Thursday, September 13, 2018

Cerita di Pulau dan Kota Tarakan : Bumi Paguntaka

Tarakan, sebuah Pulau dan sekaligus satu-satunya Kota yang ada di Provinsi Kalimantan Utara, provinsi termuda di Indonesia. Dirotasikan ke Tarakan sudah saya dengar melalui percakapan dengan atasan tempat saya kerja beberapa waktu yang lalu untuk melebarkan sayap bisnis kantornya. Tidak begitu kaget, apalagi bingung, karena sebelumnya saya sudah pernah mengunjungi kota ini tahun lalu, ala-ala backpacker gitu deh. Gambaran kota Tarakan secara umum sudah saya dapati saat ke sini sebelumnya. Jadi sudah siap -insya Allah- lahir batin ketika akan dirotasi ke sini. Setelah disepakati waktunya, saya dan istri berangkat dari Balikpapan menuju Tarakan. 

Tentang Tarakan
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Tarakan merupakan satu-satunya Kotamadya yang ada di Provinsi Kalimantan Utara. Tanjung Selor yang merupakan ibukota Provinsi saja belum menjadi Kota seperti ibukota-ibukota provinsi lainnya di Indonesia. Meski bukan sebagai ibukota provinsi, namun di Kota Tarakan terlihat lebih "sibuk" daripada ibukota Provinsi. Bandar Udara dan Pelabuhan Internasional ada di sini. Karena letaknya yang strategis ini membuat kota Tarakan banyak terdapat tempat-tempat penting. Beberapa BUMN juga membuka kantor representatifnya di Kota Tarakan ini.
Kalimantan Utara dan Tarakan
Secara garis besar, Tarakan mengingatkan saya akan kampung halaman di Ranai - Natuna. Luas pulaunya hampir sama. Penduduknya dengan budaya pesisir juga hampir sama, budaya dan suku juga hampir sama, Tarakan yang didiami suku asli Tidung memiliki budaya yang hampir sama dengan budaya melayu dengan budaya yang tak jauh beda. Yang bikin beda adalah Tarakan memiliki beberapa perusahaan-perusahaan besar, baik tambang, minyak, sawit dan pelayaran. Sementara Natuna, tidak.

Penduduk Tarakan sangat beragam, dari Tidung sebagai suku asli, lalu ada pula Tionghoa, Bugis, Dayak, Banjar, Toraja, Jawa dan Minang, dan lain-lain. Dari beragam penduduk, beragam pula kepercayaan yang ada di Kota dengan semboyan BAIS (Bersih, Aman, Indah, Sehat, Sejahtera) ini. Islam adalah agama mayoritas, kemudian ada Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, dan lainnya.

Ohya, letak Pulau Tarakan yang berada di bagian utara pulau Kalimantan ini, menjadikannya dekat dengan Negara bagian Sabah Malaysia. Tak heran banyak produk-produk makanan-minuman bahkan produk-produk industri Malaysia yang dijual di pualu tempat bertemunya 3 sungai (Kayan, Sesayap, dan Malinau) ini. 

Pulau kecil ini hanya memiliki satu "teman", yaitu Pulau Sadau yang berada disisi barat pulau. Di sebelah selatan, utara dan barat, Tarakan berbatasan dengan Kabupaten Bulungan. Sementara laut Sulawesi membentang di sebelah timur pulaunya.

Biaya Hidup
Untuk biaya hidup, Tarakan memang berada sedikit di atas Balikpapan. Letak yang jauh mungkin menjadi penyebab akan tingginya harga-harga. Biaya makan dan nongkrong di cafe juga boleh dibilang agak mahal. Ayam penyet / lalapan berkisar 25.000 rupiah. Sekali makan berkisar 25.000 - 50.000 rupiah per orang. Namun karena sekarang saya sudah beristri, jadi bisa dimasakin istri saja dengan hanya membeli bahan di pasar.
Ngopi pa, ngopi!

Yang langka disini adalah gas 3 kg (tabung melon), sangat langka dan berefek jadi mahal. Satu tabung isi ulang berharga 40.000 rupiah. Saya tidak mengerti mengapa di sini gas malah langka. Daerah penghasil kadang-kadang emang gitu. Yang saya tahu ada beberapa perusahaan migas disini, seperti Pertamina, Medco, dan MKI. Kemudian, harga yang bervariasi untuk produk-produk dari Malaysia, tergantung tempat dan cara menawarnya saja.

Panas dan Sepi
Yap, cuaca disini sangat panas. Diam saja kita akan berkeringat. Apakah khas kota minyak itu seperti ini ya? bercuaca panas nan menyengat. Alhasil, setidaknya kamu harus memiliki 1 kipas angin di tempat tinggal untuk meminimalisir gerah di badan.

Sepi, wajar. Namanya juga perantau yang mendiami tempat baru. Namun alhamdulillah bagi saya, karena beberapa rekan kuliah dan alumni kampus ada di sini. Dan, ada oom saya juga, asli Natuna. Beliau bekerja di BUMN dan ditugaskan di Tarakan. Yeay. Tuntutan pekerjaan saya yang mengharuskan bertemu banyak orang juga bisa menutupi rasa sepi ini. Namun saya tetap memiliki misi. Misi-misi yang selalu saya lakukan ketika menempati tempat baru : mencari komunitas-komunitas.

Wisata
Rumah Adat Baloy.

Meskipun hanya pulau kecil, bukan berarti Tarakan tak memiliki tempat-tempat wisata. Ada berbagai jenis wisata yang tersedia di Tarakan, mulai dari wisata alam, wisata religi, wisata edukasi hingga wisata sejarah. Ada Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan di tengah kota serta pantai Amal di sisi timur pulau. Wisata religi terdapat di Islamic Center yang merupakan Islamic Center terbesar di Kal-Tara. Beberapa museum melengkapi wisata edukasi seperti museum flora dan fauna, museum sejarah, dan rumah adat baloy. Sementara wisata sejarah sangat banyak ditemui di Tarakan. Dahulu Tarakan merupakan tempat strategis karena memiliki cadangan migas yang banyak sehingga menjadi sasaran para penjajah untun menguasai sang minyak hitam. Tarakan bahkan menjadi saksi bisu perang pasific dan banyak peninggalan-peninggalan bersejarah di pulau ini, seperti bunker, senjata-senjata perang hingga tugu peringatan.

-------

Yap, seperti itu lah cerita saya selama kurang lebih 2 bulan di Tarakan. Masih banyak hal lagi yang akan saya telusuri di Tarakan ini. Tunggu -insya Allah- postingan-postingan berikutnya ya. Mantap.




Sumber refrensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tarakan

1 comment: