Monday, February 15, 2021

Desa Tanjung Batang, Misteri Meriam Belanda dan Makam Tua

Perjalanan kami di Pulau Sabang Mawang masih berlanjut. Setelah dari Desa Serantas, tujuan kami berikutnya adalah menuju Desa Tanjung Batang. Desa Tanjung Batang merupakan tetangga Desa Serantas, letaknya di sisi bagian barat dari Pulau Sabang Mawang, jarak dari Desa Serantas berkisar antara 7 - 10 km.

Di Pulau Sabang Mawang, Desa Tanjung Batang merupakan desa dengan wilayah terluas. Hampir separuh pulau Sabang Mawang menjadi milik Desa Tanjung Batang. Wilayah yang luas ini menjadikan Desa Tanjung Batang memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan. Selain wisata bahari yang memang menjadi unggulan di Natuna, ada hal lain yang sangat potensial : wisata budaya dan sejarah.
Lokasi Desa Tanjung Batang

Masih dalam rangka kolaborasi dengan TV Desa Natuna. Dalam pengambilan-pengambilan gambar untuk keperluan video, tibalah kami di SDN 002 Tanjung Batang dan di sambut oleh kepala sekolahnya. Setelah bincang singkat, beliau langsung menunjukkan lokasi kuburan tua tepat berada di belakang SD tersebut. Dari sini petualangan dimulai.

Kuburan tua yang ditunjuk oleh kepala sekolah tadi berjumlah dua buah, besar dan kecil. Nisannya terbuat dari batu karang dengan motif ukiran yang indah. Dilihat dari nisannya, ini bukan kuburan orang sembarangan. Beberapa peneliti sudah banyak datang kesini, baik dari daerah hingga pusat. Namun belum ada publikasi dari hasil penelitian atau kunjungan mereka (belum ada di google saat saya gugling). Dua makam tua ini juga masih simpang siur siapa pemiliknya, apakah suami istri, atau orang tua dan anak, karena ukurannya yang berbeda.


Situs Makam Tua Tanjung Batang (Belakang SD)


"Silahkan ke Haji Darman, untuk mengetahui info lebih lanjut tentang makam tua ini" Begitu kira-kira kata kepala SD 002 ketika kami bertanya tentang siapa "juru kunci" daerah ini.



Tak jauh dari SD, ada Masjid Al-Qiam yang merupakan masjid besar tertua di pulau ini. Bentuknya sudah modern, terlihat sudah beberapa kali mengalami renovasi. Di halaman masjid ada meriam berwarna kuning dengan panjang kurang lebih 1 meter yang mengarah ke pulau Tanjung Kumbik. Diameter ujung meriam berkisar 10 cm. Belum ada informasi detail mengenai meriam ini.

Kemudian kami menuju kekediaman bapak Haji Darman, alhamdulillah beliau ada di rumah dan menyambut kami dengan kopinya. Kedatangan kami selain untuk menanyakan perihal makam tua di dekat SD, juga memohon ijin untuk menelusuri makam-makam tua yang lain yang terletak di lokasi terpisah. Informasi tentang banyaknya makam tua ini kami dapati dari orang-orang desa, dan juga hasil diskusi dengan bidang kebudayaan disparbud Natuna via telepon. Dari pak Haji Darman pula kami bertanya banyak hal, termasuk tentang asal-usul dan cerita rakyat yang ada di sekitar Tanjung Batang ini.

Meriam di Masjid Al-Qiam

Beliau menceritakan tentang meriam di masjid Al-Qiam. Itu meruakan meriam peninggalan Belanda. Pada masa dahulu, meriam tersebut tersimpan di dalam masjid, dan digunakan untuk memberi tanda masuknya 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Posisi Masjid Al-Qiam di Tanjung Batang merupakan posisi yang strategis, jadi saat meriam dibunyikan, bunyinya terdengar hingga kampung Balai (Sabang Mawang), Teluk Melam, Serantas, hingga Kampug Batu Karut yang terletak di pulau Tanjung Kumbik di seberang. Setelah penduduk ramai dan technologi berkembang, barulah meriam itu "diistirahatkan".

Setelah dari kediaman pak Haji Darman, kami menuju ke lokasi makam tua di Aek Book dan Aek Nuse. Letak kedua daerah ini berdekatan. Dari jalan raya kita harus berjalanan kaki menuju lokasi ini. Kami didampingi oleh pak RT dan pak RW wilayah setempat untuk mengunjungi situs ini. Situs makam tua di Aek Book dan Aek Nuse juga memiliki karakteristik yang sama, badan dan nisan makam terbuat dari batu karang yang diukir dan menghadap kearah kiblat. Makam di Aek Nuse merupakan makam Tok Sirat, begitu kata pak Haji Darman menceritakan.
Situs Makam "Datuk Sirat" Aek Nuse

Situs Makam Aek Book

Situs makam tua berikutnya adalah di Semubon. Semubon terletak di wilayah selatan Tanjung Batang, jika dari Tanjung Batang, wilayah Semubon terletak di antara Botu Bulot dan Telok Melam. Ke lokasi ini, kami ditemani oleh bang Sup, pemuda Desa Tanjung Batang. Letak makam tua situs Semubon tak jauh dari jalan raya, hanya tertutup semak belukar saja mengharuskan kita jeli untuk mencarinya. Sama seperti makam-makam sebelumnya, situs makam Semubon terdiri dari satu buah makam saja dengan badan dan nisan kuburan terbuat dari batu karang yang diukir.
Situs Makam Semubon

Perjalanan kami berlanjut ke situs makam terakhir yang diketahui. Situs makam di Kampung Baru, letaknya di lereng bukit belakang Sanggar Seni Desa Tanjung Batang. Disini terdapat dua makam yang terpaut jarak kurang lebih 20 meter. Kami ditemani oleh pak RT kampung baru untuk mencapai lokasi ini. Makam tua yang juga mirip dengan makam-makam tua sebelumnya. Sebelum turun, pak RT menunjukkan satu situs lagi yang ia pun tidak tahu itu apa, jaraknya sekitar 50 meter dari situs makam tua di kampung baru, masih di lereng bukit. Bentuknya adalah tumpukan-tumpukan batu yang ditandai dengan batu hitam di atasnya. Kami belum dapat info lebih rinci tentang "situs" ini.


Situs Makam Kampung Baru

Total ada 7 makam tua dengan karakteristik yang hampir sama, dengan jarak yang berbeda-beda. Semua makam mengarah ke kiblat, badan dan nisan makam terbuat dari batu karang yang diukir dengan motif yang sama. Entah mengapa, saya sangat yakin, masih ada makam-makam tua yang tersebar di sekitar Desa Tanjung Batang ini. Kurangnya publikasi dan refrensi menghasilkan beberapa tanya yang ada dibenak kami. Info satu-satunya sejauh ini yang kami dapati adalah, bentuk nisan seperti ini, hampir menyerupai yang ada di Segeram (Natuna), Cirebon, dan Sulawesi.

Siapa pemilik makam tua ini? siapa pengukir makamnya? berapa tahun usianya? mengapa letaknya terpisah-pisah meski memiliki karakteristik yang sama?

Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang kami belum tau untuk mencari jawabannya kemana. Semoga kelak misteri makam tua Tanjung Batang ini segera terpecahkan. Yang perlu menjadi catatan adalah kurangnya perawatan akan makam-makam tua ini. Dari 7 makam, hanya situs di belakang SDN 002 saja yang dipugar, diberi atap. Sisanya masih tertutup semak belukar, bahkan ada yang sudah patah terbelah dua, nisan yang tercabut, ada pula yang hancur. 

Harap kami ada perhatian khusus untuk situs makam-makam tua ini. Akses menuju lokasi dan sekiranya di sekitar lokasi bisa dibuat indah, sehingga orang-orang bisa berkunjung tanpa kesusahan. Makam-makam tua ini disinyalir berusia ratusan tahun, dan sangat potensial untuk dijadikan penelitian tentang sejarah masa lalu yang terjadi di Tanjung Batang khususnya, dan Natuna, umumnya.

No comments:

Post a Comment