Friday, September 14, 2018

Sejarah Tarakan, dari "Pulau Singgah" hingga Kota Minyak

Merantau, menjadi sebuah tradisi bagi keluarga kecil kami. Dimulai dari kakak yang sudah merantau dari SMA, sementara saya dan adik mulai meninggalkan kampung halaman saat akan berkuliah. Dalam beberapa kesempatan, hanya tiap lebaran idul fitri saja kami berkumpul lagi. Setelahnya lanjut merantau lagi.

Seperti yang pernah saya katakan. Menjadi perantau itu ngeri-ngeri sedap. Namun bila kita bisa membawa diri, maka itu akan jadi hal yang mengasyikkan. Bisa bertambah wawasan, teman dan pengalaman hidup. Setelah hampir 3 tahun di Balikpapan. Kali ini saya dirotasi perusahaan tempat saya bekerja ke Tarakan, sebuah Kota dan Pulau kecil yang berada di Provinsi Kalimantan Utara. Nah kali ini, saya akan mengulas tentang sejarah Tarakan, sebuah tempat yang baru 2 bulan saya tempati.

Tarakan........
Tarakan merupakan nama dari sebuah pulau sekaligus satu-satunya daerah tingkat II (kotamadya) yang ada di Provinsi Kalimantan Utara (Kal-Tara), provinsi termuda nan kaya raya di Indonesia. Dan Tarakan pun merupakan kota terkaya ke 17 di Indonesia. Luas kota dengan semboyan BAIS (Bersih, Aman, Indah, Sehat dan Sejahtera) ini kurang lebih 250 km persegi. Kota Tarakan juga disebut dengan Bumi Paguntaka, yang berarti "Kota Kita", diambil dari bahasa Tidung. Suku Tidung merupakan suku asli yang mendiami pulau Tarakan.

Tarakan juga dikenal sebagai Kota Transit. Banyak orang yang singgah ke Tarakan untuk melanjutkan perjalanan ke Nunukan, Bunyu, Tanjung Selor, Derawan bahkan ke Tawau (Malaysia). Berstatus sebagai kota transit bukanlah tanpa alasan, fasilitas-fasilitas pendukung memang tersedia di Tarakan, seperti bandara Internasional dan pelabuhan internasional. Status kota transit juga dimanfaatkan oleh pebisnis-pebisnis hotel. Banyak terdapat penginapan dengan berbagai kelas di Tarakan ini.

Sama seperti Balikpapan, Tarakan sepertinya juga pantas menyandang julukan Kota Minyak. Ada ratusan sumur tua di sini yang sudah dieksplorasi dari tahun 1900an awal sejak era Hindia Belanda. Perusahaan besar migas juga menginvestasikan assetnya disini seperti Pertamina EP, Medco EP, dan Manhattan Kalimantan Investment (MKI). Tak hanya migas, Perusahaan Tambang, Sawit, Kayu dan Pelayaran juga banyak terdapat di sini.  Yap, Tarakan seperti jantungnya industri untuk wilayah Kalimantan Utara, ditunjang dengan fasilitas-fasilitas yang memadai.
Lambang Kota Tarakan, via wikipedia

Asal Usul Nama Tarakan
Menurut beberapa sumber yang saya temukan saat googling, asal mula nama Tarakan berawal dari Bahasa Tidung, Turakon. Dikisahkan dulu ketika para saudagar mengunjungi warga masyarakat Tidung. Terjadilah miskomunikasi, lantaran sama-sama tidak saling mengerti komunikasi akhirnya hanya menggunakan bahasa isyarat saja. Suatu saat, sang tuan rumah (orang Tidung) mengajak tamunya untuk makan, karena sulitnya menyebutkan “Mari makan”, maka sang tuan rumah mengatakan dengan bahasa Tidung, ”Ngakan”.

Ajakan makan tadi tidak mendapat respon dari sang tamu karena tak paham. Padahal sudah berulang kali di sebut sang tuan rumah tapi sang tamu hanya senyum-senyum saja. Akhirnya karena sudah kesal sang tuan rumah menawarkan makan dengan kata lain “Ngenturak”. (Ngenturak merupakan sebuah umpatan atau bahasa kasar sebagai tanda kekesalan). Lucunya, dengan nada umpatan yang diucapkan tuan rumah dengan nada keras, justru sang tamu malah tertawa. Melihat tamu tertawa sang tuan rumah semakin berang seolah mengejek tuan rumah. Karena saking kesalnya, muncullah kata-kata lebih kasar lagi sambil membentak tamunya tadi “Turakon”.

