Friday, May 31, 2019

Tarakan Tempo Doeloe : Komunitas, Keluarga, dan Sebuah Jejak (2)

20 April 2019, Tarakan Tempo Doeloe : Komunitas Pecinta Sejarah Tarakan
Malam itu di Kopi Pagun. Saya datang sehabis isya, disana sudah ada bang Sandi, lalu disusul oleh Rilo. Tak lama beberapa rekan-rekan lain datang. Ada tiga orang setelah kami saat itu, yaitu Nina, Risal dan bang Steven. Mereka bertiga adalah mahasiswa STMIK PPKIA Tarakan. Nina berkecimpung di HMI, mungkin itu yang pertemukan ia dengan Rilo, sedangkan Risal adalah teman Nina, dan bang Steven adalah senior Nina di UKM Pers kampus tersebut. Bang Dapun datang menyusul.

Pertama adalah perkenalan lalu dilanjut dengan obrolan-obrolan ringan. Bang Sandi ijin pamit, karena ada beberapa hal yang dia akan lakukan. Bang Sandi adalah pengusaha produk kreatif lokal yang sudah dijual kemana-mana, diantara nya adalah beras organik, garam gunung dan kopi pagun, semua adalah produk asli Kalimantan Utara yang ia promosikan lewat lewat D'Baloy Industry nya.
Kopdar pertama, 20 April 2019 @Kopi Pagun
Lalu inti dari kopdar (kopi darat) ini disampaikan : pembentukan Komunitas Pecinta Sejarah Tarakan. Setelah konsep-konsep awal Saya paparkan, akhirnya sambung bersambung dengan respon yang lain. Alhamdulillah bersambut baik. Wah, sudah lama tak berdiskusi asyik seperti ini. Serasa nostalgia. Tak lama setelah berdiskusi kami pulang dan mengatur pertemuan berikutnya. Saya sendiri tak terlalu dengan semangat menggebu lagi, karena waktu saya di Tarakan tinggal sebulan lagi, bulan depan saya akan pulang kampung. Namun konsep-konsep tentang pendirian komunitas ini sudah sepenuhnya saya transferkan, minimal kepada mereka yang tadi ikut mengumpul.
"Kopdar pertama tadi selanjutnya ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Tarakan Tempo Doeloe : Komunitas Pecinta Sejarah Tarakan."

Serangan Dadakan
Setelah pulang, grup WA dibuat berisikan orang-orang yang berkumpul tadi. Dan oleh bang Dapun, menggunakan konkesinya yang luar biasa banyak, ia membagikan link grup ini di facebook dan berbagai media sosial, hingga bejibunlah member yang join via klik link. Hal tersebut disetujui juga oleh yang lain. Biarkan saja masuk kedalam grup, nanti akan terseleksi dengan sendiri nya mana yang benar-benar tertarik mana yang tidak. Begitu papar Steven. Dari 8 member awal, setelah link dibagikan oleh Dapun, melesat jadi puluhan, lalu seratusan. Beragam diskusi tentang sejarah mengisi laman grup. Ada juga yang baru join langsung jualan, prriit! Kartu kuning!

Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya diatur untuk kopdar kedua. Kali ini bertempat di Gerobak Kopi Juang. Bahasannya adalah perumusan garis besar program kerja dan kepengurusan awal. Ada saya, Rilo, Steven dan Bang Dapun, dengan dua orang tambahan yang datang adalah bang Che, beliau adalah figur aktivis pemuda di Tarakan dan juga Koordinator OI (Orang Indonesia ; fanbase Iwan Fals) di Tarakan. Dan yang kedua adalah Linda, teman Steven dan juga anggota Komunitas Bebas Sampah Tarakan. 
Kopdar kedua, inisiator + bang Che
Garis besar program kerja Komunitas ini adalah revitalisasi situs-sejarah yang ada di Tarakan, mencari situs-situs yang "hilang", mengedukasi warga tentang situs-situs tersebut, sehingga jadi tempat wisata baru yang akhirnya (semoga, Insya Allah) meningkatkan ekonomi lokal. Juga dalam progran kerja ini Komunitas TTD membuka pintu lebar-lebar untuk mempersilahkan komunitas, lembaga, dan perkumpulan-perkumpulan terkait untuk ikut serta, sinergi dan kerjasama. Bukankah dengan bersama-sama segala sesuatu jadi ringan dan mudah, kan?

Disini juga disepakati kepengurusan awal dengan Rilo sebagai Koordinator dan Nina (meski ia tak datang) sebagai sekjend. Sementara program pertama dari hasil diskusi ini adalah bersih-bersih situs Juwata Laut.

