Saturday, March 23, 2019

Menelusuri Jejak-Jejak Perang Dunia II di Situs Juata Laut, Tarakan

Meskipun tidak terlalu luas (sekitar 657,33 km persegi), namun pulau Tarakan tidak akan habis jika kita ingin mengeksplornya dalam waktu singkat. Saya yang sudah beberapa bulan tinggal di pulau kecil di Kalimantan Utara ini saja masih banyak tempat yang belum dikunjungi. Tarakan, selain dikenal dengan kota industri, juga diketahui memiliki banyak peninggalan bersejarah, sisa-sisa penjajah dan perang dunia kedua puluhan tahun tahun lalu. Maklum, pulau mungil yang menyimpan kekayaan alam ini menjadi salah satu basis pertahanan Jepang saat perang dunia berlangsung.

Beberapa peninggalan masih bisa kita lihat utuh pada tempatnya, sambil berimajinasi membayangkan fungsinya peninggalan-peninggalan tersebut saat masih bisa digunakan. Sebagian lagi banyak yang sudah berpindah tempat, tidak utuh, atau hilang tanpa jejak. Dokumentasi-dokumentasi lawas saja yang bisa membuktikan eksistensinya.

Letak pulau Tarakan yang strategis, serta memiliki kontur berbukit-bukit yang berada disisi-sisi pulau membuat Tarakan menjadi area strategis untuk membuat pangkalan perang dan basis pertahanan. Sejauh ini setidaknya ada dua situs peninggalan perang (yang baru ditemukan) yang ada di dua tempat berbeda di Tarakan, yang pertama adalah Situs Peningki Laid / Peningki Lama yang sudah saya tulis beberapa waktu lalu, dan satunya lagi adalah Situs Juata Laut yang berada di sebelah utara pulau ini. Saya mengetahui adanya situs bersejarah ini adalah ketika berkunjung ke Museum Sejarah Tarakan, disana dipajang miniatur situs berskala 1 : 300. Penasaran akan hal ini, saya gugling mencari tahu, sayangnya belum banyak informasi mengenai tempat ini. Hingga akhirnya saya memutuskan kesana dengan ditemani rekan kerja.

Situs Juata Laut merupakan kumpulan sisa-sisa bunker pertahanan dan logistik era perang dunia ke II yang digunakan Belanda sebagai basis pertahanan mereka dari laut dan udara atas objek vital yang ada di Tarakan. Hampir sama dengan situs Peningki Lama, yang membedakannya adalah lokasi situs Juata Laut sudah bercampur dengan perumahan penduduk setempat. Hingga untuk menemukannya susah-susah gampang, harus aktif bertanya pada warga setempat untuk menemukan situs-situs ini. Ada yang terletak disamping salon, di belakang masjid, hingga di tepi jalan. Lokasinya terletak di bagian utara Pulau Tarakan, butuh waktu sekitar 15 - 30 menit berkendara menuju tempat ini.
Lokasi Situs Juata Laut
Situs yang dibangun pada tahun 1930an ini tersebar di beberapa titik di Juata Laut, mengeksplornya saya rekomendasikan untuk menggunakan sepeda atau kendaraan roda dua karena letaknya yang berjauhan, dan jangan lupa membawa perlatan "perang" melawan nyamuk dan serangga lainnya yak. Saya kesana bersama dengan kerja yang kebetulan juga ingin mengeksplor berbagai tempat di pulau ini. Perjalanan dari kota kami mulai setelah ashar, menyusuri jalan utama yang melintasi berbagai tempat hingga akhirnya sampai ke Juata Laut.

Lokasi pertama yang kami datangi adalah bunker perlindungan yang terletak di belakang rumah salah seorang warga -lokasi-. Kami memasuki area tersebut setelah memarkirkan motor di tepi jalan. Area bunker ini tidaklah terlalu luas, sekitar 40 - 50 meter persegi saja, sedangkan bunkernya sendiri berukuran sekitar 4 x 7 meter. Terbuat dari batu semen tebal yang sangat sulit untuk dirobohkan. Bunker ini berfungsi sebagai tempat perlindungan dan pertahanan yang digunakan oleh Belanda saat perang di Tarakan berkecamuk. Saya mencoba masuk melihat isi dalam bunker ini, tidak terlalu luas, mungkin bisa muat 15 -  20 orang di dalamya. Pengap dan panas, itu yang saya rasakan ketika masuk ke bunker ini. Dan mencekam jika membayangkan berada disini saat masa perang dulu ya, hmmmm.
Bunker perlindungan - Situs Juata Laut
Tak jauh dari bunker tersebut, sekitar 50 meter, di sisi kanan jalan masih berdiri kokoh bangunan yang hampir mirip dengan bangunan sebelumnya, hanya saja bangunan ini sedikit lebih besar. Menurut artikel yang saya baca, ini dulunya merupakan gardu listrik -lokasi-. Bangunannya masih berdiri kokoh hingga saat ini. Sekarang, di dalamnya dimanfaatkan warga sebagai gudang penyimpanan barang. Sekitar 30 meter dari gardu listrik terdapat satu bunker yang letaknya persis di tepi jalan -lokasi-. Saat ini lokasinya sudah sedikit "tenggelam" karena terkena proses peninggian badan jalan oleh pemerintah. Bunker yang satu ini merupakan bunker logistik yang digunakan oleh para tentara Belanda. Tak jauh dari bunker terakhir, menurut yang saya lihat di miniatur yang ada di museum Sejarah Tarakan, seharusnya ada satu bunker lagi yang terletak di seberang bunker logistik ini, namun sudah tidak kami temuka lagi, barangkali rusak atau hancur, mungkin juga hilang. Hmmmm.
Gardu Listrik dan Buner Logistik - Situs Juata Laut
Situs berikutnya adalah meriam, yang merupakan senjata pertahanan yang digunakan oleh tentara Belanda. Meriam ini terletak tepat di sudut belakang sebuah masjid yang ada di pinggir jalan. Tak jauh dari bunker logistik tadi. Yang paling terlihat jelas adalah mocong dari meriam sepanjang kurang lebih satu meter yang tepat mengarah ke masjid -lokasi-. Sedangkan sisanya kemungkinan tertimbun tanah. Eksplorasi kami masih berlanjut, lokasi berikutnya tak jauh dari simpang masuk PT. Inhutani, terdapat bunker bulat dengan senjata di atasnya -lokasi-. Lokasi ini tidak ada dalam miniatur yang terdapat di museum. Saya berasumsi bunker dan senjata ini awalnya berada di bukit yang terletak tak jauh dari lokasi sekarang namun kemudian dipindahkan, mengingat bukitnya sudah dikeruk. Dibekas kerukan bukit ini juga terdapat satu buah bunker yang sudah rusak.
Meriam di dekat masjid, bunker dengan senjata, dan bunker yang telah rusak - Situs Juata Laut

Lokasi berikutnya adalah bunker perlindungan. Letaknya agak jauh dari jalan jalan raya, tak seperti lokasi-lokasi bunker yang lain. Kita harus banyak-banyak bertanya pada warga sekitar untuk menemukan bunker ini -lokasi-. Bunker ini sepertinya memiliki fungsi yang sama seperti bunker pertama tadi, yaitu sebagai tempat perlindungan dan pertahanan para tentara, atau area berlindung bagi warga. Bagian dalamnya hanya berukuran kurang lebih 3x3 meter saja, saya hanya sebentar memberanikan diri untuk masuk kedalamnya, berhubung hari sudah gelap dan aura agak-agak gimana gitu. Setelah dari sini, perjalanan masih berlanjut ke situs berikutnya yaitu bunker logistik yang dekat dengan pantai, -lokasi-nya berada tepat di sebelah pagar sebuah perusahaan, ini merupakan bunker paling "naas" menurut saya, karena dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Lalu situs yang terakhir adalah gudang ransum, -lokasi-nya terletak dikeramaian dan sangat mudah untuk ditemukan, bahkan ia diapit oleh rumah-rumah warga sehinga terkadang kita tidak menyadari bahwa itu merupakan situs bersejarah. 
Bunker-bunker perlindungan - Situs Juata Laut
Setelah menelusuri beberapa situs yang ada di Juata Laut ini kami beristirahat sebentar, lalu lanjut pulang karena mentari juga udah akan beristirahat. Sebenarnya ada beberapa lokasi lagi di area ini yang belum kami kunjungi berdasarkan miniatur yang saya lihat di museum. Diantaranya adalah beberapa meriam yang ada di bukit dan pantai, lalu bunker-bunker kecil lainnya yang tersebar di beberapa lokasi. Maybe next time saya akan kembali mengeksplor lokasi-lokasi bersejarah ini. Hanya saja yang membuat saya sedikit terkedjoet adalah tidak dirawatnya beberapa situs ini bahkan seakan dibiarkan begitu saja, sehingga (maaf) ada yang jadi tempat pembuangan sampah. Beberapa situs lain ada yang diberi pagar, pun juga terlihat seperti tanpa perawatan. Padahal ini memiliki nilai sejarah yang tinggi hingga bisa dipelajari dan bahkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi Pulau Tarakan. Semoga kedepannya situs-situs ini mendapat perhatian dari pihak terkait, serta didukung oleh masyarakat sehingga situs-situs ini tetap lestari adanya. 

JAS MERAH!


10 comments:

  1. Saya sampai google dimana itu Tarakan, mungkin di awal tulisan bisa ditambahkan keterangan tempat sedikit. Sayang yah terlantar kayaknya, mungkin karena pengunjung sepi jadi tidak diperdulikan. Wisatawan lebih suka dengan wisata instagrammable

    ReplyDelete
    Replies
    1. trims usulannya kak.
      akan segera diperbaiki.. hhe

      Delete
  2. Wah jauh mainnya kak, hehe. tapi seru sepertinya kecil pulaunya tapi banyak spot seru.

    ReplyDelete
  3. Sering dengar nama Tarakan tapi belum sempat mengunjungi tempat ini. Banyak banget titik peninggalan sejarahnya, sayang terbuat begitu saja bahkan jadi tempat pembuangan sampah.

    ReplyDelete
  4. Baru Ngerti ada situs ini dan baru tahu kalau Tarakan adalah kota industri. Thanks, sharingnya mas.

    ReplyDelete
  5. Situs2 sejarah seperti ini memang harus dipelihara ya ...bisa jadi wisata sejarah juga

    ReplyDelete
  6. Banyak teman2 di Tarakan tapi ga pernah cerita mengenai situs Juata laut ini.

    Kok saya mendadak sedih ya, situs-situs ini dibiarkan terbengkalai. :(

    ReplyDelete
  7. Saya ada teman di tarakan tapi gak tau kalau itu pulau hahaha ya ampyun maafkan mamak. terimakasih sharing nya mas jadi nambah banyak pengetahuan

    ReplyDelete
  8. Wahh tulisan bermanfaat nih, baca ini aku jadi banyak tau tentang Tarakan, Sebelumnya nggak tau sama sekali.

    ReplyDelete