Komplek Rumah Adat Baloy Suku Tidung
Dengan bentakan tadi sang tamu kemudian mengingat-ingat kata “Turakon” itu. Lalu ketika para tamu itu tadi kembali dan berkumpul dengan teman-teman lainnya sesama pendatang, ia malah menyebut dari “Turokan”. Akhirnya kata Turakon menjadi santer bagi para pendatang termasuk para saudagar dari kolonialis Belanda. Lama kelamaan kata Turakon ini mengalami beberapa perubahan lafal, tergantung siapa yang mengatakannya baik warga setempat maupun pendatang. Ketika itu Adji Raden yang menjadi pimpinan masyarakat tidak setuju dan akan meluruskan Turakon yang terbilang kasar itu. Dan Adji Raden lah yang mengubah nama itu menjadi Tarakan.

Cerita lain mengatakan juga bahwa Tarakan berasal dari dua kata bahasa Tidung, Tarak” (bertemu) dan “Ngakan” (makan) yang secara harfiah dapat diartikan "Tempat para nelayan untuk istirahat makan, bertemu serta melakukan barter hasil tangkapan dengan nelayan lain".


Tarakan dari Masa ke Masa 
  • Kerajaan Tidung Kuno (1076 - 1557 M)
    • Kerajaan Tidung atau dikenal pula dengan nama Kerajaan Tarakan (Kalkan/Kalka) adalah kerajaan yang memerintah Suku Tidung di Kalimantan Utara. Ia berkedudukan di Pulau Tarakan dan berakhir di Salimbatu (Kabupaten Bulungan sekarang). Sebelumnya terdapat dua kerajaan di kawasan ini, selain Kerajaan Tidung, terdapat pula Kesultanan Bulungan yang berkedudukan di Tanjung Palas. Berdasarkan silsilah (Genealogy) yang ada, bahwa di pesisir timur Pulau Tarakan yaitu di kawasan Dusun Binalatung sudah ada Kerajaan Tidung Kuno (The Ancient Kingdom of Tidung), kira-kira pada tahun 1076-1156, kemudian berpindah ke pesisir selatan Pulau Tarakan di kawasan Tanjung Batu pada tahun 1156-1216, lalu bergeser lagi ke wilayah barat yaitu ke kawasan Sungai Bidang kira-kira pada tahun 1216-1394, setelah itu berpindah lagi, yang relatif jauh dari Pulau Tarakan ke daerah Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning, sekitar tahun 1394-1557, dibawah pengaruh Kesultanan Sulu.
    • Dari riwayat-riwayat yang terdapat dikalangan suku Tidung tentang kerajaan yang pernah ada dan dapat dikatakan yang paling tua di antara riwayat lainnya yaitu dari Kerajaan Menjelutung di Sungai Sesayap (kabupaten Tana Tidung sekarang) dengan raja terakhirnya bernama Benayuk. Kerajaan Menjelutung berakhir  karena ditimpa malapetaka berupa hujan ribut dan angin topan yang sangat dahsyat sehingga mengakibatkan perkampungan di situ runtuh dan tenggelam kedalam air (sungai) berikut sebagian warganya. Peristiwa tersebut dikalangan suku Tidung disebut Ghasab yang kemudian menimbulkan berbagai mitos tentang Benayuk dari Menjelutung. 
      Sejarah Kerajaan, via tirto.id
    • Dari beberapa sumber didapatkan riwayat tentang masa pemerintahan Benayuk yang berlangsung sekitar 35 musim. Perhitungan musim tersebut adalah berdasarkan hitungan hari bulan (purnama) yang dalam semusim terdapat 12 purnama. Dari itu maka hitungan musim dapat disamakan lebih kurang dengan tahun Hijriah. Apabila dirangkaikan dengan riwayat tentang beberapa tokoh pemimpin (Raja) yang dapat diketahui lama masa pemerintahan dan keterkaitannya dengan Benayuk, maka diperkirakan tragedi di Menjelutung tersebut terjadi pada sekitaran awal abad XI (tahun 1000an). Kelompok-kelompok Suku Tidung pada zaman Kerajaan Menjelutung belumlah seperti apa yang terdapat sekarang ini, sebagaimana diketahui bahwa dikalangan Suku Tidung yang ada di Kalimantan Timur dan Utara sekarang terdapat 4 (empat) kelompok dialek bahasa Tidung, yaitu Dialek bahasa Tidung Malinau, Tidung Sembakung, Tidung Sesayap, dan dialek bahasa Tidung Tarakan yang biasa pula disebut Tidung Tengara yang kebanyakan bermukim di daerah air asin. 
