindah dari bapak Marsidi ke bapak Iskandar Dj, sayang baru beberapa hari menjabat, beliau wafat secara mendadak karena serangan jantung. Ketua Umum Pengkab PELTI Natuna selanjutnya dipegang oleh Daeng Ganda Rahmatullah untuk periode 2020-2025.

Pelantikan Penkab PELTI Natuna 2020-2025

Tuesday, October 11, 2022

Perkembangan Tenis di Indonesia Pasca Kemerdekaan: Cerita Tenis Lapangan

Lahirnya PELTI pada tahun 1935 merupakan salah satu "trik" pribumi dalam menghimpun masa untuk mencapai tujuan: kemerdekaan. Tahun-tahun awalnya diselimuti berbagai cobaan, mulai dari sistem organisasi, keanggotaan hingga intervensi dari "saudara tirinya" De Alegemeene Nederlandsche Lawn Tennis Bond (ANILTB). Namun hal tersebut bisa dilewati oleh PELTI, dan tenis terus mengalami perkembangan di tanah air.

Kurun waktu 1941-1949 merupakan tahun dimana PELTI vakum tak bergerak. Keadaan ini bukan hanya pada PELTI saja, hampir seluruh organisasi masa dan organisasi olahraga pada saat itu tidak aktif dalam pergerakannya. Tahun 1941 kolonial Belanda disibukkan dengan perang dunia kedua yang mulai memasuki area-area jajahannya. Tahun 1942-1945 tanah air disibukkan dengan penjajahan Jepang, penajajah dari Asia ini membubarkan semua organisasi dan membuat organisasi baru di bawah pengawasannya yaitu Tai Iku Kai (Persaudaraan Nippon-Indonesia), dimana organisasi ini membawahi semua sektor dan bidang yang ada, mulai dari sosial, politik, hingga olahraga.

Pada masa ini, Tai Iku Kai sempat dua kali menyelenggarakan turnamen tenis. Sementara kejuaraan tenis yang diinisiasikan oleh klub tenis lokal pun tersendat dikarenakan pasokan bola dan peralatan lain yang tidak memadai dan ditambahkan kesulitan ekonomi yang teramat sangat pada waktu itu. Pribumi pernah menginisiasikan Pembentukan Gerakan Latihan Olah Raga Rakyat (Gelora) pada ambang keruntuhan Jepang, tahun 1944, sebagai ganti Tai Iku Kai. Namun itu tak banyak menolong, pengaruh Jepang masih ada, berimbas pada tersendatnya perkembangan atlet-atlet tenis tanah air. 

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, perkembangan tenis di tanah airpun belum menampakkan eksistensinya. Ini dikarenakan tahun-tahun tersebut disibukkan dengan beberapa gerakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan setelah republik ini baru lahir.

Kegiatan olahraga mulai dibangkitkan pada 1947, dengan berlangsungnya Kongres Olahraga pada januari tahun itu. Salah satu keputusannya adalah: Gclora (pengganti Tai Iku Kai) warisan Jepang dibubarkan, dan Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) dinyatakan berdiri. Seluruh induk kegiatan olahraga, seperti PSSI, PAST (atletik), dan PELTI, dihidupkan kembali dan ditetapkan sebagai anggota otonom PORI. (PORI pada hakekatnya nama baru bagi Ikatan Sport Indonesia (ISI) yang berdiri tahun 1938, dan sekarang dikenal dengan KONI: Komite Olahraga Nasional Indonesia).

Pembukaan PON I di SOlo (foto: ANRI)

Tahun berikutnya, 1948, berlangsung Pekan Olahraga Nasional (PON) I, di Solo. Tenis termasuk cabang olahraga yang dipertandingkan. Meski PON pertama ini tak sempat menghadirkan sejumlah pemain tenis kawakan, tapi peristiwa tersebut merupakan titik tolak bangkitnya rasa kebersamaan dan persatuan, khususnya di kalangan olahragawan, termasuk di antara para petenis. Pertandingan tennis PON I menampilkan Toto Soetarjo dan Nyonya Soedomo sebagai juara tunggal putra dan putri. Sedang ganda putra dan campuran masing-masing direbut oleh pasangan Soejono/Toto Soetarjo dan Mapaliey/Nyonya Soedomo.