Antusiasme, Program Kerja Pertama
Di grup WA seliweran diskusi-diskusi kecil mengenai sejarah Tarakan. Saat ini member berasal dari berbagai kalangan, mahasiswa, pelajar, dosen, PNS, pengusaha, karyawan, semua bercampur disini dengan satu ketertarikan : sejarah. 
Mendapat kesempatan untuk mempromosikan TTD kepada mahasiswa UBT di museum Sejarah Tarakan
Yang baru masuk dengan semangat menggebu langsung menanyakan kapan kumpul. Dan ada juga yang masuk langsung jualan (lagi). Priiit! Kartu kuning lagi!

Kopdar ketiga bertempat di Kafe Fortune, kali ini saya datang agak telat karena ada acara lain. Kopdar kali ini terasa berbeda dengan banyaknya wajah-wajah baru yang ikut. Selain saya, bang Steven, bang Dapun, dan Rilo, ada juga pak Hery, pak Eko Walet, Tirka, Koko Novan, dan Rivan. Setelah perkenalan diri dan penjelasan singkat asal usul komunitas ini. Pembicaraan langsung kepada program kerja pertama yaitu bersih-bersih di situs Juwata Laut. Banyaknya wajah baru berbanding lurus dengan ide-ide dan masukan-masukan yang fresh untuk komunitas yang new born ini.
Kopdar #3 @Kedai Fortune
Pembagian tugas masing-masing dilakukan saat itu, ada yang mengajukan diri, ada pula yang ditunjuk dan menerima dengan senang hati. Ada juga yang menawarkan untuk mendatangkan media agar meliput. Waw, ntap bingit! Dan lagi-lagi saya tidak banyak ikut terlibat, tepatnya memilih untuk tidak banyak ikut terlibat dikarenakan waktu tinggal di Tarakan tak lama lagi. Biarlah teman-teman yang mengkonsep dan menggerak-lanjutkan ini setelah nanti saya pergi. 
Kopdar #4 @Kedai Kawan Lama
Kopdar keempat bertempat di Kedai Kawan Lama, agendanya kali ini adalah laporan akhir sebelum pelaksanaan kegiatan. Dan wajah-wajah baru semakin banyak terlihat. Hampir 15 orang yang datang kali ini. Selain kami berempat, saya, bang Steven, bang Dapun dan Rilo, ada lagi Pak Eko Walet si Kontraktor, Pak Hery sang pengusaha property, Rivan, bang Fadly "Abah Atul" si "penguasa" Museum Sejarah Tarakan, bang Arunk si pengembara, Pak Arief dan pak Branco dari KOSTI Tarakan, Tomy, Eko, Rocy, dan lain lain, lain lain. Semakin bertambah ide-ide dan masukan-masukan baru untuk komunitas ini. Bertambah pula keluarga ku.

Dari kopdar ini lah, saya ketahui bahwa komunitas ini telah lama "ditunggu-tunggu" lahirnya. Setidaknya begitu kata bang Fadly "Abah Atul". Sebab pernah ada komunitas serupa namun tak berjalan. Para Pecinta Sejarah di Tarakan pun hanya bisa menyalurkan hobby-hobby mereka lewat grup di facebook saja.

First Event
Kegiatan pertama, 11 mei, bersih-bersih situs Juata Laut. Alhamdulillah berhasil dilaksanakan. Banyaknya peserta yang berpartisipasi di luar dugaan. Ramai, semangat, antusias. Ragam apresiasi dan dukungan didapat oleh TTD (Tarakan Tempo Doeloe). Liputan dari TVKU (TV Kalimantan Utara) juga makin menambah semangat rekan-rekan yang lain. Akun instagram @visi.muda merepost postingan kami difeed instagramnya. Radar Tarakan juga memasukkan kegiatan ini dalam rubrik khusus yang memuat setengah halaman di korannya mengenai kegiatan ini. Best!
Narsis dulu setelah kerja. Huiifht

Maaaak, anak mak mashoook tipiiii.
Setelah kegiatan selesai, kami masih tetap kopdar, evaluasi dan menyiapkan sedikit agenda lagi kedepan. Nama-nama baru kembali muncul dalam kumpul-kumpul kali seterusnya, ada Awie Baba sang mekanik, pak Dr. Ilham sang Dosen dan lain lain. Eksisnya TTD memberikan warna baru bagi perkumpulan dan komunitas di Tarakan. Akun IG @trk_doeloe juga bertahap bertambah followersnya. Dan Alhamdulillah saya masih bisa menyaksikan keberhasilan kecil ini. 