    • Dari adanya beberapa dialek Bahasa Tidung yang merupakan kelompok komunitas berikut lingkungan sosial budayanya masing-masing, maka tentulah dari kelompok-kelompok dimaksud memiliki pemimpin masing-masing. Sebagaimana diriwayatkan kemudian bahwa setelah Kerajaan Benayuk di Menjelutung runtuh maka anak keturunan beserta warga yang selamat berpindah dan menyebar kemudian membangun pemukiman baru. Salah seorang dari keturunan Benayuk yang bernama Kayam selaku pemimpin dari pemukiman di Linuang Kayam (Kampung si Kayam) yang merupakan cikal bakal dari pemimpin (raja-raja) di Pulau Mandul, Sembakung dan Lumbis. 
    • Berikut adalah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Tidung :
      1. Benayuk dari sungai Sesayap, Menjelutung (± 35 Musim)
      2. Yamus (Si Amus) (± 44 Musim)
      3. Ibugang (Aki Bugang)
      4. Itara (29 Musim)
      5. Ikurung (25 Musim)
      6. Ikarang (35 Musim), di Tanjung Batu (Tarakan)
      7. Karangan (± Semusim)
      8. Ibidang (± Semusim)
      9. Bengawan (± 44 Musim)
      10. Itambu (± 20 Musim)
      11. Aji Beruwing Sakti (± 30 Musim)
      12. Aji Surya Sakti (± 30 Musim)
      13. Aji Pengiran Kungun (± 25 Musim)
      14. Pengiran Tempuad (± 34 Musim)
      15. Aji Iram Sakti (± 25 Musim) di Pimping, Bulungan
      16. Aji Baran Sakti (± 20 Musim)
      17. Datoe Mancang ± 49 Musim)
      18. Abang Lemanak (± 20 Musim), di Baratan, Bulungan
      19. Ikenawai bergelar Ratu Ulam Sari (± 15 Musim)
  • Dinasti Tengara / Kerajaan Tarakan / Kerajaan Tidung (1557 - 1916)
    • Setelah Kerajaan Tidung Kuno runtuh akibat bencana alam yang dahsyat pada 1557. Maka bangkit lah setelah itu Kerajaan Tidung atau juga dikenal dengan Kerajaan Tarakan, dibeberapa sumber menyebutnya dengan Era Dinasti Tengara. Kerajaan / Dinasti ini berlokasi di kawasan Pamusian, Tarakan Tengah. Era bermulai pada tahun 1557-1916 Masehi, pemimpin pertamanya adalah Amiril Rasyid Gelar Datoe Radja Laoet pada tahun 1557 Masehi dan merupakan masa kejayaan Kerajaan ini. Era Datoe Radja Laoet berakhir pada tahun 1571. Dan diganti oleh penerus-penerusnya hingga 12 Raja. Raja yang terkenal adalah Raja Baki dengan gelar Datoe Adil yang memerintah selama 20 tahun (1896 - 1916). 
    • Pada masa pemerintahan Datoe Adil, saat itu Bumi Tarakan sudah "kedatangan" Belanda untuk mengeksplor minyak bumi di Tarakan. Kepemimpinan Datoe Adil dikenal arif dan bijaksana, serta tegas. Uniknya ia tidak ingin memungut pajak dari rakyat karena tak ingin membenani rakyatnya.
    • Namun karena campur tangan Belanda, akhirnya pada tahun 1916 Datoe Adil diasingkan ke Manado. Dua perdana menteri, Datu Jamalul (Adik Datu Adil) diasingkan ke Makassar dan Aji Maulana (Paman) diasingkan ke Banjarmasin. Tak hanya 3 orang pembesar kerajaan, 62 bangsawan juga diasingkan oleh Belanda ke Tanjung Selor (Kerajaan Bulungan). Pengasingan ini berdampak besar pada jalannya roda pemerintahan Kerajaan. 
    • Pusat Kerajaan yang berada di belakang stadion Datu Adil sekarang ini dihancurkan oleh Belanda. Kekuasaan akan wilayah Tarakan diambil alih oleh Kerajaan Bulungan dan Belanda. Belanda sepertinya memang berniat untuk menghapus habis Kerajaan Tidung di Bumi Tarakan.
      Selang 6 tahun setelah itu (1921), Datu Adil dan Aji Maulana dibawa ke Tanjung Selor Kesultanan Bulungan. Pada tahun 1922 Datu Adil meninggal dunia.