Di masa setelah proklamasi itu, Belanda masih ingin menanamkan pengaruhnya lewat tennis, tentu di daerah-daerah yang didudukinya. Mereka mendirikan organisasi baru yang Indonesian Lawn Tennis Association (ILTA). Sempat menyelenggarakan "Kejuaraan Indonesia" pada 1950 yang menjadi kejuaraan ILTA yang pertama dan terkahir. Dalam Kongres PELTI tahun 1951, ILTA meleburkan diri ke dalam PELTI. Rembukan peleburan itu dilakukan pada kesempatan berlangsungnya Kejuaraan PELTI di Semarang, 23 - 26 Maret 1951. 

Meleburnya ILTA ke dalam PELTI jelas lebih menguatkan tubuh pertenisan Indonesia. Sambil mengubah AD-ART sesuai dengan perkembangan zaman, PELTI mulai melebarkan sayapnya ke luar dengan mendaftarkan diri sebagai anggota International Lawn Tennis Federation (ILTF), yang bermarkas di Inggris.

PELTI mulai mengintip Wimbledon pada 1953, namun sayang petenis andalan Indonesia harus gugur pada putaran kedua saat menghadapi Belgia. Pada 1956 PELTI ikut serta diajang Interport Championship di Singapura. Pada kejuaraan yang diikuti pula oleh Malaya (sekarang Malaysia), Muangthai, dan Sri Langka itu, Indonesia menjadi juara setelah menundukkan Sri Langka 2-1 di final. Kejuaraan serupa berlangsung pada 1957, kali ini diikuti enam negara, 4 negara yang sudah pernah ikut sebelumya ditambah Hongkong dan Vietnam. Indonesia kembali menjadi juara dengan mengalahkan Malaysia di final dengan skor 2-1. Tahun-tahun berikutnya Indonesia absen, karena kesulitan biaya.

Tahun 1958 PELTI mengutus pemain-pemain terbaiknya untuk berlaga di Asian Games yang berlangsung di Tokyo. Kala itu PELTI mengirimkan Ny. Tity Pandji (Bandung), Vonny Djoa (Salatiga), serta Soegiarto dan Sie Kong Loen (Bandung).

PELTI telah melalui berbagai perkembangan zaman, Mulai dari masa kolonial hingga pasca kemerdekaan. Narmun dua yang paling penting diantaranya adalah keherhasilan menghancurkan dua organisasi tandingan. Pertama, ANILTB -yang paling bahaya- pada 1939, dan kemudian ILTA pada 1951. Maka sikap pantang menyerah yang menyertai keberhasilan itu tampaknya telah menjadi semboyan PELTI: Pantang Surut.

Tan Liep Tjiaw (kiri) (sumber: ayobandung)

Untuk pertama kalinya, pada 1961 PELTI mengikuti turnamen antarnegara paling gengsi, yakni Piala Davis. Pada babak pertama yang berlangsung di Bandung, regu Indonesia yang mengandalkan Tan Liep Tjiauw, Itjas Sumarna, Sugiarto, dan Sie Kong Loen harus menghadapi regu India yang terkenal tangguh. Maka Tan dan kawan kawan harus menelan kekalahan 1-4 dari para pemain kelas dunia India yang terdiri dari Krisnan, Mukerjee, dan Lill. Pertarungan memperebutkan Piala Davis beberapa tahun berikutnya Indonesia absen, antaranya karena tersandung anggaran.

Tahun-tahun berikutnya PELTI memang berada dalam masa-masa sulit dengan alasan sangat klasik: anggaran. Berbagai turnamen diselenggarakan seadanya. Kesejahteraan atletpun kurang diperhatikan. Ironisnya, pemerintah menyelenggarakan dua pesta olahraga yang bersifat regional dan internasional. Pertama, Asian Games IV, 24 Agustus - 3 September 1962, di Jakarta. Kedua, Ganefo I, 10-21 November 1963 juga di Jakarta. Yang paling kontroversial adalah Komando Presiden Soekarno (Putusan Presiden No. 263 tahun 1963) tentang peningkatan prestasi para atlet sehingga dalam masa 10 tahun Indonesia mampu mencapai peringkat ke-10 di dunia (the best ten in the world).