Begitupun grup WA, banyak member baru yang join. Beberapa aktif sharing dan bertukar ilmu dan pengalaman. Terlihat akrab meski diantaranya ada yang belum pernah bertemu dalam kopdar. Namun aktif memberi masukan dan nimbrung di WA grup.

Agenda Kedua, Sebuah Penghargaan
Kopdar-kopdar berikutnya masih sering dilakukan setelah agenda pertama. Bagus juga, sering-sering ngumpul biar chemistrynya dapat, makin akrab. Bahasan saat kopdar adalah seputaran evaluasi kegiatan kemarin, program-program kerja, dan agenda terdekat. Ternyata rekan-rekan masih sempat untuk melaksanakan satu agenda kecil nan sederhana lagi. Untuk perpisahan dengan bang Naldo, begitu kata bang Steven. 
Agenda kedua : Kumpul Bareng KTTD
Agenda kedua ini adalah semacam sharing tentang sejarah dengan veteran perang dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Tarakan, teatrikal dari UKM Seni Budaya UBT dan pameran foto-foto jadoel Tarakan dari Museum Sejarah dan KOSTI Tarakan. Alhamdulillah juga berjalan dengan lancar. Acaranya bertempat di Taman Berkampung depan Museum Sejarah Tarakan. Sore hari menjelang berbuka, lumayan sambil ngabuburit kan?
Orasi! :D
Saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata disini. Agak canggung. Karena terakhir kali berbicara di depan orang ramai sudah beberapa tahun yang lalu. Yah, gini-gini juga mantan aktivis. Apresiasi akan acara ini kembali didapat, terutama dari pak Sukarno, salah seorang narasumber acara tadi yang merupakan anggota LVRI Tarakan.

Keluarga, Jejak, Pulang : Perpisahan
Acara kedua tadi berlangsung pada tanggal 18 mei, 4 hari sebelum saya berangkat meninggalkan Tarakan. Setelah acara tersebut kami masih mengadakan kopdar, ngobrol ringan saja. Karena sudah sepakat belum akan ada event lagi hingga lebaran, istirahat dulu. Bahasannya seputaran kepengurusan, sekretariat dan program-program kerja setelah lebaran. Sambil meentukan kopdar-kopdar selanjutnya.
Kiri - kanan : Rilo, Koko Novan, Tomi, Rivan, Arunk, Dapun, Naldo, Abah Atul, dalam kopdar malam terakhir, ada calon ketua disitu 😁
Kopdar tanggal 21 mei itu sangat emosional, kopdar yang dianggap sebagai perpisahan oleh rekan-rekan TTD yang lain. Saya diberi beragam cendramata oleh beberapa rekan. Terharu sekali, jarang-jarang diginiin 😢. 

Tanggal 22 mei 2019, bandara internasional Juwata Tarakan. Setelah diantarkan seorang teman ke bandara, saya langsung melakukan check in, memasukkan barang ke bagasi agar tak banyak tentengan. Lalu lanjut menunggu di luar. Tak lama satu persatu rekan-rekan TTD datang. This is the last day, saya diantar oleh beberapa rekan ini yang lain berhalangan karena memiliki kesibukan masing-masing, namun sudah cukup mewakili. Ini, sebuah perpisahan sederhana namun sarat makna.
diantar teman-teman KTTD
Para Pendiri.


-------
Terimakasih banyak ku haturkan. Teruskan perjuangan. Sedikit harap agar sedikit jejak ini tetap berjalan. 
Bersama, merawat apa yang ditelah diwariskan. Menjaga yang sudah ditinggalkan. Pelajari agar tak terlewatkan. 
Sehingga generasi kedepan masih bisa jadikannya bahan pelajaran. Serta masih bisa kita ceritakan. Lanjutkan.
Hanya sebuah jejak. Tak bisa lagi ku berbuat banyak. Sebatas mampuku, ku berusaha tuk lakukan dengan layak.
Yang tertinggal, janganlah ditinggal. Pegang erat jangan sampai tanggal. 
Yang dimulai, dijaga jangan sampai lalai. Taruh-letak dengan sesuai. Agar apresiasi baik tertuai.  
Terimakasih, untuk tetap melanjutkan.



Tenggarong, 31 Mei 2019 






 

2 comments:

  1. Terharu....🙁

    By Arhunk sang petualang

    ReplyDelete
  2. Sejarah yang mengajarkan jasa pahlawan kita indonesia

    ReplyDelete