      Diasingkannya Raja Baki (Datoe Adil) pada tahun 1916 menandakan berakhirnya era Kesultanan / Dinasti Tengara di tanah Tarakan.
    • Raja-raja dari Dinasti Tengara
      1. Amiril Rasyid, Raja dengan gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)
      2. Amiril Pengiran Dipati I (1571-1613)
      3. Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)
      4. Amiril Pengiran Maharajalila I (1650-1695)
      5. Amiril Pengiran Maharajalila II (1695-1731)
      6. Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)
      7. Amiril Pengiran Maharajadinda (1765-1782)
      8. Amiril Pengiran Maharajalila III (1782-1817)
      9. Amiril Tadjoeddin (1817-1844)
      10. Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)
      11. Ratoe Intan Doera/Datoe Maoelana (1867-1896), Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana adalah putera Sultan Bulungan Muhammad Kaharuddin II
      12. Raja Baki dengan gelar Datoe Adil (1896-1916) 
  • Hindia Belanda (1916 - 1942)
  • Menara Pemboran oleh BPM di Tarakan, via wikipedia.org
    • Belanda dikatakan masuk ke Tarakan pada tahun 1896, dalam misi ekspansi dan mencari sumber daya alam. Setelah gencarnya pengeboran minyak yang dilakukan oleh Belanda di Nusantara sejak pemboran minyak pertama di Cibodas (Jawa Barat) dan pemboran besar-besaran di Langkat (Sumatera Utara), serta temuan minyak bumi yang besar di Kalimantan Timur, Belanda ternyata belum puas dan masih ingin mengeksplorasi minyak bumi di Hindia Belanda, dan Tarakan menjadi targetnya. Pada akhirnya ketenangan masyarakat Tarakan agak terganggu ketika pada tahun 1896, sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) menemukan adanya sumber minyak di pulau ini. Banyak tenaga kerja didatangkan terutama dari pulau Jawa seiring dengan meningkatnya kegiatan pengeboran. Permainan politik Belanda pun berperan penting dalam menghapus kedigdayaan Kerajaan Tarakan pada tahun 1916. Hingga Belanda menguasai sepenuhnya Tarakan mulai saat itu.
    • Mengingat fungsi dan perkembangan wilayah ini, pada tahun 1923 Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu untuk menempatkan seorang Asisten Residen di pulau ini yang membawahi 5 (lima) wilayah, yakni: Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan dan Berau. Belanda terus berada di Tarakan dan menyedot hasil minyak bumi hingga tahun 1942. Ketika Jepang memulai ekspansi mereka, Tarakan merupakan kota pertama di Hindia Belanda yang dijajah Jepang pada tahun 1942.
  • Pendudukan Jepang (1942-1945)
    • Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan pasukan Belanda yang kecil dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari dimana separuh pasukan Belanda gugur. Saat itu ladang minyak Tarakan berhasil disabotase oleh Belanda sebelum penyerahannya, namun Jepang bisa dengan cepat memperbaikinya agar bisa menghasilkan lagi dan 350.000 barel diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944. 
    • Menyusul menyerahnya Belanda pada Jepang, 5.000 penduduk Tarakan saat itu menderita akibat kebijakan pendudukan Jepang. Banyaknya pasukan Jepang yang ditempatkan di pulau ini mengakibatkan penyunatan bahan makanan yang berakibat banyak orang Tarakan yang kurang gizi. Selama pendudukan itu, Jepang membawa sekitar 600 buruh ke Tarakan dari Jawa. Jepang juga memaksa sekitar 300 wanita Jawa untuk bekerja sebagai "jugun ianfu" (wanita penghibur) di Tarakan setelah membujuk mereka dengan janji palsu mendapatkan kerja sebagai juru tulis maupun membuat pakaian.
    • Arti penting Tarakan bagi Jepang makin menguap dengan gerak maju cepat angkatan Sekutu ke daerah itu. Tanker minyak Jepang yang terakhir meninggalkan Tarakan pada bulan Juli 1944, dan serangan udara Sekutu yang hebat pada tahun-tahun itu menghancurkan produksi minyak dan fasilitas penyimpanan di pulau itu. Serangan ini juga membunuh beberapa ratus penduduk sipil Indonesia. Sejalan dengan kepentingannya yang makin menurun, pasukan Jepang di Tarakan berkurang pada awal 1945 saat salah satu dari 2 batalion infantri yang ditempatkan di pulau itu (Batalion Infantri Independen ke-454) ditarik ke Balikpapan. Batalion ini dihancurkan oleh Divisi ke-7 Australia pada bulan Juli selama Pertempuran Balikpapan.
Masa kependudukan Jepang di Tarakan