Asian Games IV dan Ganefo I

Dalam Pesta Olah Raga Asia (Asian Games) IV di Jakarta, regu tenis Indonesia juga kurang berhasil. Cabang Tenis hanya mampu menyumbang medali perunggu di nomor beregu, tunggal putri, dan ganda campura. Pun begitu juga dalam ajang Ganefo I, yang lebih bersifat manuver politik ketimbang kegiatan olahraga, atlet-atlet tenis Indonesia hanya bisa membawa pulang perunggu di nomor regu putra dan putri.

Pada saat berlangsung Genefo inilah Tan Liep Tjiauw sang raja tumamen nasional, meninggal dunia secara mendadak. PELTI terhenyak oleh kehilangan petenis yang terkenal dengan drive forehand topspin yang mematikan ini.

Namun, dalam keadaan bagaimana pun, PELTI rupa-rupanya benar-benar pantang surut. Justru dalam masa sulit ini lahir sejumlah bintang remaja lahir, mereka diantaranya Sie Nie Sie, Sugiarto, Go Soen Liouw, Diko Moerdono (putra), Lita Liem, Lanny Kaligis, dan Dien Baroto (putri). Merekalah yang waktu itu diharapkan menjadi cikal bakal petennis Indonesia di kemudian hari. 

Lanny Kaligis

PELTI mencapai masa keemasannya pada kurun 1966-1987, sebagai hasil pembinaan yang dilakukan pada era 1961-1965, baik dari segi organisasi maupun prestasi di lapangan. Ditopang oleh keberhasilan pcmbangunan sejak Orde Baru berkuasa, tenis lapangan dan PELTI sudah mencapai ke pelosok yang terjauh dari awalnya perkembangannya di Jawa. Semakin banyak lahir para petenis dari luar Jawa dimana itu merupakan hal yang langka di masa penjajahan dan awal kemerdekaan. Hal itu bisa dilihat melalui ajang PON dihelat pemerintah Indonesia. Di sinilah pentingnya peran PON, yang dicetuskan pertama kali di Solo, 1948.

Pada PON-PON berikutnya -dari PON II di Jakarta, 1951, hingga PON XI di Jakarta 1985 (kecuali PON VI di Jakarta yang gagal karena meletusnya G30S/PKI 1965)- dominasi petenis dari Jawa memang terlihat. Namun dalam jangka waktu itu, rangkaian PON telah menampilkan sejumlah petenis luar Jawa yang berkualitas. Misalnya Sofyan Mudjirat, Suwito dan Chr. Budiman (Suma­tera Utara), Iskandar Kita dan Ilsyas Mapakaya (Sulawesi Selatan), Alex Karamoy, Eddy Baculu dan Alfred Raturangtang (Sulawesi Utara). Ini di kelompok putra. Di kelornpok putri, tercatat nama Ny. Sulastri (Kalimantan Selatan), Letsy Mantiri (Sulawesi Selatan), dan Yova Sumampou (Sulawesi Utara).

Semua keberhasilan ini tentunya dimungkinkan karena tersedianya sarana dan prasarana bagi peningkatan prestasi, yaitu terselanggaranya pertandingan secara teratur. Berbagai jenis pertandingan yang diadakan itu terdiri dari pertandingan antarpetenis atau antarklub dari jenjang paling bawah, meningkat ke antar wilayah, Ialu berlanjut ke tingkat nasional, dan kemudian di tingkat regional dan internasional. Kegiatan pertandingan menjadi kian padat, karena berbagai event tingkat junior pun mulai tampil ke permukaan. Inilah yang disebut keberhasilan di bidang organisasi.

Ditingkat Internasional, pada masa 1966-1987 ini tenis Indonesia mencatat berbagai prestasi yang membanggakan. Era inilah Indonesia berhasil menjadikan dirinya salah satu dari 4 besar bersama India, Korea Selatan, dan Cina.

Dalam lingkup Regional, awal era emas mulai dicanangkan oleh petenis putri Lanny Kaligis, Liem, dan Mien Suhadi di Asian Games 1966, Bangkok, Muangthai. Para Srikandi generasi baru pertenisan Indonesia itu menyabet emas di nomor beregu, di samping tunggal dan ganda putri masing-masing atas nama Lanny Kaligis dan Lanny Kaligis/Lita Liem. Prestasi juga diraih diberbagai kejuaraan nasional di Srilangka. Malaysia, dan Singapura. Berikutnya disejumlah kejuaraan regional dan nasional di Australia, Eropa dan Australia, dijadikan wadah peningkatan prestasi dan raihan pengalaman.

Lita Sugiarto (tengah), (sumber)

Pada 1969 para Srikandi Tenis Indonesia ini ikut serta ke Turnamen Womens's Federation Cup di Athena, Yunani. Di babak pertama mereka mencukur gandul 3-0 regu tuan rumah kendati kemudian diganyang sama telaknya oleh regu Belanda. Dan pada 1970 tim tenis Putri Indonesia juga gugur ketika bertanding di Feiburg, Jerman.

Dalam kurun 1970an, tepatnya pada masalah keorganisasian, terjadi perubahan nama pada organisasi induk tenis sedunia. Tahun 1977 International Lawn Tennis Association (ILTF) merubah namanya dengan menghilangkan kata "lawn" dengan pertimbangan perkembangan tenis sudah sedemikian pesatnya sehingga permainan tenis tak hanya dimainkan di lapangan rumput saja. Hal tersebut juga berimbas pad PELTI, namun tak begitu signifikan. PELTI hanya merubah kepanjangannya dari Persatua Lawn Tennis Indonesia, menjadi Persatuan Tenis Lapangan Indonesia. Alasan mengubah kepanjangan federasi dengan tetap menggunakan singkatan PELTI adalah untuk menjaga nilai historis yang sudah berlangsung sejak masa-masa awal pembentukannya.

Ketika prestasi Lita Liem alias (Nyonya) Lita Sugiarto dan rekan-rekan mulai terkesan menurun, para petenis putra Indonesia bagai terlecut. Dan ini mendorong mereka mencetak prestasi. Kuartet Atet Wiyono, Gondowijoyo, Hadiman, dan Yustejo Tarik (putra tokoh tua Mohammad Yusuf Tarik) berhasil dengan baik meneruskan tradisi emas di Asian Games  VIII tahun 1978 di Bangkok, Muangthai. Di sini mereka merebut seluruh medali emas yang diperebutkan pada cabang tenis bagian putra, untuk nomor beregu. tunggal (Atlet Wiyono), ganda (Atet Wiyono/Gondowijoyo).

Tim Tenis Indonesia saat memborong semua emas di Asian Games VIII Bangkok (sumber)

Pun pada Asian Games berikutnya, 1982, di New Delhi, India, para putra Indonesia masih memperlihatkan keunggulannya. Pada kesempatan kali ini, mereka merebut dua medali emas di nomor beregu (Yustedjo Tarik, Tintus Wibowo, Hadiman, Wailan Walalangi) dan partai tunggal (Yustedjo Tarik).

Tradisi medali emas dan juara masih dipegang cabang olahraga tenis tanah air di beberapa ajang, baik regional maupun internasional. Asian Games, Sea Games, Federasi Cup hingga Davis Cup. Ada dua catatan penting dari era keemasan tenis Indonesia ini. Pertama, keberhasilan regu Piala Davis Indonesia dalam final Zona Timur yang berlangsung di Senayan, Jakarta. Terdiri dari Yustedjo Tarik, Atet Wiyono, Tintus A.W, Hadiman, dan Wailan Walalangi. Anak-anak PELTI itu menghancurkan regu I Jepang dengan telak : 5-0. Keberhasilan Ini tak urung menempatkan Indonesia sebagai negara elite tennis, masuk jajaran 16 negara tenis dunia. Ini berarti sejajar dengan raksasa tennis dunia: Amerika Serikat, Swedia, Australia, India, Prancis, dan sebagainya.