  • Negara Kesatuan Republik Indonesia
    • Setelah menyerahnya Jepang pada tahun 1945, Indonesia mengklaim kemerdekaannya. Lantas tak serta merta penjajah menerima hal itu. Berita tentang merdekanya Indonesia tak langsung menyebar keseluruh penuru Nusantara karena terbatasnya alat komunikasi. Di Balikpapan saja berita kemerdekaan dibawa oleh para pekerja minyak yang datang dari Jawa. Mungkin di Tarakan juga sama, hanya saya belum mendapat sumber jelasnya. Wilayah Tarakan berada dalam wilayah provinsi Kalimantan setelah merdekanya Indonesia. Lebih tepatnya lagi dibawah keresidenan Kalimantan Timur. 
    • Berturut-turut pada tahun 1956 Tarakan merupakan sebuah kecamatan dalam wilayah kabupaten Bulungan provinsi Kalimantan Timur. Letak dan posisi yang strategis telah mampu menjadikan kecamatan Tarakan sebagai salah satu sentra industri di wilayah Provinsi Kalimantan Timur bagian utara sehingga pemerintah perlu untuk meningkatkan statusnya menjadi Kota Administratif dibawah kabupaten Bulungan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1981. Status Kota Administratif kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-undang RI No. 29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 15 Desember 1997. Tarakan menjadi Daerah Otonom ke 7 di Provinsi Kal-Tim. Tanggal 15 Desember 1997 pun diperingati sebagai Hari Jadi Kota Tarakan. 
    • Seiring dengan perkembangan zaman dan disertai proses yang panjang. Sejak tahun 2012, Kota Tarakan merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Utara, seiring dengan pemekaran provinsi baru tersebut dari Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kaltara. Dan pada 22 April 2013, sesuai dengan Keputusan presiden (Keppres) Republik Indonesia (RI) Nomor 48/2013, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) atas nama Presiden RI saat itu melantik H. Iranto Lambrie sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Kaltara yang setelah itu menandatangani prasasti peresmian Provinsi Kaltara dengan cakupan wilayahnya terdiri dari 4 kabupaten (Nunukan, Tana Tidung, Bulungan dan Malinau), serta satu Kota Madya, yaitu Kota Tarakan.
Tarakan jaman now




Sumber-sumber refrensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tarakan
http://www.getborneo.com/kota-tarakan-kalimantan-utara/ 
http://risky-nurul.blogspot.com/2012/03/asal-usul-kota-tarakan.html
https://www.plukme.com/post/1522247141-runtuhnya-kerajaan-tidung 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Timur
http://kaltara.prokal.co/read/news/18466-begini-loh-asal-usul-terbentuknya-provinsi-kaltara.html

3 comments:

  1. Orang tarakan asli tapi baru tau skrng sejarah tarakan, makasih banyak writer karna anda saya jadi tau sejarah tempat kelahiran saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah,
      terimakasih kembali sudah mau berkunjung di blog saya.

      gabung dengan Komunitas Pecinta Sejarah di Tarakan utk mengetahui hal2 mengenai Tarakan.. :)

      Delete
  2. di tarakan itu ada desa karang anyar kah,kak?

    ReplyDelete