Tim Davis Cup Indonesia (sumber: ayotenis)

Peristiwa penting kedua yang juga harus dicatat dengan tinta emas adalah, keberhasilan petenis Indonesia di SEA Games 1987 di Jakarta. Regu Indonesia (Tintus A.W, Wailan Walalangi, Suhayadi, Abd. Kahar MIM, serta Suzanna Anggarkusuma, Yayuk Basuki, Agustina,Wibisono dan Tanya Soemarno) berjaya menyapu bersih seluruh tujuh mendali emas yang diperebutkan - sapu bersih seluruh tujuh emas yang pertama dalam sejarah SEA Games. Melengkapi prestasi ini, Tintus membukukan pula dua kali juara SEA Games (Bangkok dan Jakarta), sedang Yayuk Basuki (17 tahun waktu itu) mencetak rekor sebagai juara termuda sepanjang riwayat Sea Games.

Pada ajang Federasi Cup di Montreal, Kanada, regu putri kita yang tcrdiri dari Suzanna Anggarkusuma, Yayuk Basuki, dan Waya Walalangi, berhasil menempatkan diri di babak perempat final. Sukses ini mcnghasilkan jatah "tiket" untuk satu pemain di cabang tennis Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan.

Suzzana dan Yayuk (sumber)

Indonesia semakin menampakkan taringnya pada cabang tenis. PELTI membidik Grand Slam Tour Junior yang mana pada Rolland Garros, Yayuk Basuki sampai ke perdelapan final. Dan di Kejuaraan Junior Belgia (Grup 2 ITF), Yayuk Basuki berhasil menjadi juara tunggal putri.

Tenis Junior Indonesia selanjutnya diarahkan ke Wimbledon, yang telah lama menjadi kiblat para petenis dunia. Yayuk Basuki, yang terkirim, di babak pertama mengalahkan petenis utama Amerika Nicola Arent yang diunggulkan di tempat ke-l0 dengan skor 7-6 (9-7), 6-1. Sayang, pada penampilan berikutnya, Yayuk terjegal petenis muda dari Uni Soviet berperingkat dunia WTA.

Dari beberapa prestasi dan beberapa perjalanan sejarah yang bisa diketahui. Maka dapat disimpulkan bahwa meningkatnya prestasi petenis tanah air tak lepas dari sarana dan prasarana pendukung. Meski sempat didominasi oleh petenis Jawa, ajang PON telah membuka mata bahwa sumber daya manusia Indonesia ini sangat besar. Petenis-petenis tangguh tanah air banyak lahir dari berbagai tempat di nusantara yang telah ikut serta mewarnai dunia pertenisan tanah air.

Yayuk Basuki (sumber: instagram)

Tahun-tahun berikutnya tenis Indonesia tak lagi mengalami masa keemasan seperti dulu. Namun masih mempunyai nama yang patut diperhitungkan. Dewasa ini tenis sudah berkembang pesat bahkan hingga ke pelosok dan pulau-kecil. Semoga tenis Indonesia kembali berjaya dan bisa mengulangi masa keemasan yang pernah dicapai para legenda dulu.

 

 

 

 

Refrensi:
https://www.kompas.com/sports/read/2021/11/03/15400028/sejarah-tenis-lapangan--asal-usul-dan-awal-masuk-indonesia?page=all
https://kumparan.com/info-sport/itf-adalah-federasi-internasional-yang-menaungi-olahraga-apa-1xkk97xudlW/full
http://peltikrw.blogspot.com/2011/04/sejarah-pelti.html
https://towamatano.co.id/sejarah-singkat-persatuan-tenis-lapangan-seluruh-indonesia/

Monday, October 10, 2022

Masuknya Tenis di Indonesia, Berdirinya PELTI dan Perjalananannya Pada Masa Kolonial: Cerita Tenis Lapangan

Setelah populer pada penghujung abad 19, olahraga tenis terus berkembang saat memasuki abad 20. Perkembangan olahraga ini sudah hampir menyebar di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, negeri kita. Tenis masuk ke Indonesia (yang pada saat itu masih bernama Hindia Belanda) diperkirakan pada awal abad akhir abad 19 dan awal abad ke 20. Hal ini terlihat dari arsip dokumen Belanda di Tropen Museum yang memperihatkan anggota klub tenis Belanda di Surabaya. Keterangan dalam foto tersebut tertulis "orang Belanda di klub Tenis Surabaya 1895-1910".

Awal Tenis di Indonesia (sumber foto)

Sejauh ini ada dua versi mengenai masuknya tenis ke Hindia Belanda. Pertama adalah dibawa oleh orang Belanda yang kala itu menjajah Indonesia, dan yang kedua adalah dibawa oleh pelaut-pelaut Inggris yang lewat dan singgah di pulau-pulau Nusantara.

Pada awal 1920, tenis sudah berkembang di sekolah-sekolah elit di Jawa seperti Stovia, Rechrschool, dan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Olahraga tenis yang masih "dikuasai" oleh kalangan elit pada saat itu membuat hanya sedikit pribumi yang dapat kesempatan untuk mengayunkan raket tenis. Selebihnya dimainkan oleh Belanda dan kawan-kawannya. Siswa-siswi pribumi yang mendapat kesempatan belajar di sekolah elit tersebutlah yang menjadi "duta" tenis dalam mengenalkan olahraga ini ke kalangan yang lebih luas. Beberapa organisasi pemuda yang eksis kala itu kerap mengikut sertakan tenis dalam setiap kegiatan olahraganya. Dan menjadi salah satu olahraga penghimpun masa sehingga menjadi objek pengamatan bagi kaum nasionalis yang menginginkan bangsa ini merdeka.

Setelah peristiwa Soempah Pemoeda tahun 28 dengan ikrarnya yang melegenda itu, gerak-gerik pribumi semakin mendapat pantauan Belanda, baik yang bersifat non-politik, terlebih lagi yang bersifat politik. Atas dasar itu, beberapa orgnanisasi pemuda melebur menjadi satu dengan membuat organisasi bernama Indonesia Moeda, hasil dari Kongres Pemuda di Solo pada 28 Desember 1930-2 Januari 1931. Indonesia Moeda lahir berlatarbelakang dari larangan yang diberlakukan bagi beragam kegiatan yang mereka buat. Mereka berkeyakinan, hanya dengan menggerakkan aktivitas sosial masyarakat baru bisa dicapai persatuan seluruh rakyat menuju kemerdekaan. Di dalamnya juga termasuk kegiatan olahraga. Setiap pemuda yang sehat dan ingin sehat tentu menggernari olahraga, yang di dalamnya sportivitas dan sifat kompetitif merupakan satu sisi dari mata uang, dan pada gilirannya dapat membangkitkan patriotisme.

Sumber

Paralel dengan hal tersebut, tenis di Tanah Air terus berkembang dan mulai melahirkan pemain-pemain top dari kalangan pribumi. Hal ini terbukti dari kejuaraan Tenis Nasional yang diselenggarakan oleh De Alegemeene Nederlandsche Lawn Tennis Bond (ANILTB), organisasi Tenis milik Belanda. Kejuaraan yang diselenggarakan di Malang, Jawa Timur, pada akhir 1934 itu penuh dengan kejutan. Wakil pribumi yang ikut serta dalam kejuaraan tersebut secara mengejutkan "melumat habis" para penjajah dengan ayunan raketnya. Di partai tunggal putra, dua saudara Soemadi dan Samboedjo Hoerip maju babak final, yang pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Samboedjo. Dua partai berikutnya tak kalah menarik. Yang pertama, pasangan ganda putra Hoerip Bersaudara, menggilas pasangan Belanda, Bryan/Abendanon, 6-3, 6-4 di final. Juara ganda campuran juga diraih keluarga Hoerip, Samboedjo dan Soelastri berhasil mendepak pasangan “penjajah”, Bryan/Nn. Schermbeek, 6-4, 6-2 sekaligus mencetak gelar pemegang juara turnamen ANILTB tiga kali beruntun, tahun 1932-1934. 

Prestasi gemilang pribumi ini mendorong organisasi Indonesia Moeda mengadakan Kejuaraan Olahraganya sendiri. Kejuaraan ini dihelat setiap tahun bersempena dengan pertemuan tahunan Indonesia Moeda. Tenis juga mnejadi salah satu olahraga yang ditandingkan. 

Wanita bermain tenis (sumber: Leiden University Libraries)

Kejuaraan pertamanya dilaksanakan pada Desember 1935 di Semarang yang juga sekaligus menjadi saat dicetuskannya pembentukan Persatuan Lawn Tennis Indonesia (PELTI). Kejuaraan ini sendiri diprakarsai oleh dr. Hoerip yang diakui sebagai Bapak Tennis Indonesia. Ia menghimpun 70 petenis dari seluruh Jawa dalam turnamen itu. Pada momen langka itu, Mr. Budiyanto Martoatmodjo -seorang tokoh tenis dari Jember- menggagas pendirian organisasi yang menjadi wadah pecinta tenis di tanah air, utnuk selanjutanya disepakati dengan nama Persatuan Lawn Tennis Indonesia.

Kejuaraan itupun dipantau dan mendapat perhatian serius dari kolonial Belanda. Itu tercermin dengan dimuatnya peristiwa penting bagi olahraga tennis tersebut dalam surat kabar De Locomotif 30 Desember 1935 dengan Judul yang kalau diterjemahkan berbunyi : “Kejuaraan Tenis Seluruh Jawa dari Persatuan Lawn Tennis Indonesia”. Berita ini secara tidak langsung juga merupakan pengakuan Belanda bahwa ANILTB telah mendapatkan saingannya. 

Mr. Boedijarto Martoatmojo yang kemudian dianggap sebagai pencetak dasar utama pendirian organisasi PELTI, menguraikan azas dan tujuan pendirian organisasi tersebut. Ia mengatakan bahwa PELTI sebagaimana organisasi kebangsaan lainnya, sama sekali tidak mengasingkan diri. Tujuan praktis utama PELTI adalah mengembangkan dan memajukan permainan tennis di tanah air dan bagi bangsa sendiri. PELTI juga akan menyebarluaskan peraturan permainan, memberi keterangan dan bantuan dalam pembuatan lapangan tennis. Juga mengadakan dan mengatur serta menyumbang bagi terlaksananya pertandingan, di samping berusaha memasyarakatkan permainan tenis itu sendiri.

Gagasan pendirian PELTI ini mendapat dukungan yang memadai, khususnya pada kalangan yang berani mengambil resiko berhadapan dengan pemerintah kolonial, termasuk dari kalangan yang terpandang. Di Semarang saja, para simpatisan semacam itu tidak sedikit jumahnya. Misalnya: Dr. Boentaran Martoatmodjo, Dr. Rasjid, Dr. Mokhtar, Dr. Sardjito, R.M. Soeprapto, Nitiprodjo, dan beberapa lainnya. Dari Para tokoh berbagai kota Iainnya seperti: Mr. Boedhijarto Martoatmodjo (Jember), R.M. Wazar (Bandung), Djajamihardja (Jakarta), Mr. Susanto Tirtoprojo (Surabaya), Mr. Soedja (Purwokerto), serta Mr. Oesman Sastroamidjojo, ahli olahraga tennis yang namanya terkenal di Eropa.

Sejatinya, gagasan dari dr. Hoerip tentang pembentukan PELTI sudah ada sejak 1930 (tahun dimana PSSI terbentuk). Namun pengalaman pahit pada saat-saat pendirian PSSI tampaknya menjadi cermin pembanding bagi para pelopor PELTI, hingga mereka memilih bersikap Iebih hati-hati menghadapi reaksi pemerintah Belanda yang tidak senang melihat setiap kegiatan yang bersifat mempersatukan kekuatan. Para pendiri PELTI tidak Ingin organisasi yang akan mereka dirikan mati dalam kandungan. Itulah sebabnya PELTI baru berdiri lima tahun kemudian, tahun 1935. Dan tanggal 26 Desember 1935 ditetapkan sebagai hari lahirnya PELTI (Persatuan Lawn Tennis Indonesia).

Logo PELTI

Mr. Boedijarto Martoatmojo ditunjuk sebagai ketua PELTI pertama. Namun karena ia tinggal di Jember dan pusat PELTI ada di Semarang, tampuk kekuasaan PELTI ia serahkan kepada saudaranya Dr. Boentaran Martoatmodjo yang menjadi ketua PELTI 5 tahun berturut-turut sejak 1935.

Berkembang pesatnya PELTI membuat "saudaranya" merasa sangat tersaingi. ANILTB mencari berbagai macam cara agar PELTI bisa tunduk di bawahnya, salah satunya adalah dengan cara memaksa PELTI untuk bergabung dengannya. Bahkan dengan nada yang mengancam keselatan dan keberlagsungan PELTI itu sendiri. Hal itu terjadi pada kejuaraan PELTI di Yogyakarta pada 1937. Ancaman ini sempat menggoyahkan organisasi tennis Indonesia itu, sampai lahir usul agar diadakan scmacam gentlemen's agreement (perjanjian persahabatan). Tapi usul itu ditentang keras oleh PELTI.

Dalam keadaan demikian, PELTI tidak ingin gegabah dalam melangkah. PELTI memilih menggeser waktu pertandingan tahunannya, dari hari-hari Libur Natal (Desember) ke hari liburan Paskah (April). Dengan demikian, mereka menghindari hentrokan dengan ANILTB. Hal tersebut mulai dilakukan PELTI saat merayakan lustrumnya yang pertama, april 1939 sekaligus berlangsungnya kongres pertama PELTI di Bandung.

Paralel dalam kurun waktu sebelum 1939, banyak klub-klub tenis daerah yang berdiri dan eksis. Persatuan Tenis Indonesia Bandung (PTIB) berdiri, begitupun di Jakarta. Klub-klub tenis ini tentunya diisi oleh pribumi tanah air dengan prestasi yang tak kalah dibanding dengan penjajahnya. Bahkan bisa membuat kejuaraan-kejuaraannya sendiri. Hadirnya mereka seakan menjadi saingan dari organisasi tenis ciptaan kolonial seperti Bandoengsche Tennis Unie (BTU), Kedirische Tennisbond, dan lain lain. 

Pada Kongres Pertama ini, tema keanggota menjadi objek serius yang didiskusikan. Sebab meski "sekandung" PELTI dan PSSI memiliki perbedaan saat pendiriannya. PSSI berdiri atas dasar perwakilan kelompok-kelompok sepakbola. Sedangkan PELTI atas dasar perorangan. Hal keanggotaan itu sempat dimanfaatkan oleh kolonial Belanda melalui ANILTB untuk melakukan politik pecah belahnya. Namun, sekali lagi sejarah membuktikan bangsa kita adalah bangsa yang kuat, hampir di segala lini, termasuk olahraga. Setelah keanggotaan ditetapkan, PTIB adalah anggota resmi PELTI yang pertama.

Kejuaraan Tenis Nasional di Bandung pun kembali menjadi sorotan Belanda. Tuan Janz, ketua Bandoengsche Tennis Unie (BTU) yang menyaksikan turnamen di Bandung atas undangan, menyarankan kepada ANILTB agar mengakui PELTI sebagai induk organisasi tenis, sehingga dapat berjalan berdampingan dalam suasana yang bersahahat. Dengan harapan berbagai turnamen ANILTB tidak akan ditinggalkan para pemain Tanah Air. Saran itu diikuti oleh ANILTB, selain karena saran Janz, kemungkinan juga karena kondisi politik saat itu, yang jelas ANILTB tak lagi mengintervensi petenis tanah air dan PELTI.






Refrensi:

https://www.kompas.com/sports/read/2021/11/03/15400028/sejarah-tenis-lapangan--asal-usul-dan-awal-masuk-indonesia?page=all
https://kumparan.com/info-sport/itf-adalah-federasi-internasional-yang-menaungi-olahraga-apa-1xkk97xudlW/full
http://peltikrw.blogspot.com/2011/04/sejarah-pelti.html
https://towamatano.co.id/sejarah-singkat-persatuan-tenis-lapangan-seluruh-indonesia/